Penulis                 : Sapardi Djoko Damono
Penerbit              : Bentang Pustaka
Cetakan               : Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.         : 94 + 88 halaman
Buku ini didesain dengan sistem
‘Side A-Side B”. Saya gak yakin yang mana side A dan mana yang B. Tapi saya
pribadi lebih suka menganggap bahwa “Pada Suatu Hari Nanti” sebagai Side A.
Alasannya?? Subyektif sih. Lebih karena saya selalu merasa bahwa aktivitas
selalu dimulai di siang hari, saat sinar matahari masih menyapa. 
‘Pada Suatu Hari Nanti” berisi
kumpulan cerita yang dibuat berdasarkan sejumlah dongeng ataupun cerita rakyat
yang sudah sangat wellknown di
masyarakat (khususnya yang memang senang membaca). Namun cerita ini kemudian
dikembangkan dengan sudut pandang yang unik dan bahkan jadi berbeda dari yang
aslinya.
Lihatlah kisah Rama-Shinta yang
kemudian “dipelesetkan” dengan sangat anggun oleh penulis. Beliau mengajak kita
berimajinasi tentang bagaimana kalau pertikaian antara Rahwana dan Rama diubah
menjadi perang kecerdasan. Maka seperti yang bisa dibaca dalam buku ini,
hasilnya akan menjadi tidak terduga-duga (^_^)v

Atau kisah Sampek – Engtay yang
dimodifikasi dengan setting ke kinian. Dengan mengubah endingnya yang tidak
lagi menjadi sepasang kupu-kupu melainkan seekor kupu-kupu dan seekor tikus
got. Benar-benar kreatif. Ada pula kisah tentang si Kancil, sang penipu ulung
yang kemudian akhirnya diceritakan berkali-kali gagal menipu karena adanya saingan
yakni Juru Dongeng yang membuat semau calon korbannya bisa menebak tipu
muslihatnya.
Namun dari semua kisah yang ada
saya paling suka kisah Malin Kundang yang mencoba menghindar dari takdirnya. Ia
yang berusaha menemui ibunya namun lupa bagaimana wajah ibunya. Akhirnya ia pun
meminta maaf pada semua ibu-ibu yang ia temui dengan berkata,” Ibu, saya anak
yang telah mendurhakai Ibu. Saya minta maaf atas dosa yang tidak bisa ditakar
itu, Ibu.” Namun semua ibu-ibu itu menjawab,” Lho, Nak, mana ada anak yang
durhaka kepada ibunya!”. Nah jika semua ibu-ibu itu menjawab seperti itu, maka
akankah pencarian Malin Kundang berakhir? Berhasilkah ia mengelakkan diri dari
takdirnya?
Saya pun akhirnya menamatkan
bagian “Pada Suatu Hari Nanti” dengan selamat meski kebingungan dengan cerita
terakhir yang berjudul “Ditunggu Doget” karena berisia perdebatan tentang
hal-hal yang berpasang-pasangan. Logika sebab akibat. Atau sejenisnya yang telah
diniscayakan manusia dalam berbahasa.
Saya pun membalik buku dan
memulai dari sisi yang berlawan untuk membaca Side “Malam Wabah”. Sejujurnya sisi
inilah yang membuat saya tertarik membeli buku ini. Saya suka dengan cara
penulis menceritakan dialog di antara benda-benda mati. Benda-benda yang oleh
kita diyakini tidak berbicara dan tidak berfikir. Lantas kita disuguhi cerita
ini dan diizinkan berimajinasi tentang benda-benda ini jika mereka diberi
kesempatan untuk berbicara.
Yang menjadi favorit saya adalah
kisah pertama yang berjudul “Rumah-Rumah”. Dalam cerpen ini diceritakan
curhatan dua rumah yang bertetangga. Mereka bercerita tentang harapan mereka
sebagai sebuah hunian. Tentanng nasib mereka dan tentang orang-orang yang
mereka harapkan akan mengisi mereka. Mereka pun saling berkomentar tentang
kondisi satu sama lain.
Sisa cerita yang lain pun menarik
untuk diikuti seperti cerita tentang sepasang sepatu tua. Ada pula cerita yang
saya yakin ditulis penulis berdasarkan kondisi kota Jakarta. Cerpen itu
berjudul “Membimbing Anak Buta”. Diceritakan bahwa sang ibu membawa anaknya
berjalan-jalan di sebuah kota sambil mendeskripsikan carut marutnya kota
tersebut. Mulai dengan macet, pengemis, pedagang kaki lima dan banjir. Ini benar-benar
ide yang menarik. Cerita-cerita di Side “Malam Wabah” jauh lebih terasa
realistis dan mudah dipahami karena ide ceritanya jauh lebih real dan dekat dengan kehidupan pembaca.
Berbeda dengan Side “Pada Suatu Hari Nanti” yang merupakan adaptasi dari
sejumlah dongeng yang mungkin tidak semua orang mengetahuinya.
Nah, jika harus memberi nilai pada buku ini maka saya memberinya 9 karena cover bukunya sangat menarik dan ide-ide cerita di dalamnya sangat unik (^_^)v

Oiya, buku ini saya ikut sertakan dalam Baca Bareng BBI bulan Agustus ini (^_^)v
*pertama kalinya ikut*