Sore (23/2)
itu, kegiatan Aleut! Kembali dilakukan di hari Sabtu. Ya ini karena pada hari
Ahad esoknya digelar pesta demokrasi yakni pemilihan Gubernur Jawa Barat
sehingga tidak diperkenankan diadakannya kegiatan yang mencolok. Mengingat
jumlah aleutian setiap pekannya bisa mencapai 30 hingga bahkan 80 orang maka
digeserlah kegiatan kita sore itu.
Kali
ini sesi ngaleut sedikit romantis. Ya, kita akan melihat kota Bandung dari
perbukitan. Diinfokan untuk berkumpul di markas Aluet! Pada pukul 15.30 dengan
tujuan kali ini adalah Dago Pakar. Ya, salah satu daerah tinggi di Bandung
adalah kawasan Dago ini. Akhirnya sekitar jam 16.20 kita melakukan sesi
perkenalan yang selalu menjadi pembuka kegiatan ngaleut.

Setelah
perkenalan sebentar, kita kemudian diarahkan untuk naik angkot dan berkumpul di
terminal dago. Ini agak berbeda karena biasanya akan dicharter sebuah angkot untuk menuju titik pertama. Pertimbangannya mungkin
karena akses angkot  tergolong mudah dari
jl.Sumur Bandung ke dago. Akhirnya setelah berkumpul di depan terminal dago,
dimulailah perjalanan ngaleut kita.
See..lahan hijau berubah jadi pemukiman
ada kata Dago. Namun kini ada yang mengartikan Dago sebagai “menunggu”. Menurut
salah satu sumber kata Dago ini punya cerita sendiri. Kemunculannya terkait
dengan kondisi Dago di zaman dulu. Dulunya  hingga akhir 1800-an daerah dari Simpang dago
hingga dago pakar adalah hutan yang sangat lebat yang bahkan dikatakan bahwa
hanya jurig (hantu) yang berani lewat. Meskipun saat itu Dago masih berupa
hutan lebat, sudah ada perkampungan di daerah tersebut. Kampung tersebut ada
karena dilintasi oleh jalan tradisional sejak zaman kerajaan. Nah, orang-orang
kampung ini akan “Padago-dago” diterjemahkan sebagai saling tunggu-tungguan
untuk pulang bersama-sama menyusuri hutan Dago setelah menyelesaikan keperluan
mereka di daerah kota Bandung. 
Sebelumnya
kita sharing pengetahuan terkait daerah Dago. Sebenarnya dalam bahasa Sunda
tidak
Selain itu,
diceritakan tentang keberadaan dua prasasti  yang di buat oleh Raja Thailand di lereng
tebing dekat Curug Dago. Prasasti pertama adalah dari Raja Chulalongkorn atau
Rama V (1853-1910) dengan angka tahun Thailand yang sama dengan 1902 M. Awalnya
prasasti ini tidak diketahui keberadaannya. Namun ada sebuah sumber yang
menceritakan bahwa saat datang ke Bandung Raja Rama V yang menginad di hotel
Homann sering menghilang ditengah malam. Ternyata kemudian diketahui bahwa
menghilangnya Raja tersebut terkait dengan ritual yang ia lakukan di lereng
tersebut. Ada desas desus itu karena ia mendapat penglihatan bahwa ada arwah
gajah putih di sana namun ada juga yang berkata bahwa itu adalah hubungannya
dengan kesakralan hutan Dago pada saat itu. Terlepas dari alasannya, saat
melakukan ritual inilah Raja Rama V meninggalkan prasasti di tempat tersebut.
http://equatrialresources.blogspot.com/2011/03/curug-dago.html
sumber: http://equatrialresources.blogspot.com/2011/03/curug-dago.html

Apa yang
dilakukan Raja Rama V ini awalnya tidak diketahui sampai akhirnya ia ceritakan
ke keterununnya yang kemudian menyusuri jejak cerita ini 27 tahun kemudian.
Saat itulah prasasti kedua dibuat. Prasasti kedua ini dibuat oleh Raja Rama VII
dengan angka tahun sama dengan 1929 M.  Dan
sampai saat ini kedua prasasti tersebut masih ada. Namun tidak kami kunjungi
karena keterbatasan waktu dan pencahyaan.