Setelah
berbagi cerita di terminal dago akhirnya Aleutian pun mulai perjalanan yang
cukup berat yakni berjalan kaki menyusuri dago hingga akhirnya berakhir di
Bukit Bintang. Saat sampai di Bukit Bintang ada keterkejutan pribadi saat
diberi tahu bahwa “Tria, ini bukit bintang”. Karena sejak awal kedatanganku di
Bandung selalu terbetik perasaan untuk mengunjungi tempat ini. Karena pernah
membaca sebuah novel yang menjadikan Bukit Bintang sebagai setting tempat
cerita. Bahkan ada yang berkata bahwa titik tertinggi di daerah Dago adalah
Bukit Bintang.

 Namun romantisme yang terimajinasikan olehku harus dibayar dengan kekecewaan. Sempat terbesit kalimat “Begini jie ternyata..”[1]
Tapi saat diceritakan bahwa dulu sebelum polusi kian tebal, pemandangan kota
Bandung memang sangat indah di tempat ini. Bak dua langit yang hadir bertabur
bintang, langit sesungguhnya dan daratan yang dipenuhi lampu-lampu. Dan sekali
lagi ada penyesalan karena tak bisa melihat langsung keindahan itu.
Lihat gedung putih di sisi kiri.
Ada beberapa
pemandangan yang mencolok saat berada di Bukit Bintang ini yakni kehadiran
sebuah gedung tinggi yang tengah dibangun. Dia bak sebuah tokoh yang jumawa
karena menjadi satu-satunya gedung tinggi di daerah tersebut. Namun sejujurnya
di mata Aleutian kehadirannya merusak pemandangan apalagi disekitarnya masih
terdapat daerah-daerah hijau.
Nah
mari coba menelusuri perubahan wajah Dago ini (berdasarkan keterangan Bang
Ridwan Hutagalung):
·        
Hingga akhir 1800-an diceritakan bahwa Dago
masih berupa hutan yang lebat dan angker
·        
Tahun 1900 di bangun sebuah jalan yakni Kidung
Pananjung. Jalan ini dibangun untuk Kebun pembibitan bunga, yang menjadi
pemasok bagi toko bunga (Bloemenhandel) abudantia di Bragaweg (jalan Braga)
·        
 Tahun 1910
dilakukan pembendungan Cikapundung
·        
Tahun 1923 di bangun PLTA baru yakni “Dago
bengkok” . Pembangunan ini mulai mengundang pembangunan perumahan bagi
pegawai-pegawai pemerintah dan dengan ini wilayah Bandung kian menarik menjadi
tempat bermukim
·        
Sedikit info tambahan : pada tahun 1930an (sekitar
1933 – 1934) terjadi Revolusi di Thailand dan pangeran Thailand “dibuang” ke
Bandung yang kemudian bersama pelayan-pelayannya membangung kampung “Bengkok”
(dicurigai berasal dari kata Bangkok).
·        
Dan kini 2013, Pemandangan kota Bandung dari
Bukit Bintang sudah tidak lagi terlihat jelas akibat menebalnya lapisan polusi. 
Langit menggelap saat Bang Ridwan berbagi ilmu
Selain
membahas Dago masa lalu dan masa kini, sempat pula diceritakan tentang Danau
Purba Bandung. Diceritakan dulunya Bandung adalah sebuah Danau luas yang
kemudian mengalami kebocoran dan terkuras. Ditemukannya peradaban manusia purba
diyakini merupakan bagian tepi danau purba tersebut. Maka bisa disimpulkan
dengan ditemukannya berbagai artefak kuno di Daerah Dago Pakar
dan memanjang ke timur hingga
lereng Gunung Manglayang, maka wilayah tersebut boleh jadi adalah bibir Danau
Purba Bandung. Selain itu diceritakan pula bahwa daerah Dayuh Kolot dan Soreang
sebagai titik terendah Danau Purba Bandung (ini mungkin menjadi salah satu
sebab mengapa kedua wilayah ini selalu langganan banjir). Selain masalah Danau
Purba Bandung, dibahas pula mengenai Patahan Lembang. Namun karena tidak begitu
memahaminya maka pembahasan tersebut tidak disertakan di sini
.
Akhirnya setelah dibagikan
banyak ilmu baru, kembali Aleutian berpose bersama sebelum meninggalkan Bukit
Bintang. Gerimis menemani perjalanan pulang yang cukup mendaki. Dan kali ini dicharterlah angkot untuk mengantarkan
Aleutin kembali ke jl. Sumur Bandung untuk sesi sharing yang selalu jadi
penutup kegiatan Ngaleut.
Dan ternyata sesi sharing
kali ini jauh lebih panjang dan “berlimpah ruah ilmu dan kesadaran” daripada sesi
Ngaleut yang cukup singkat hari itu. Kepekaan semua orang terasah. Ada yang
menyoroti tentang ketiadaan tempat sampah di pinggir jalan (mengingat peraturan
utama di Aleut! Adalah “Dilarang buang sampah sembarangan!”). Ada pula yang
menyoroti sikap tidak ramah para pengemudi mobil dan motor terhadap pejalan
kaki. Serta ketiadaan trotoar di sepanjang jalan di Dago Pakar (wahai pemerintah
berikan hak pejalan kaki secara adil)
Selain itu yang cukup menjadi
keprihatinan bersama adalah lahan hijau yang telah habis akibat komersialisasi
lahan di daerah Dago. Bayangkan hanya dalam waktu 100 tahun lahan hijau di
Bandung habis digrogoti oleh pemukiman dan lahan usaha. Dan fenomena ini akan
terus berlanjut jika animo masyarakat untuk berlibur di daerah Dago Pakar dengan
nongkrong di kaffe-kafe atau resto-resto terus berlanjut. Maka hal terkecil
yang bisa dilakukan adalah dengan memiliki kesadaran saat pergi ke
tempat-tempat seperti ini dan memikirkan sejauh apa kita telah berkontribusi
bagi pembabatan hutan di Dago.
Dan kita harusnya malu saat
mengeluh tentang Banjir di musim penghujan. Manusia sendirilah yang menjadi
penyebab utamanya. Dengan berkurangnya lahan hijua yang menjadi daerah resapan
maka air akan terus mengalir dipermukaan tanah dan menyebabkan banjir. Hutan
yang gundul menyebabkan tidak ada lagi akar tanah yang bisa mengikat cadangan
air serta mengikat tanah hingga tidak terjadi longsor. Selain itu tidak adanya
daerah resapan akan menyebabkan kekeringan jika musim kemarau datang. Semua masalah
ini bersumber pada satu hal yakni Hutan yang gundul.
tempat nongkrong yang “membunuh” hutan
Lantas sudahkah kita berbuat
sesuatu? Tidak hanya sekedar ikut menanam pohon. Menanam tidak lebih mudah
merawat. Paling simple yang bisa kita lakukan adalah menghentikan pembangunan
lebih lanjut di daerah hutan yang tersisa. Bagaimana caranya? Dengan menanamkan
kesadaran (dan jika bisa berbagi kesadaran) bahwa dengan menjadikan
tempat-tempat yang dibangun di wilayah hutan atau dibangun dengan membabat
hutan sebagai “tempat nongkrong” berarti kita telah ikut berkontribusi bagi
lenyapnya lahan hijau di Bandung.
Foto:
dokumentasi Pribadi
http://equatrialresources.blogspot.com/2011/03/curug-dago.html

[1] “Oh
hanya begini saja?!” ungkapan anak-anak Makassar untuk sesuatu yang dipikir
istimewa namun ternyata tidak seistimewa yang diharapkan