Sudah lama saya tidak meng-update tulisan kegiatan #ngaleut bersama
Komunitas Aleut. Maka malam ini saya mencoba memenuhi janji untuk terus berbagi
pengalaman selama di Bandung, agar teman-teman di Makassar bisa “ikut” melihat
dan merasa apa yang saya alami di Bandung ini.
Ok, memenuhi niatan tersebut saya
pun menulis cerita tentang Ngaleut Pohon yang diadakan pada 10 Maret 2013. Saya
mencoba menuliskannya selengkap yang saya mampu.
Perjalanan Ngaleut Pohoh dimulai
di Taman Balaikota. Lagi-lagi saya memperoleh pengalaman pertama memasuki
sebuah tempat dengan bantuan Komunitas Aleut. Hari itu setelah tinggal hampir 2
tahun di Bandung, saya akhirnya menginjakkan kaki ke Taman Balaikota. Saya terlambat
bergabung dengan rombongan yang telah lebih dulu sampai di Taman Balaikota.
Maka saya mohon maaf jika ada beberapa materi yang akhirnya hilang dan tidak
sempat saya tulis.

Ketika tiba, saya langsung
mendekat ke “sumber suara” yakni kepada Arifin Surya Dwipa Irsyam atau
yang akrab disapa Ipin. Bunga yang sedang dibahas ketika saya datang adalah Bunga
Tembaga atau Tapak Dara. Bunga yang bernama latin Catharanthus roseus (L) G.Don ini mengandung
senyawa vinblastine yang dapat menghentikan pembelahan sel, sehingga dapat
dimanfaatkan sebagai anticancer
. Tapi dilain pihak tanaman
ini jika dikonsumsi dengan dosis tinggi dapat menyebabkan keracunan.
Bunga Tembaga
Setelah
itu pengamatan bergerombol ini secara berturut-turut pindah ke bunga-bunga
berikut:
Bunga
Jatropha integerrima Jacq
. Ipin lupa dengan sapaan daerah untuk bunga ini. Tapi ya
abaikanlah, kita masih bisa mencari lebih banyak di mbah Google (^_^)v Menurut
informasi dari Ipin, si cantik yang satu ini juga beracun. Mengandung phorbol
dan bagian biji mengandung senyawa racun curcin
. Racun
pada tanaman sebenernya adalah salah satu mekaniseme mereka untuk
mempertahankan diri dari predator.
Jatropha integerrima Jacq
Setelah
itu dibahas pula Pohon Alpukat atau
Persea
americana
L yang berasal dari Amerika
Selatan. Penamaan dalam bahasa Latin pohon Alpukat ini berasal dari nama Perseus dalam
mitologi
Yunani. Namun saya tidak mencatatnya dengan lengkap. Maaf (-_-“) Saya tambahkan
sedikit informasi tentang manfaat Alpukat yg saya peroleh dari (http://id.wikipedia.org/wiki/Apokat)
Apokat memiliki banyak manfaat. Bijinya digunakan dalam industri
pakaian sebagai pewarna yang tidak mudah luntur. Batang pohonnya dapat
digunakan sebagai bahan bakar. Kulit pohonnya digunakan sebagai pewarna warna
cokelat pada produk dari bahan kulit. Daging buahnya dapat dijadikan hidangan
serta menjadi bahan dasar untuk beberapa produk kosmetik dan
kecantikan. Selain itu, daging buah alpukat untuk mengobati sariawan dan
melembabkan kulit yang kering. Daun alpukat digunakan untuk mengobati kencing batu, darah
tinggi
, sakit kepala, nyeri saraf, nyeri lambung, saluran
napas membengkak dan menstruasi yang tidak teratur. Bijinya dapat digunakan
untuk mengobati sakit gigi dan kencing
manis
Bunga Hamelia Patens
Ipin
kemudian beralih ke Bunga Hamelia patens Jacq. Bunga ini adalah salah satu jenis
tanaman hias yang banyak ditanam di Taman Kota di Bandung. Bunga ini masih satu
famili dengan Kopi dan berasa dari Afrikan. Bunganya berbentuk tabung, sehingga
penyerbukan bunga dibantu oleh kupu-kupu. Jadi jika ingin taman dipenuhi
kupu-kupu, bunga ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan.
Bunga Nusa Indah
Barlanjut
ke bunga berikut, Aleutian kembali bergerombol mendengarkan penjelasan Ipin
tentang Bunga Nusa Indah (Mussaenda
erythrophylla
Schumach.
) yang masih satu kerabat dgn kopi. Yang berwarna merah
dibawah bunga bukanlah kelopak bunga melainkan daun. Saya baru sadar bahwa
ternyata tidak semua daun berwarna berwarna hijau. Dapat ilmu baru lagi. He..he..
Setelah
itu, kami beralih ke pohon Kersen (Muntingia calabura L.
). Pohon ini dapat menjadi salah satu alternatif sebagai tanaman
peneduh jalan karena memiliki kanopi yang tidak rata namun lebar sehingga dapat
menjadi peneduh bagi pejalan kaki.

Pohon Kersen
Buni
atau Wuni (Antidesma bunius L.) yang buahnya dapat dikonsumsi. Buah yang telah
matang berwarna ungu tua (dan saya sempat mencicipi yang telah metang dan
memang enak dan saya tidak sakit perut sesudahnya.he..he..) Tanaman ini sudah
mulai jarang ditanam di pekarangan rumah
. Buni masih satu
famili dengan Singkong, hal ini bisa terlihat dari kemiripan karakteristik
daunnya dengan daun singkong.
Buni atau wuni

Sumber
foto dan data tambahan
Foto-foto berasal dari facebook Endri Sudewa dan beberapa lagi
adalah hasil dokumentasi pribadi.