Pagi itu (3 Feb’13)  saya tidak bermaksud untuk menghadiri
kegiatan Komunitas Aleut karena ada urusan keluarga yang harus lebih diprioritaskan.
Namun akhirnya karena rindu dengan kegiatan jalan-jalan itu saya pun memutuskan
untuk menyusul rombongan yang telah berangkat. Pekan sebelumnya karena urusan
keluarga saya tidak bisa ikut Ngaleut transportasi. Akhirnya saya kian
membulatkan tekad untuk menyusul. Segera saja saya menghubungi salah seorang
penggiat Komunitas Aleut yang menginfokan saya untuk datang ke Pendopo
Alun-Alun.



“Pendopo Alun-Alun”?? itu masih
asing bagi saya yang seorang pendatang di Bumi Parahyangan ini. Alun-alun sih
saya masih tahu. Tapi pendopo?? Ok seberapa pun asingnya karena diberi petunjuk
angkot yang sangat jelas, saya pun meneguhkan hati. Macet di Dago karena Car
Free Day yang diberlakukan sesekali membuat ragu sedikit menyelusup. “Ah,
paling kamu hanya akan ikut pos terakhir. Lebih baik batalkan saja niat itu”,
bisik si skeptis kepadaku. “Jangan. Nanti kamu menyesal lho. Bukankah ikut
ngaleut selalu memberimu pengalaman baru? Sudah, tidak ada salahnya mencoba
kan. Kalau pada saat sampai di Alun-alun ternyata rombongan sudah pergi kamu
masih bisa lanjut jalan-jalan ke Kings” lawan si Optimis. Ok, karena pagi ini
hariku diawali dengan perasaan menyenangkan akhirnya si Skeptis berhasil
dibungkam oleh si Optimis.

Singkat cerita dengan sedikit
diwarnai rasa was-was akan kesulitan menemukan Pendopo Alun-Alun sampailah saya
di depan gerbangnya. Untuk sampai di depan Gerbang yang melengkung itu saya
harus bertanya beberapa kali ke pedagang sekitar Alun-alun. Saya mendapati
gerbang yang tertutup dan dengan bingung dan agak malu sibuk mengintip ke dalam
Pendopo. Mungkin karena kasihan melihat saya, seorang pembersih jalan mendekati
saya sambil menarik serta tempat sampah plastik berwarna orange. Beliau
kemudian membantu saya membuka gerbangnya. Berkat bantuannya saya akhirnya
berhasil masuk dan bertemu dengan rombongan Komunitas Aleut 
yang sudah sibuk
berfoto. Ah saya melewatkan sesi mendongeng di tempat itu. Saya hanya sempat
berfoto sebentar dan kemudian ikut rombongan yang melangkah meninggalkan
pendopo.
Sedih sih karena saya yakin
cerita mengenai Pendopo ini cukup banyak. Saya pun mecoba menggali informasi
terkait cerita yang dibagi dan berhasil dapat secuil yakni terkait lonceng yang
terdapat di halaman pendopo. Ada lonceng kembar yang berdiri di halaman
pendopo. Katanya ada sebuah tulisan di lonceng yaitu “VGILATE ET ORATE DEO CONFIDENTES” yg artinya perhatikan
& berdoa mempercayai Tuhan. Selain itu katanya dulu bunyi lonceng ini bisa
terdengar hingga Buah Batu.

Akhirnya melewati pintu Gerbang kita melanjutkan
perjalanan menuju tujuan berikutnya. Melewati trotoar yang dipadati pedagang
kami kemudian berbelok masuk ke dalam sebuah lorong yang agak sepi. Awalnya
saya bingung hingga kemudian membaca tulisan yang menerangkan bahwa kami
memasuki situs makan RA Wiranatakusumah II yang merupakan Bupati Pertama
Bandung. Nampak sebuah pendopo yang menaungi 3 kuburan utama yakni kuburan RA
Wiranatakusuma II, Raden Ayu Kendran (istri Wiranatakusuma II), Raden Tmg. Male
Wiranatakusumah, Raden Mochamad Saleh (Penghulu Kab. Bandung). Kemudian
terlihat satu kuburan kecil yang kemudian ketika ditanyakan ke petugas yang
menjaga makam dinyatakan bahwa tidak ada yang tahu asal usul kubur itu.

Saat itu satu pertanyaan yang terbesit di antara
rombongan Aleut yaitu kenapa Makam seorang penghulu diposisikan hampir sejajar
dengan Bupati. Makam ini ditempatkan di bawah pendopo yang sama dengan makam RA
Wiranatakusumah II, tepat di samping makam Raden Tmg. Male Wiranatakusumah.
Ternyata dulu posisi penghulu tidak hanya bertugas untuk menikahkan orang
melaikan berperan sebagai penasih spiritual.

Melanjutkan perjalanan, rombongan Aleut melewati
lagi kawasan padat penjual. Ingin rasanya berhenti dan membeli sepatu baru dan
mengganti sepatu yang tengah saya pakai karena sudah mulai rusak (lho kok
curhat). Setelah jalan cukup jauh sampailah kami di Penjara Banceuy. Saya
antara yakin dan gak yakin sudah pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Saya
cukup bingung kita akan kemana karena kita berada di tengah-tengah kawasan
pertokoan yang tidak lagi nampak ramai. Ternyata di sana terselip catatan
sejarah tentang Ir. Soekarno. Diceritakan bahwa ketika Ir.Seokarno menjadi tahanan
politik, beliau menulis Pledoi yang sangat menggugah yakni “Indonesia Menggugat”.
Pledoi ini ditulis dalam sel no.5 di Penjara Banceuy, sebuah ruangan seluas
2×2,5m yang tempat tidurnya terbuat dari besi dan termasuk pula sebuah kloset
di dalamnya (could you imagine it?! Kamu hidup dalam ruangan sekecil itu, makan
disana, buang air disana. Maka jangan sia-siakan kemerdekaan yang diwariskan
pejuang kita). Beliau di penjara di sini selama 8 bulan. Di masa ini pula cinta
seorang Inggit Ganarsih kepada Ir. Soekarno diuji. Bahkan ada cerita bahwa ibu
Inggit yang membantu Ir. Soekarno untuk terus berhubungan dengan dunia luar dan
mengetahui informasi-informasi terkini selama beliau di penjara. Yah di sini
sebuah kalimat terlintas di kepala saya bahwa “Di belakang pria hebat selalu
ada wanita hebat”. Jika bukan memiliki istri yang hebat, maka dia memiliki ibu
yang hebat
J
Setelah mengambil beberapa foto di sana kami
kembali melanjutkan perjalan hingga nampak
 salah satu sudut yang tersisa dari
komplek penjara Banceuy yang kini tidak terawat bahkan dipakai sebagai tempat
tinggal para tunawisma. Mengenaskan sebuah tempat bersejarah diperlakukan bak
sampah. Setelah berfoto disana sebentar akhirnya rombongan kembali berjalan.

 Tak
lama kami sampai ke sebuah jembatan kecil yang merupakan gerbang menuju Gang
Afandi. Nama Afandi diambil dari seorang tuan tanah yang dulu memiliki tanah
yang cukup luas di Bandung. Di Gg. Afandi ini terlihat tempat yang padat dengan
pemukiman penduduk yang terkesan agak kumuh sangat kontras dengan jajaran apartement
dan hotel yang membelakanginya. Kami terus berjalan dan sampai di jl.Braga atau
Bragaweg.

Dan tujuan akhir kita adalah Balai Kota Bandung.
Saat memasuk Balai Kota Bandung kita langsung di pandung ke gerbang lain Balai
Kota untuk diperlihatkan aliran sungai Cikapayang. Sungai ini adalah sungai
buatan yang dibuat dengan membelokkan aliran sungai Cikapundung. Sungai Cikapayang
ini digunakan untuk mengaliri taman-taman di Bandung. Sedikit info lain ada di
postingan sebelumnya (cek Nga-baraga Cikapundung). Setelah itu kita diajak melihat
Gedung Balaikota (Gemeente huis) yang dulunya berdiri sebuah gudang kopi milik
seorang Preangerplanter (tuan kebun
Priangan) bernama Adries de Wilde. Namun pada tahun 1927 gedung ini dirobohkan
kemudian dibangunlah gedung balaikota yang merupakan hasil rancangan EH de Roo.
Kemudian pada 1935 gedung Balaikota diperluas. Gedung ini memiliki atap yang
tampak datar sehingga gedung ini terkadang disebut juga dengan Gedung Papak.

Gedung Balaikota menjadi perhentian terakhir hari itu. dengan ditemani mendung dan ditengah sesi sharing hujan membahasahi tanah Bandung, sesi kami terus berjalan. Banyak hikmah yang diambil (seperti biasa) dimana salah satunya tentang kenyataan bahwa ketika di bawah penjajahan Belanda, tata kota Bandung sangat teratur dan dibuat fungsional. Namun setelah masa kemerdekaan Indonesia, pengelolaan menjadi amburadul, tidak ada cetak biru yang menjadi acuan dalam membangun kota Bandung. Selain itu hari ini banyak yang mengalami pengalaman yang baru. Ternyata beberapa dari peserta Ngaleut hari itu yang baru pertama kali masuk ke Pendopo padahal dia besar di Bandung. jadi biarkan saya yang pendatang ini membagakan diri karena berhasil masuk ke halaman pendopo walaupun belum lama tinggal di Bandung.

oiya, satu lagi. kita sukse berfoto di jalanan tidak jauh dari Landmark karena jalanan di tutup sebagai peringatan bahwa ada Kereta Api yang akan segera lewat. 

P.S: jika ada bagian content yang salah tulis silahkan dibenarkan karena saya takut memberikan info yang salah karena keterbatasan saya mengenal kota bandung.

Sumber foto: dokumentasi pribadi dan
sejumlah foto dari kawan-kawan yang Ngaleut dan pihak-pihak lain yang hasil dokumentasinya saya posting.