Setelah singgah sebentar di
Masjid Mungsolkanas rombongan Ngaleut Komunitas Aleut kembali menyusuri pemukiman penduduk menuju Pemandian
Cihampelas. Namun ternyat saya tidak memperhatikan kata “BEKAS” yang disebutkan
sebelum kata “Pemandian”. Karena pembaca, TERNYATA pemandian itu sudah tidak
ada dan digantikan dengan pembangunan sebuah apartemen. ARGH kesal rasanya,
karena jika mendengar cerita orang-orang yang sempat mengunjungi pemandian atau
kolam renang ini, ada sebuah patung Neptunus di pemandian tersebut.  Bahkan kabarnya tahun 1960an kolam renang ini
amat terkenal.
jalan setapak di samping ex-kolam renang

Kami sempat berhenti di jalan
setapak yang tepat berada di sisi daerah konstruksi bangunan apartemen yang
mengambil tempat di bekas tempat Pemandian Cihampelas. Diceritakan bahwa daerah
ini disebut Cimaung karena dulu kabarnya di daerah ini banyak Maung atau
Harimau. Sedangkan ada juga cerita dari Pak Edi bahwa daerah ini disebut
Cimaung karena dulunya daerah ini dipenuhi Bambu dan kabarnya nampang kepala
Maung tergantung di bambu. Selain itu diceritakan pula bahwa massive-nya
pembangunan di daerah sekitar menyebabkan tertutupnya sejumlah mata air yang
dulu ada di sekitar Cihampelas.

Kami kemudian melanjtkan perjalanan.
Sepanjang perjalan saya melihat bahwa di sisi kanan saya adalah semacam tanggul
benteng yang sering kita temukan yang dibangun permanen untuk mencegah erosi.
Namun ternya di sisi kiri saya berjejer rumah-rumah penduduk. Saya
memperhatikan rumah-rumah penduduk ini berada di tempat yang illegal sebab
seharusnya di bantaran kali dan sungai harus berupa lahan kosong. Akhirnya
setelah berjalan cukup lama kami singgah di sebuah lahan kosong di sisi aliran
sungai yang lantainya di beton dan sisi pinggirnya dipasangi semacam rang
nyamuk. Kami kemudian beristirahat sambil mendengar Om Ridwan bercerita.

Ia bercerita bahwa kini telah
dilakukan upaya revitalisasi Sungai Cikapundung. Dibangunnya semacam tebing
tanggul di sisi bawah rumah penduduk yang berada tepat dipinggir Sungai
Cikapundung. Selain itu dengan mulainya rekreasi air di CIkapundung ikut
meningkatkan kepedulian pemerintah untuk menjaga kebersihan Cikapundung dengan
mulai merevitalisasinya. Namun sangat disayangkan karena revitalisasi tidak
dilakukan dari hulu Cikapundung melainkan hanya disekitar pertengahan sungai
Cikapundung, padahal tidak ada gunanya terus menerus menjaga kebersihan di
daerah tengah sungai jika sampah, lumpur dan limbah ternak dan manusia terus
mengalir dari hulu sungai. Selain itu terlihat juga bahwa tebing bendungan  yang saya sebutkan tadi, kondisinya
sebenarnya sudah perlu diwaspadai karena tampaknya air yang terjebak di bawah
tanah namun tidak memiliki saluran air kembali ke arah Cikapundung mulai
merembet keluar melalui celah-celah tebing tersebut. Hal ini bisa menyebabkan
longsor atau bahkan tebing tersebut ambruk.
Batu tulisa yang diragukan “ketuaannya”

Setelah istirahat dengan
berbelanja berbagai jajanan berakhir, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah
menyusuri kembali jalur-jalur rumah penduduk yang padat kami sampai ke sebuah
tempat. Awalnya saya bingung, apa yang ingin kami lihat di sana karena saya
tidak melihat hal special apa pun. Memang bunyi arus sungai terdengar dan
sungai Cikapundung itu sendiri dapat terlihat tapi tetap saja menurut saya
tidak ada yang special. Namun ternyata di sana terdapat batu tulis. Menurut
masyarakat sekitar batu tulis ini adalah peninggal bersejarah dari zaman dulu.
Namun menurut Om Ridwan, berdasarkan upaya perifikasinya melalui
tulisan-tulisan yanga ada, batu tulis itu masih tergolong baru. Masih buatan
1900-an karena tulisan bahasa kunonya jelek (ha..ha..alasan yang aneh).

Sangat sebentar kami di batu
tulis itu, dan kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di
bawah jalan layang. Awalnya saya terpana karena pertamakalinya saya benar-benar
berada di bawah jalan layang. Mata saya langsung menangkap pemandangan sejumlah
mobil yang terparkir rapi di tanah terbuka di bawah jalan layang. Baru kemudian
saya menyadari bahwa saya mendengar bunyi aliran air dan merasakan ada angin
yang berhembus. Saat melihat orang berdiri kea rah tepi sungai barulah saya
melihat bahwa kali ini kami kembali berada di tepi sungai Cikapundung. Kami
kembali beristirahat sejenak sambil menikmati angin yang membuai nyaman.

istirahat di bawah jalan layang di tepi Cikapundung
Kemudian diceritakan bahwa dua
kali daerah ini pernah digusur, terakhir pada saat pembangunan jalan layang
ini. Selain itu daerah ini pernah terendam banjir bah yang besar. Yakni sekitar
tahun 1945 sebelum peristiea Bandung Lautan Api.  Hal itu karena pihak Belanda membuka semua
pintu air sehingga meluaplah sungai CIkapundung. Hal ini dilakukan untuk
mengacaukan gerakan laskar lokal yang berusaha merebut kekuasaan dari tentara
sekutu.
makam Iboe Idjah

Setelah itu tanpa sengaja
rombongan terpisah menjadi dua karena jaraknya cukup jauh. Saya dan sejumlah
rombongan kecil mampir sebentar di makam Iboe Idjah yang berada sendirian di
pondasi rumah seseorang. Menurut warga sekitar, kuburan tersebut tidak dapat
dipindahkan. Selain itu tidak jauh dari lokasi makam Iboe Idjha ada juga
perkuburan keluarga yang terletak di dekat masjid dan perkuburan itu dipagari. 

Tidak banyak waktu yang kami
habiskan di sana. Kami kembali menyusuri pemukiman penduduk dan cukup terkesima
setelah melewati kawasan padat penduduk tidak lama kami menemukan sebuah kost
yang menurut kami tergolong elit dari segi tampilannya. Sambil berjalan saya
berusaha memperhatikan sekitar karena saya pada dasarnya memiliki kemampuan
navigasi yang lemah. Setelah sampai di jalan raya barulah saya sadar bahwa kami
telah sampai di wilayah Wastu Kencana. Kami kemudian berkumpul di depan Pasar
Bunga Wastu Kencana. Saat itu kembali diceritakan kepada kami bahwa sekitar
tahun 40’an daerah menjadi salah satu tempat perkuburan di Bandung. Wilayah
UNISBA saat ini dulunya merupakan wilayah perkuburan. Selain itu disebutkan pula
bahwa di tengah pertigaan jalan dekat Pasar Bunga Wastu Kencana bediri sebuah
patung. Patung Engelbert Van Bavervoorde yang awalnya diletakkan di tengah
pertigaan jalan itu, namun karena ada seorang anak yang sempat meninggal karena
bersepeda dan menabrak patung tersebut, akhirnya dipindahkanlah patung tersebut
ke pinggir jalan.
Setelah itu kami melanjutkan
perjalanan ke daerah Merdeka Liau. Tempat ini dinamai Merdeka Liau karena
dulunya di daerah ini dijadikan pusat pembuatan genteng yang dilakukan oleh budak-budak
yang di merdekakan oleh Belanda sehingga mereka pun kadang disebut sebagai
Belanda kulit hitam. Mereka juga disebut kaum Mardik. Produksi genteng semakin
besar ketika Bupati RAA Martanagara membuat kebijakan bahwa atap rumbai harus
diganti menjadi atap genteng. 
ini Plakat di SMPN 40

Di daerah ini kami masuk ke
wilayah Kawasan SMPN 40 yang termasuk sebagai salah satu cagar budaya. Tahun
1931 bangunan sekolah ini sudah ada. Awalnya sekolah ini bangun sebagia sekolah
praktik bagi Kweekschool yakni sekolah keguruan. Sekolah ini sempat menjadi
Sekolah Wanita atau SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Beruntung saat kami ke SMP
ini adalah Abah Landung yang menjelaskan perihal sejarah sekolah itu. Ia bahkan
mengantarkan kami ke bagian yang paling tua di areal sekolah. Yaitu sebuah
ruangan yang dulunya berfungsi sebagai ruang arsip.  Akhirnya setelah bercerita sebentar dengan
Abah Landung kami kembali melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami di jalan
Cicendo. Kami ditunjukkan wilayah yang dulunya adalah kompleks pabrik Cina.
Hanya sebentar kami di daerah ini. Kami pun segera melangkahkan kaki semakin
dekat ke Gedung Indonesia Menggugat. Ada hal yang menarik yakni bahwa sekolah ini memiliki plakat yang isinya menjelaskan tentang jumlah sumbangan yang diterima sekolah ini.

Plakat Gedung Indonesia Menggugat

Inilah finish kami kali ini yakni
di Gedung Indonesia Menggugat. Finally setelah cukup lama saya penasaran dengan
Gedung Indonesia Menggugat, saya pun bisa menginjakkan kaki ke dalam gedung
itu. Gedung ini menjadi saksi ketika Soekarno dan kawan-kawannya di sidangkan
dan Soekarno membuat petisi yang berjudul “Indonesia Mengggat” padahal pada
tahun itu, tahun 1930, Indonesia sendiri belum ada. Gedung ini sendiri sudah
ada sejak 1910, namun baru terkenal pada 1930 yang bersejarah itu. 

Akhirnya seperti biasa, sesi ngaleuet Komunitas Aleut hari ini diakhiri dengan sesi sharing. Sharing kali ini hampir semuanya menemukan kesadaran yang sama yakni bahwa kita harus peduli tentang sampah. Sepanjang ngaleut seharian tak henti kami melihat sampah-sampah di sunga Cikapundung dan di daerah pemukiman warga. Hingga akhirnya sebagian besar merasa bahwa kita harus memulai perubahan terkait sampah ini dari diri kita sendiri. Bahkan diusulkan agar Ngaleut nanti bisa sambil mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan yang dilewati di jalan. Selain itu sesi sharing mengingatkan kita untuk melakukan perubahan dengan diri kita sendiri dan jangan berharap dan menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain terlebih dahulu. Karena kitalah yang pertama kali mengetahui dan menyadari fenomena tersebut sehingga kita jugalah yang harus pertama kali mengambil aksi.

Ah, baiklah mulai hari ini saya harus bertanggung jawab pada pengetahuan saya. Yakni dengan melakukan sesuatu, mungkin bisa dimulai dengan selalu menyediakan kantong kresek khusus untuk sampah di tas guna menampung sampah pribadi saat tidak menemukan tempat sampah. Dan bisa sambil sesekali mengumpulkan sampah di jalan yang ditemukan.
Ya, mari berubah dan melakukan perubahan dengan tangan kita sendiri.




Catatan:

foto-foto dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi dan foto-foto yang saya ambil dari akun twitter @KomunitasAleut dan @edisetiadi6

kalau ada keterangan atau penjelasan yang dianggap kurang atau bahkan salah jangan sungkan untuk mengomentarinya. Maklum saya pendatang di Kota Bandung (dengan navigasi yang buruk) dan masih kebingungan perihal arah dan tempat di Bandung ini.

jangan lupa buat ngikutin info tentang ngalet via Facebook Komunitas Aleut atau via @KomunitasAleut