“Masa remaja itu waktunya untuk belajar & menempa diri, bukan waktunya untuk pacaran” (hal.120)

Penulis: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
Penyunting: Radindra Rahman
Pendesain sampul: Adam S. Muhsinin
Ilustrator: MEDZ
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Wahyu Qolbu
Cetakan: I, 2014
Jumlah hal.: x + 206 halaman
ISBN: 979-795-877-9
Pacaran
bagi kebanyakan remaja mungkin mengasyikkan. Tapi tahukan kamu? Islam itu tidak
mengenal pacaran, Bro/Sist. Karena pacaran merupakan perbuatan yang mendekati
zina. Lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.
Kamu
mungkin menganggap, pacarmu adalah segalanya. Berpikir, kalau si doi udah pasti
akan menjadi pendampingmu kelak. Sampai-sampai memanggilnya pun udah Mama-Papa,
bahkan nggak sedikit yang udah berani ngelakuin hubungan intim layaknya
suami-istri. Astagfirullahal adzim. Apa kamu nganggep hal ini biasa, Bro/Sist?
Hadeuh… hadeuh… *Nepok jidat*
Ingat
dong Bro/Sist, PACARMU ITU BELUM TENTU JODOHMU! Jangan sampai deh nyerahin
segalanya. Yang udah pasti banyak ruginya itu di pihak cewek, lho, Sist! Begitu
cowokmu udah bosan, kamu ditinggalin begitu aja, dalam keadaan hamil pula.
Ibaratnya habis manis sepah dibuang. Kalau udah kayak gini, siapa coba yang
bakal ikut nanggung aib? Orangtua kamu juga, ‘kan? Emangnya kamu nggak kasihan
sama orangtuanyamu?? Jadi, udah deh nggak usah pacaran, Bro/Sist. Lebih banyak
sia-sianya. Tapi kalo kamu udah terlanjut pacaran, ya udah putus aja sekarang!
Buku
ini memotret kondisi nyata pergaulan masyarakat remaja saat ini. Penulis
menyusun buku ini berdasarkan pengalamannya dalam membimbing dan menerima konsultasi
dari para remaja seputar pacaran. Melalui buku ini, penulis ingin berbagi kiat
kepada para remaja agar tidak galau soal pacaran dan memberi solusi tentang
indahnya menikah tanpa pacaran.
***
Buku Pacarmu
Belum Tentu Jodohmu karya Muhammad Syafi’ie el-Bantanie ini adalah sebuah
tulisan non-fiksi yang diperuntukkan untuk remaja. Fokusnya?? Apalagi kalau
bukan “virus merah jambu” atau asmara. Di masa kini, tontonan dan bahkan bacaan
yang digandrungi oleh para remaja di Indonesia lebih sering mengenalkan
kegalauan hati pada para remaja. bahkan tidak sedikit “virus aneh” yang ditularkannya
seperti pakai “make-up” sejak remaja, minum minuman beralkohol, merokok, hingga
free sex. Bahkan tidak jarang semua perilaku ini ditampilkan sebagia bagian
dari perilaku orang-orang populer. Menempelkan kesan “keren” pada semua
perilaku itu. Ya Rabb.. (-_-“)

Buku ini dibuka
dengan sejumlah fakta berupa cuplikan berita tentang orang-orang yang
berpacaran. Tentang pemudi usia 17 tahun yang harus mengalami kehamilan dan kemudian
menggugurkannya; tentang kekhawatiran dan keterikatan perempuan yang sudah
menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang ia pikir mencintainya; tentang
perempuan yang terjangkit HIV; tentang perempuan yang meninggal di tangan
mantan kekasihnya; semua itu karena mereka kenal aktivitas pacaran. Mungkin di
luar sana masih ada kisah-kisah lainnya. 
Setelah
memaparkan kisah-kisah itu, penulis kemudian mulai menampilkan bahwa pacaran
adalah aktivitas yang lebih banyak mudharatnya terutama bagi para remaja. Bisa
mengganggu konsentrasi belajar, bikin capek hati, bahkan sampai membuat dompet
kosong. 
Di Chapter 6: Sia-sianya Pacaran penulis juga membantah sejumlah
argumen tentang manfaat pacaran. Seperti, pacaran itu penjajakan sebelum
serius, jawaban penulis?? “Bayangkan kamu sudah pacaran sekian tahun, katanya
untuk penjajakan sebelum menikah. Beberapa waktu kemudian, kamu putus.
Bayangkan betapa sia-sianya  masa
bertahun-tahun yang kamu lewati dengan pacar. Dalihnya masa penjajakan, tapi
nyatanya bubar.” (hal. 39)
Bab-bab
berikutnya pun selalu mengajak pembaca untuk menjauhi pacaran serta menganggap
bahwa status “jomblo” sebagai kebanggaan bukan hinaan. Bagi yang sudah
berpacaran didorong untuk memutuskan hubungan dengan sang pacar dan beralih
menjadi jomblo berprestasi.
Kemudian
menginjak bahasan Kalo Lu Cinta, Lamar
Gue
hal yang disampaikan penulis menjadi lebih serius. Membahas tentang
menikah. Yang kemudian dilanjutkan dengan bahasan lain terkait pernikahan.
Hingga akhirnya ditutup dengan Doa
Penarik Jodoh
.
***
Selama membaca
buku ini, saya merasa bahwa meski peruntukannya untuk remaja, namun di beberapa
bagian bahasanya masih terlalu serius dan kaku. Akhirnya, saya pun mencoba
meng-googling tentang rentang usia
yang tergolong remaja. Ternyata ada yang menyebutkan bahwa remaja itu dari usia
12 tahun hingga 21 tahun. Ok, ini membuatnya jadi cukup jelas. Tapi tetap saja
peruntukan buku ini jadi terlalu luas.
Ini membuat buku
ini di beberapa bagian menjadi tidak menarik sedang di bagian tertentu jadi
cukup menarik. Bagi usia remaja yang masih sekolah, buku ini sejak halaman 1
sampai 119 akan mampu diikuti dengan baik. Namun begitu membaca halaman  123 sampai akhir akan terasa kurang relevan.
Sebab mereka masih di usia sekolah yang rasanya pertimbangan menikah itu masih
harus ditunda hingga sekian tahun.
Sedangkan yang
berusia 19 tahun ke atas atau yang telah lulus dari sekolah Menengah Atas (atau
sederajat) akan cenderung lebih tertarik
dengan pembahasan di akhir-akhir buku ini. Sebab bayangan tentang pernikahan
sudah mulai berkelebat.
Selain hal di
atas, saya mendapati ada repetisi (pengulangan) pembahasan yang sangat terlihat
yakni di bagian Pacaran Membawa pada
Maksiat Sedangkan Nikah Membawa pada Taat
dengan bagian Pacaran Ngabisin Uang Sedangkan Nikah
Datengin Uang
. Keduanya membahas tentang hubungan  tangung jawab dengan rezeki yang diberikan
oleh Allah. Repetisi ini jadi terlalu terasa karena dekatnya bab pembahasan
tersebut. Meski saya paham bahwa repitisi ini memang diperlukan untuk saling mendukung
dan tetap mengingatkan pembaca tentang keyakinan bahwa jika niatan menikah
sudah baik maka rezeki untuk memudahkan menuju proses tersebut dan bahkan
setelah menikah akan semakin dimudahkan.
Hal lain yang
saya temukan adalah ada beberapa dalil yang menggunakan hadist, namun tidak
menyebutkan jenisnya apakah hadist tersebut shahih, hasan, atau dhaif. Ini saya
rasa penting untuk menghindari keraguan dari pihak lain yang mengambil dalil
berbeda. Oiya, untuk bagian Doa Penarik
Jodoh
sebaiknya diberi tahu do’a ini dicontohkan oleh siapa atau diambil
dari hadist apa, dsb. Sebab berdo’a pun ada adabnya dan contohnya (^_^)v
Tapi di luar itu
semua, secara tampilan, buku ini sudah menarik dengan adanya beberapa gambar
komik atau karikatur yang sesuai dengan isi bab tersebut. Serta isi buku yang
kadang berwarna. Selain itu karena bahasan di setiap bab cukup singkat, ini
membuat kejenuhan jadi berkurang.
Oiya, di
pembahasan tentang Mahar mungkin ada baiknya jika ditambahkan tentang bagaimana
memahamkan keluarga (terutama keluarga pihak perempuan) tentang  mahar yang memudahkan. Karena di banyak
kasus, keluarga perempuanlah yang menetapkan nilai mahar, bukan personal
perempuan yang dilamar tersebut.
Saya rasa ini
sudah cukup. Buku ini ide dan pembahasannya sudah menarik. Cuma perlu lebih
fokus lagi rentang pembacanya. Sehingga isi buku bisa disesuaikan. (^_^)v