Penulis: Asri Tahir
Editor: Afrianty P.
Pardede
Penerbit: Elex Media
Komputindo
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.:xii + 297
halaman
ISBN: 978-602-02-5897-3
Raina
Winatama
Di
hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku.
Bukan
karena dia melarikan diri. Tapi dia pergi untuk selamanya.
Prakarsa
Dwi Rahardi
Di
hari pernikahanku, aku kehilangan mempelaiku.
Bukan
karena dia melarikan diri, tapi aku harus pergi untuk selamanya.
Pramudya
Eka Rahardi.
Di
hari pernikahan adikku, aku harus menjadi mempelai laki – laki.
Menjalankan
sebuah pernikahan yang harusnya dilakukan oleh adikku, Prakarsa Dwi Rahardi
***
Apa
jadinya jika tepat sehari sebelum pernikahan, duniamu seolah mendadak
terguncang dan semua hal hancur berkeping – keping? (ah, thanks God, saya gak
baca novel ini sebelum pernikahan saya).
Itulah
yang dialami Raina. Tepat sehari sebelum pernikahannya, sang kekasih, Raka,
mengalami kecelakaan hingga akhirnya tewas. Namun sebelum meninggal, Raka
sempat meminta kakaknya, Pram, untuk menggantikan dirinya menjaga Raina. Ini
dimaknai Pram sebagai keinginan Raka agar ia menikahi Raina menggantikan
adiknya itu.

Hingga
akhirnya setelah Raka meninggal, pernikahan tetap dilangsungkan dengan Pram
sebagai mempelai laki – lakinya. Raina sendiri tidak diberi tahu bahwa Raka
sudah meninggal dan laki – laki yang bersumpah untuk menjadi imamnya bukanlah
laki – laki yang ia cintai.
Setelah
itu masalah pun menjadi – jadi. Raina yang bersedih karena kehilangan Raka.
Kemarahan Raina karena merasa dibohongi oleh keluarganya. Kehidupan Raina dan
Pram, dua orang asing yang harus hidup bersama di bawah ikatan pernikahan. Masa
lalu Pram. Kerinduan akan Raka.
Semua
kemudian menjadi rangkaian cerita yang disuguhkan kepada pembaca. Bagaimana
pernikahan Raina dan Pram? Berhasilkah dua orang asing yang terpaksa menikah
mempertahankan pernikahan mereka?
***
Membaca
novel ini cukup menyenangkan karena alurnya yang dinamis. Di awal – awal bab
waktu berlalu dengan lambat. Merangkum sejumlah kejadian penting yang terjadi
dalam dua hari: sehari sebelum pernikahan dan pada hari pernikahan. 
Kemudian
cerita dibuat sedikit lebih cepat. Proses penerimaan Raina akan ketiadaan Raka.
Proses pendampingan Pram selama masa berduka Raina, hingga kemudian kebersamaan
Pram dan Raina. Masalah muncul satu persatu dan terselesaikan satu persatu
pula. Namun tetap saja rasanya bertubi – tubi.
Sejujurnya,
ide cerita ini memang menarik. Meski saya bertanya – tanya adakah ini terjadi
di dunia nyata? Kemudian anggaplah memang bisa, namun tetap saja ada logika
yang bolong di sini.
Pertama,
bagaimana mungkin proses pemakaman Raka hanya dihadiri oleh keluarga kecilnya
saja? Bukankah ini berita penting? Belum lagi yang meninggal adalah seorang
mempelai pria yang akan segera menikah? Apa iya tidak ada keluarga Raka yang
lain yang mengenali mobil Raka seperti Raina mengenali mobil Raka yang tampil
di berita?
Kedua,
bagaimana bisa prosesi pemakaman dan kemudian perjalanan menuju tempat
pernikahan bisa secapat itu? Raka meninggal paling cepat dari runtutan kejadian
adalah sore menjelang maghrib tapi yang saya tangkap adalah malam hari. Padahal
pagi berikutnya sudah akad nikah. Bagaimana sebuah keluarga bisa secepat itu
mempersiapkan semuanya apalagi ini dikerjakan sendiri lho? Kan ceritanya gak
ada keluarga yang ikut hadir.
Nah,
itu dia kekosongan logika yang cukup menggangu. Sisanya yang lain cukup bisa
dinikmati meski agak gereget juga sama penggambaran sosok Raina. Entah dia ini
manja, kuat, tegar atau gimana. Rasanya sulit membayangkan karakter yang cukup
bertolak belakang ada dalam diri satu orang.
Tapi
secara keseluruhan narasinya sudah mengalir dan enak di baca. Ide cerita yang
cukup menarik. Tinggal eksekusinya saja yang lebih dimatangkan.
Untuk
sebuah novel pertama, ini sudah bagus, mbak Asri Tahir. Saya tunggu karya
berikutnya (^_^)
***
Puisi
yang terinspirasi novel Not A Perfect
Wedding
Aku hanya ingin menjaga
Tak ingin melukai janji yang kuucapkan
Tak ingin membiarkannya sendiri dalam duka, ia perempuan yang dikasihi adikku

Aku hanya ingin bisa bertahan
Saat dunia yang kukenali luruh
Berganti rasa asing dan sendiri
Sedang laki-laki yang kucintai telah pergi

Kami hanya tengah berusaha
Menjalani takdir yang ditetapkanNya
Berdamai dengan duka & mencoba merangkai bahagia