“Abisnya,
semua kan sebenarnya tergantung sama diri sendiri. Kalau kita anggap seru, ya,
jatuhnya bakal seru. Kalau kita tergantung sama orang lain, itu sama saja hidup
kita dikontrol orang lain.” (Hal. 282)

Penulis: Vinca Callista
Penyunting: Strain
Sani, Dila Meretihaqsari
Desain & ilustrasi
sampul: Rony Setiyawan
Pemeriksa Aksara:
Yohana Shera
Penerbit: Bentang
Pustaka
Cetakan: Pertama, Mei
2015
Jumlah hal.: iv + 296
halaman
ISBN: 978-602-1383-46-9
Gadis
itu memandang cermin. Di sana ada bekas telapak tangan yang memerah di
sekeliling lehernya. Dia tertegun, mengingat kembali peristiwa semalam.
Tangan-tangan dingin itu datang lagi, mencekiknya tanpa ampun.
Tak
hanya itu peristiwa mengerikan yang terjadi di Rumah Mangga, kos misterius yang
ia tinggali belum lama ini. Sepasang kakek-nenek sering datang membawa
sekeranjang bunga kematian. Suara rintihan kesakitan, tulisan teror di tembok,
hingga jerit kemarahan anak kecil yang terdengar setiap malam, menghantui para
penghuni Rumah Mangga.
Sampai
akhirnya mereka menemukan, ada seseorang di antara mereka yang sangat mencintai
kematian, dan melakukan apa pun demi itu.
***

“Ini
peristiwa yang tak terduga. Kematian selalu terjadi tanpa terduga, dan menarik
perhatian.” (Hal. 3)

Novel
ini bercerita tentang sebuah rumah kost yang dihuni oleh 8 orang. Mereka adalah
Rory, Aria, Sandre, Cangi, Gandes, Mara, Danu dan Lian. Ada lima orang
perempuan dan tiga orang laki-laki.
Suatu
hari rumah kost tersebut pindah ke bangunan baru. Bangunan yang memiliki sebuah
pohon mangga di halamannya. Ini yang membuat mereka menjuluki rumah kost
tersebut sebagai Rumah Mangga. Lalu satu demi satu keanehan terjadi. Banyak hal
misterius yang muncul. Menariknya semua misteri ini muncul di tengah interaksi
yang terjadi di antara mereka. Hubungan-hubungan yang tercipta di antara mereka
sudah seperti benang kusut.
Mara
dan Danu yang merupakan pasangan kekasih yang paling bikin heboh karena sikap
posesif Mara yang bahkan tidak rela melihat Danu berbicara dengan perempuan
manapun. Kemudian ada Aria dan Sandre yang menyukai Rory. Sedangkan Rory
memperlakukan keduanya sama dekat dan mesranya. Lalu Gandes yang menyukai
Sandre. Dan Cangi yang menyukai Aria. Lian? Ia adalah serupa benang paling
kusut dengan warna paling gelap di antara teman-teman lainnya.
Selain
mereka, ada pula tokoh Kaatje yang menjadi misteri. Siapa dia? Kenapa ia
terkesan senang menyakiti diri sendiri? Dan apa hubungannya dengan para
penghuni Rumah Mangga?

“Hierarki
itu urutan tingkatan. Walaupun bisa sampai bikin individu nggak percaya diri,
hierarki juga bisa bikin seseorang terpacu buat ningkatin kualitas dirinya.
Hierarki bajal selalu ada di kehidupan ini.” (Hal. 75)

***

“Tenang
aja, saya nggak suka minta harga teman, kamu tahu kan? Seorang teman harusnya
ngedukung usaha temannya dengan jadi konsumen yang profesional, bayar sesuai
harga jual, dan bikin temannya dapat keuuntungan. Saya senang kamu ngelola
bisnis sendiri, jelas saya nggak ma jadi orang yang ikut bikin kamu bangkrut,
Ar.” (Hal. 136)

Membaca
bab awal novel Nyawa ini saya sudah dihinggapi rasa tidak nyaman. Kenapa? Karena
dibuka dengan kematian. Kematian yang misterius yang melibatkan sosok yang
jatuh dari panggng dengan leher patah dengan sepatu yang terisi peniti.
Kemudian
babak cerita berlanjut dengan mengambil setting di Rumah Mangga. Dan sesekali
disisipi dengan obrolan antara sebuah sosok yang menyebut dirinya “aku” dengan
tokoh bernama Kaatje. Pembicaraan mereka aneh tidak seperti obrolan pada
umumnya.
Dalam
cerita ini, penulis menyajikan misteri satu persatu. Awalnya muncul 3 misteri,
kemudian diselesaikan 1, kemudian hadir kembali 2 misteri, kemudian dijawab 3,
begitu ritmenya hingga akhirnya di akhir cerita semua misteri pun terjawab. Ini
membuat pembaca terus penasaran hingga akhir cerita namun juga tidak dibuat
bingung dengan sejumlah misteri dan hubungan yang rumit di antara
tokoh-tokohnya. Cara bercerita yang pas.
Namun
sedikit kekurangan yang terlihat adalah karena banyaknya tokoh perbedaan
karakter mereka kadang tidak benar-benar kontras. Seperti untuk tokoh Gandes
dan Cangi. Awalnya saya kesulitan membedakan keduanya. Karena gaya berbahasa
dan karakter menyebalkan mereka sangat mirip. Ada juga Mara yang tidak
dijelaskan penyebab ia menjadi posesif padahal ia tidak punya cukup alasan
untuk itu sebab ia sendiri cantik, menarik dan kaya.
Tapi
di luar kekurangan itu, novel ini cukup recomended
untuk yang ingin membaca genre thriller,
horor, misteri atau DarkLit

“…,
love is based on our needs. Kebutuhan kita kayaknya nggak sama ….” (Hal. 282)

“Saya
sayang kamu, …. Tapi saya suka merasa merdeka, jadi sebisa mungkin saya nggak
terikat dalam hubungan.” (Hal. 282)