Masih di taman Balaikota dan
masih dengan saudara Ipin sebagai pemateri tunggal, Aleutian kembali dijejali
banyak informasi menarik. Salah satunya tentang 
Babadotan atau
Ageratum conyzoides.
Bunga ini ternyata memiliki ukuran bunga yang sangat kecil. Apa yang selama ini
saya pikir sebagai bunga dari tanaman ini ternyata adalah sekumpulan bunga
ukuran mini. Karena ternyata tidak membuat dokumentasi tentang tanaman, saya
lantas mencari foto dan di web yang sama (http://balittro.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=79&Itemid=38)
 tertulis informasi berikut:

“Di Indonesia, Ageratum banyak digunakan untuk
obat luka, radang (inflamasi) dan gatal-gatal. Yang telah dibuktikan secara
ilmiah sebagai obat anti-infla-masi. Prof. Elin Yulinah Sukandar menemukan
bahwa ekstrak babadotan yang dicampur dengan ekstrak jahe terbukti efektif
mengobati radang yang disebabkan bakteri Staphylococcus aureus pada
kelinci percobaan. Selain itu Ageratum juga dapat menghambat pertumbuhan
Bacillus subtilis, Eschericichia coli, and Pseudomonas
aeruginosa
. Tak hanya daun ternyata akar tanaman ini pun berguna; menurut
pakar dan Ketua Himpunan Pengobatan Tra-disional dan Akupunktur Indonesia,
Prof. HM Hembing Wijayakusuma, akar babadotan dapat mengatasi disentri, diare
atau panas, dengan cara merebus 30 gram akar Ageratum, dengan 600 cc air
hingga tersisa 300 cc, disaring dan diminum airnya selagi hangat.”

babadotan



Setelah itu
Ipin pun beranjak ke bunga berikutnya. Ternyata bunga tersebut adalah Bunga
Patra Komala
(Caesalpinia pulcherrima), kembang ikon Bandung. Ternyata bunga ini bukan asli
Indonesia. tapi dari kawasan tropis dan subtropis di Amerika. *eh?!* Anehkan??
Replika perunggu ini juga dipasang di stilasi yang dibuat untuk mengenang
kejadian Bandung Lautan Api. Jika ada yang bertanya, “Lantas, kenapa bunga ini
jadi ikon kota Bandung? Ada sejarahnya gak?”. Jawabannya adalah tidak ada history-nya (sejauh yang penulis tahu)
tentang kenapa bunga ini jadi icon. Tapi pemilih bunga ini sebagai lambang kota
Bandung dilakukan di masa Orde Baru karena saat itu Ibu Tien sebagai Ibu Negara
menetapkan bahwa setiap kota harus memiliki ikon khas berupa flora dan fauna.
Lantas dipilihlah bunga Patra Komala karena saat itu banyak tumbuh di kota
Bandung.

Patra Komala
Beralih dari Bunga Patra Komala,
pembahasan berpindah ke Palem ekor tupai (Wodyetia bifurcata). palem pendatang
dari Australia.
Tanaman ini cocok untuk tumbuh di trotoar
karena meskipun akarnya tumbuh liar, tidak akan merusak tekstur tanah tempat ia
tumbuh. Namun tidak benar-benar dapat menaungi pejalan kaki dari terik dan
hujan.
palem ekor tupai
Kita kemudian beralih ke sisi
lain Taman Balaikota. Kali ini kami mendekat ke pohon yang sangat lebat.
Mungkin ini jenis pohon yang paling sering kita temui di taman-taman yang cukup
luas. Yup, pohon berikutnya adalah Pohon Trembesi atau
Samanea saman. Pohon ini punya banyak nama lain
seperti
Ki
hujan
atau pohon hujan. Bentuk pohon ini memang membuatnya jadi pilihan
sebagai pohon peneduh, namun tidak cocok ditanam di Trotoar atau di taman
tengah jalan sebagai pembatas jalan sebab akarnya dapat merusak trotoar dan
jalanan. Selain itu, rantingnya kurang kokoh. Namun cukup disayangkan bahwa
Pohon Trembesi ini sering kali menjadi salah satu jenis pohon yang cukup sering
dipilih dalam aksi penanaman pohon hingga ke trotoar jalan padahal Trembesi
tidak cocok di tanam di trotoar. Namun Pohon ini menjadi pilihan yang baik
untuk di tanam di taman-taman yang cukup luas sebab Trembesi mampu menyerap CO2 di udara dengan optimal
.
pohon Trembesi
Di dekat pohon Trembesi di taman
Balaikota terdapat tanaman Hanjuang atau Cordyline fruticosa. Ternyata nama
tanaman ini yang menginspirasi nama sebuah tempat di cimahi, yaitu Cihanjuang
.
Berikutnya kami pindah ke sisi
dekat parit yang berada di dalam taman. Berdirilah Pohon Dadap Merah (
Erythrina
Crista Galli).
Nama Latin Crista Galli
adalah nama latin bagi jengger ayam. Hal ini karena bunga dari pohon Dadap
Merah ini mirip dengan jengger ayam. Aslinya tumbuhan ini tumbuh lurus,
namun  karena pengaruh tekanan angin atau
kecepatan angin di sekitarnya membuat tumbuhan ini tumbuh membengkok. Dan di
salah satu bagian tanaman ini terdapat virus hingga membuat tonjolan cukup
besar di salah satu bagian.
bunga Dadap Merah
virus di pohon dadap merah
Ada pula Pohon Gelondongan namun
ternyata saya tidak menemukan dokumentasi yang layak untuk pohon ini.
Disebutkan oleh Ipin bahwa jenis tanaman ini baik untuk ditanam di pinggir
jalan karena tumbuh ke atas dan kanopinya melebar ke samping. Selain itu
adapula pohon Ki sabun atau
Filicium
decipiens
pohon ini
mengandung sofonin yang merupakan senyawa untuk busa sabun. Saat hujan di bawah
pohon ini akan muncul busa-busa seperti busa sabun. Sayang saya tidak sempat
mendokumentasikan pohon ini dalam bentuk foto.
Masih di Taman Balaikota kami
juga menemukan Pohon Tanjung atau
Mimusops
elengi
. Sayang saya
tidak mendokumentasikan pohonnya, namun sempat mendokumentasika buahnya. Tanaman
ini baik untuk ditanam dipinggir jalan karena dapat menyerap karbon monoksida
dan dioksida dengan baik.

Kami kemudian beralih ke salah satu tanaman yang
cukup besar dan berdiri dengan arogannya di dekat jembatan penyebrangan yang
terdapat di Taman Balaikota. Penjelasan Ipin membuat saya terpukau. Tanaman itu
adalah
karet
munding (Ficus elastica) yang getahnya dapat diolah menjadi karet
.
Tanaman ini termasuk tanaman “jahat” menurut saya. Menurut info dari Ipin jenis
“ficus” ini berbahaya bagi tanaman lain yang ditumpanginya. Jika tanaman Ficus
tumbuh di sebuah pohon, ia akan tumbuh dengan membelit pohon tersebut,
membungkus dan menutupinya hingga akhirnya tanaman yang ditumpanginya tersebut
tertutup sepenuhnya dan mati karena dibungkus Ficus tersebut. Tanaman ini tidak
cocok ditempatkan di trotoar karena tumbuh liar dan akarnya bisa merusak. Pohon
ini juga menjadi tempat hidup bagi banyak hewan mulai dari burung hingga
reptil-reptilan. Di Taman Balaikota ini kita akan melihat seberapa merusak
tanaman ini. Ada pagar yang membengkok, akarnya merusak lapisan dinding dan
akar tanaman ini menutupi permukaan parit. Akar-akar kecil jika sampai ke tanah
akan tumbuh jadi seperti sebuah batang.
pohon Karet Munding
Akhirnya pembahasan mengenai
Ficus ini menjadi bahasan terakhir di Taman Balaikota. Aleutian kemudian
menyebrang ke sisi jalan. Kami langsung menemukan Karet Munding yang ditanam di
salah satu pot besar di pinggir jalan. Kami sampai geleng-geleng kepala
melihatnya, apa mereka tidak bisa melihat hasil perbuatan tanaman ini terhadap
trotoar yang ada di sisi lain jalanan ini?? Setelah sibuk mengomentari tentang
buruknya perencanaan kota Bandung dalam menentukan jenis tanaman yang layak
untuk dijadikan pohon peneduh jalan.