Setelah berfoto
di depan salah satu rumah karya Ir. Soekarno kami kemudian menyusuri jalan
Gatot Subroto tersebut. Kami sempat melewati sebuah rumah yang bertuliskan
Marie. Menurut penuturan salah satu pasukan Aleut bahwa di zaman Belanda dulu
sebuah rumah dinamakan berdasarkan nama anak perempuan pertamanya. Nah ini
berarti nama anak perempuan tertua pemilik rumah yang kami singgahi bernama
Marie. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke dan saya sempat memotret sebuah
gedung yang bernama Vila Gruno. Namun karena keterlambatan saya berjalan. Saya melewatkan
penjelasan apa punyang mungkin sempat dikeluarkan oleh anggota komunitas
Aleut.

Setelah itu kami
dipandu melewati gang-gang sempit sebagai jalur alternatif. Kami melewati
gang-gang kecil yang padat pemukiman. Kami bahkan harus berpuas diri dengan
mencium wangi masakan warga yang sempat kami lewati. Di salah satu jalan kami
melewati sebuah aliran sungai Anak CI Kapundung. Entah sungai itu terbentuk
alami atau buatan. Aliran sungainya hitam. 

Nah saat itu kami sempat berhenti
sambil mendengarkan penjelasan Om Ridwan Hutagalung (Om, pamang, kang, abang,
atau apapun sebutannya (^_^)v ). Beliau menceritakan tentang kisah-kisah kamp
konsentrasi yang sempat dibuat oleh Jepang saat menjajah Indonesia. Kamp-kamp
tesebut digunakan untuk menampung orang-orang Belanda yang berhasil mereka
kumpulkan dan tangkapi. Kisah yang ia tuturkan menyadarkan saya bahwa tulisan
Eka Kurniawan dalam novelnya Cantik itu Luka yang masih berusaha saya tamatkan
menceritakan kejadian yang hampir sama dengan yang dituturkan oleh Om Ridwan. Memang
kamp komsentrasi yang dibuat di Indonesia itu tidak semengerikan yang dibuat
oleh Nazi di Jerman pada masa Holocaust. Namun tetap saja diceritakan bahwa
kamp konsentrasi yang paling parah adalah kamp yang diperuntukkan untuk
laki-laki dewasa. Sedangkan untuk wanita dan anak-anak masih sedikit lebih
berdab. Sedikit tambahan yang saya peroleh dari buku Cantik itu Luka dikatakan
bahwa sejumlah wanita Belanda kemudian diambil dari kamp konsentrasi untuk
kemudian dijadikan sebagai pelacur.

Akhirnya kami
melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami pada salah satu sekolah yang
dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1922. SD ini dijadikan sebagai tempat
praktek Kweekschool yang sering diasosiakan sebagai sekolah raja. Entah karena
anak-anak bangsawan pribumi banyak yang bersekolah atau ada yang mengatakan
bahwa Kweekschool mungkin saja dibangun sebagai peringatan atas pengangkatan
raja baru. SD ini kemudian ditempati oleh SD Centeh 1,2,3,4,5,6. Menurut data
yang berhasil dihimpun oleh Komunitas Aleut diketahui bahwa awalnya hanya
bangunan SD tersebut yang berada di wilayah Centeh ini, sedangkan disekitarnya
masih berupa rerumputan yang luas. Namun kini bahkan bagian depan SD centah
telah tertutupi pemukiman waga. Kami harus melewati lorong sempit hingga
akhirnya berhasil masuk ke dalam lingkungan sekolah tersebut. Saat melewati
lorong sekolah ini akan ditemukan plakat yang terpasang di kedua sisi dinding
yang saling berhadapan. Selain itu terdapat juga patung pendiri sekolah (yang
kemudian agak diragukan keasliannya oleh orang-orang di Komunitas Aleut). Setelah
itu kami sempat beristirahat di aula yang berbentuk seperti sebuah pendopo yang
berada di SD tersebut. Tampak bahwa tiang penyangga aula itu telah dimakan oleh
usia (dan rayap). Sesi istiarahat ini diisi dengan cerita tentang nama-nama
jalan yang dahulu kala dibuat berdasarkan nama tanaman-tanaman. Dan jenis
tanaman-tanaman tersebut bahkan digolongkan menjadi bunga-bungaan, pohon dengan
ranting yang kurang padat, dan pohon dengan ranting yang padat. Namun kini
nama-nama tersebut diganti menjadi nama pahlawan yang membuat bingung dalam hal
pencariannya. Bahkan membingungkan karena akhirnya sebuah jalan bisa jadi
memiliki dua identitas atau dua nama.

Tidak lama kunjungan
tersebut diakhir dengan foto bersama dilapangan sekolah. Kami kemudian
melanjutkan perjalanan ke Pasar Kosambi. Ternyata di pasar ini masih berdiri
pertokoan tua. Namun lagi-lagi saya ketinggalan penjelasan dan bahkan kali pun
saya tidak menyempatkan diri mengambil foto karena takut menghadari ketinggian
jembatan penyebrangan yang sudah cukup rapuh. Saya akhirnya hanya menyebrang
dan menunggu seluruh rombongan berkumpul di depan ruko toko roti Cari Rasa yang
merupakan salah satu toko yang cukup lama di Bandung. Setelah itu kami kembali
menyusuri lorong dan melewati gang-gang sempit pemukiman penduduk. Kami bahkan
melintasi rel kereta api di Kebon Pisang Kosambi. Sejujurnya inilah pertama
kalinya saya menginjakkan kaki dan melewati rel kereta api yang berada di
pemukiman penduduk. Biasanya saya hanya melewati rel kereta di stasiun kereta
api saja saat harus mencapai peron tertentu.

Setelah itu kami
sempat cerita sejenak terkait salah satu jalur kereta api tertua di pulau Jawa.
Namun saya tidak berani menuturkan ulang meskipun saya telah mencoba untuk
menggoogling data-data tentang stasiun tertua ini. Namun saya menyadari bahwa
saya sudah cukup lupa dank arena masalah baterai gadget, saya tidak berhasil
mencatat banyak hal kala itu.

Setelah istirahat
kami kembali melanjutkan perjalan ke salah satu Gereja yang maaf ternyata kini
telah saya lupakan namanya. Gereja itu tidak bisa kami kunjungi cukup lama
karena mendapat teguran dari pihak penjaga keamanan gereja tersebut. Namun kami
masih sempat diperliahtkan plakat nama yang ada di gereja tersebut sebagai
sebuah tanda dari arsitek gereja tersebut. Plakat itu agak tersembunyi di balik
tanaman yang tumbuh mengelilingi gereja.


Akhirnya
kami pun melanjutkan perjalan ke SD Soka. Kami sempat melewati salah satu tokoh
oleh-oleh makana Sari Rasa dan bahkan sesampainya kami di SD tersebut wangi
roti yang menggugah selera masih tercium. Kami yang siang itu akhirnya mulai
terserang lapar dan cukup lelah karena seharian berjalan kaki akhirnya
mengakhiri perjalan dengan menceritakn kesan kami dalam kegiatan ngaleut hari
itu. Kesan-kesannya semua positif selama mengabaikan bagian “lapar” dan “cukup
lelah karena jalan kaki seharian” mengingat rute kami sebenarnya cukup jauh dari
jalan Malabar hingga akhirnya sampai di Jl. Soka yang tidak jauh dari jalan RE
Martadinata. Tapi di hari itu pun kami menyadari bahwa penting untuk peduli
pada lingkungan. Kita perlu ikut menyebarkan kesadaran bahwa peninggalan
sejarah termasuk gedung-gedung tua perlu dijaga karena dapat menjadi
pembelajaran bagi generasi-generasi penerus kita.

catatan: foto-foto dalam blog ini adalah hasil dokumentasi pribadi dan hasil dokumentasi yang dipublish dalam @KomunitasAleut di twitternya.