sumber gambar: di sini
“Apa
amanat cerita tersebut?” Hm..sudah lama tidak membaca pertanyaan seperti ini.
Terakhir kayaknya saat duduk di bangku SMA.
Pertanyaan
ini secara eksplisit disampaikan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Kemudian
saat jawabannya pilihan ganda, maka mumet-lah
saya. Karena diminta memilih yang paling tepat padalah 2 dari 4 opsi jawaban
saya nilai tepat. Ha..ha.. sila abaikan curhatan yang terlambat ini.
Jika
ada yang bertanya tentang nilai amanat dalam sebuah cerita, maka saya ingat,
saya sering berkata bahwa saya adalah pembaca moralis. Ya..ya.. sok punya moral
baik. Ya kalaupun gak punya paling nggak saya berusaha. He..he..
Ini
karena nilai moral dari sebuah cerita sangat penting. Rasanya nilai sebuah buku
itu menjadi flat jika hanya berkisah tentang percintaan kemudian tokohnya yang
notabene masih remaja digambarkan sangat mellow. Bagi saya, itulah akan memberi
impact buruk untuk pembacanya.

Novel
remaja yang baik adalah novel yang menampilkan tokoh remaja yang tangguh.
Berani mengejar mimpi, mampu bangkit dari kegagalan dan bisa jadi tauladan yang
baik. Ini karena novel dengan tokoh yang cengeng dengan kehidupan yang berputar
di kisah percintaan seolah lupa atau bahkan merasa tidak memiliki orang tua
bisa memberi pengaruh buruk.
Membaca
novel percintaan di mana tokohnya mengancam akan bunuh diri jika ditinggalkan
bisa saja mendorong seorang remaja yang sedang kalut saat membaca novel
tersebut mencontoh tindakan tersebut.
Pemikiran
tersebut yang membuat saya merasa bahwa nilai moral ataupun amanat dalam sebuah
cerita menjadi penting. Meskipun cara bercerita penulis dalam menulis novel
tersebut kurang smooth namun jika
novelnya memberi rasa hangat dan semangat positif dan berbagi sebuah amanat
yang baik, maka nilainya akan meningkat di mata saya.
Hm..
kalau ditanya apa buku yang membuat saya memetik hikmah kemudian menerapkannya
dalam kehidupan sehari – hari, maka saya bingung menjawabnya. Saya suka membaca
kumpulan kisah yang merangkum kehidupan para Sahabat Rasulullah atau orang –
orang saleh. Ini karena hidup mereka sangat produktif dan bermanfaat. Dan
membuat saya malu sehingga termotivasi untuk mengikuti jejaknya. Meskipun
sampai sekarang belum berhasil 😀
Dan
satu novel yang rasa hangat di dada saat membacanya masih membekas sampai
sekarang adalah “Anne of Green Gables”. Membaca kepolosan Anne dalam memandang
semua hal sangat menarik dan positif. Semua hal buruk yang dialaminya mampu ia
lihat dengan sudut pandang positif.
edisi yang saya baca
Novel
ini mengingatkan saya untuk tidak sepenuhnya meninggalkan kesenangan masa
kecil. Serta menjadi pengingat agar saya tidak merenggut kesenangan masa kecil
anak-anak saya kelak.
Oiya, sedikit tambahan. Pertimbangan di atas tentang amanat dan nilai moral membuat saya tidak nyaman membaca novel lokal yang ditulis penulis Indonesia dengan setting tempat di Indonesia mengangkat cerita yang menggambarkan freesex seolah itu sudah mejadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Apalagi jika aktivitas hubungan badan tersebut diceritakan secara mendetail. Itu mengganggu!!!
Beda halnya jika buku tersebut adalah buku terjemahan dengan penulis dan setting negara di luar Indonesia. Maka saya tidak mau ambil pusing. Toh saya tinggal memilih unuk tidak memasukkannya di keranjang belanja saya.
Hm..baiklah, itu sedikit cuap – cuap saya dalam Opini Bareng yang diadakan oleh BBI.
Salam Buku,
Atria