Hari Ahad
tanggal 13 Januari 2013 ini mungkin akan menjadi salah satu hari Ahad yang
tidak terlupakan di kota Bandung. Bagaimana tidak jika saya yang merupakan
pendatang kota Bandung sukses menjelajahi beberapa sudut kota Bandung bersama
pasukan Komunitas Aleut Bandung. Tapi jangan piker perjalanan ini terasa
ringan bagi saya.
Kumpul di Jl. Sumur Bandung no. 4
Dimulai dari
malam hari dimana saya nyaris lupa untuk tidur karena asyik berkutat dengan
film di laptop kemudian dilanjutkan dengan buku dan mengupdate berita di
jejaring social, saya akhirnya terbangun dengan kurang bersemangat. Saat menajamkan
telinga ternyata Bandung disapa hujan. Niat hati yang semula menggebu-gebu
mulai mendingin karena udara dingin dan hujan. Saya kemudian memastikan apakah
kegiatan “ngaleut” tetap dilaksanakan meskipun tengah hujan. Dan ternyata pesan
singkat saya dibalas dengan konfirmasi bahwa ngaleut tetap dilaksanakan dan
para peserta diharapkan untuk membawa paying atau jas hujan. Akhirnya jam 8
kurang 5 menit waktu Bandung saya sampai ke Jl. Sumur Bandung no.4 yang
merupakan markas dari Komunitas Aleut ini. Yah saya terlambat 25 menit. Di lain
pihak waktu keberangkatan kami pun menjadi sedikit di undurkan. Hal ni terkait
cuaca dan upaya mencarter angkutan umum untuk sampai di daerah jl. Malabar.
Gedung Toko Roti Valkenet
Setelah perkenalan
singkat dengan seluruh peserta ngaluet, kami pun berangkat dengan menggunakan
tiga angkot carteran. Di dalam angkot pun peserta saling memperkenalkan diri. Akhirnya
saya yang awalnya datang sendirian akhirnya berkenalan dengan beberapa orang
yang juga baru pertama kali ngaleut. Akhirnya karena keasyikan ngobrol di jalan
tanpa terasa kami telah tiba di tempat tujuan pertama kali. Kami sampai di
jalan Malabar. Awalnya saya cukup bingung tentang gedung apa yang kami datangi.
Ternyata awal perjalanan ini, kami langsung dihadapkan pada kenyataan pahit
bahwa gedung yang layak untuk dilihat telah diratakan. Tadinya di salah satu
sisi jalan berdirilah sebuah toko roti. Bangunan itu adalah Gedung Valkenet
yang dibangun tahun 1925 dengan gaya arsitektur artdeco geometric, di tengah
kawasan villa2 sekitar Malabar. Namun kini bangunan itu sudah tidak dapat saya
lihat lagi. Ah saya seorang pendatang di kota Bandung ini terlal terlambat
menyadari salah satu kekayaan Bandung yakni bangunan-bangunan tua warisan
penjajahan Belanda. 
sisi yang masih menunjukkan wajah “rumah”
foto dari sisi dalam
Akhirnya setelah
itu kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke SMK Shandy Putra. Saya
akui saya tidak akan menyadari bahwa bangunan sekolah itu adalah sebuah rumah
tua peninggalan zaman Belanda yang dialih fungsikan menjadi sebuah sekolah.
Bahkan menurut cerita yang dibagi saat mengunjungi sekolah tersebut disebutkan
bahwa sebelumnya rumah tersebut di zaman penjajahan Jepang sempat beralih
fungsi menjadi rumah sakit. Meskipun kemudian di sampaikan bahwa belum ada
kepastian akan berita tersebut. Namun memang menurut penelitian bahwa di zaman
pendudukan Jepang, rumah-rumah yang cukup besar sering kali dialihfungsikan
menjadi rumah sakit atau menjadi kamp-kamp konsentrasi. Kami kemudian diberi
kesempatan untuk menjelajahi bagian luar dan dalam gedung sekolah tersebut. Saat
melangkah menuju lapangan olahraga sekolah itu akhirnya muncullah tanda-tanda
bahwa memang awalnya rumah tersebut awalnya dibangun sebagai rumah. Saya tidak
dapat menyebutkan secara jelas bagian apa, namun di sisi samping rumah tersebut
terdapat bagian yang menjorok keluar dan berbentuk semacam lengkungan yang
memiliki undakan tangga sehingga saya menganggap bahwa dahulu mungkin saja
pintu itu adalah akses menuju taman rumah tersebut. Bagian kaca dan pintu gedung
sekolah tersebut masih asli tanpa di ubah. Dan begitu pun beberapa pintu yang
ada di ruangan utama sekolah tersebut.
Foto Genteng
Memang telah
dibangun tambahan ruangan di bagian samping dan belakang sekolah tersebut. Namun
sebagian besar gedung tersebut masih merupakan bagian asli dari rumah Belanda. Kami
bahkan berhasil mengambil sebuah genteng untuk diamati karena sebagian besar
genteng sekolah tersebut masih merupakan genteng lama dari sejak awal
pembangunannya. Terbukti saat ditemukan nama dan kota asal pembuatan genteng
tersebut. (lihat di foto) Akhirnya setelah melihat-lihat dan memotret di sana
sini, akhirnya seluruh rombongan pun meninggalkan lokasi SMK Shandy Putra yang
telah ditetapkan sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah
Bandung tersebut. Oiya, kami bahkan dioleh-olehi cerita seram yang dituturkan
oleh salah seorang siswi sekolah tersebut yang hari itu ikut ngaluet bareng. Ah,
saya enggan menceritakannya mengingat saya menulis postingan ini di malam hari.

berfoto di depan rumah karya Ir. Soekarno
 Kami kemudian melanjutkan ngaleut ke jalan
Gatut Subroto. Kali ini kami mengunjungi salah satu rumah kembar yang merupakan
karya Mantan Presiden Soekarno. Rumah tersebut terletak di Jl.Gatot Subroto
no.54 dengan kembarannya yang terletak di seberang jalannya. Awalnya kedua
rumah tersebut di tempeli plakat sebagai pemberitahuan bahwa rumah tersebut
adalah rancangan Ir. Soekarno. Namun kini plakat tersebut telah dicabut dan
bahkan rumah tersebut kini telah beralih fungsi menjadi kost-kostan. Saya jadi
bertanya-tanya apakah orang-orang yang menyewa kamar kost di rumah tersebut
menyadari sejarah yang disimpan oleh rumah tersebut?