“…
mungkin aku harus belajar mencintai tanpa hati, hingga tak perlu sakit hati
saat mencintai.” (Hal. 33)


Penulis: Maria Ita
Editor: Chris Subagya
Desain isi: Oktavianus
Desain sampul: Joko
Sutrisno
Penerbit: PT Kanisius
Cetakan: 1, 2016
Jumlah hal.: xvii + 137
halaman
ISBN: 978-979-21-4646-2
“Meski
nafasku telah habis sekalipun, aku tetap mencintaimu. Karena aku hujan dan kamu
bumi.”
Kus,
dosen tampan, mengalami jatuh cinta yang luar biasa indah dengan Mar. Namun cinta
mereka terhalang. Suatu hari Kus ditemukan meninggal secara misterius. Banyak orang
mengira Kus bunuh diri dengan makan buah Bintaro.
Mar,
berusia tiga belas tahun lebih muda dari Kus, didera pengalaman hidup yang
berat bahkan harus melakukan aborsi di masa lalu. Mar tak bisa menerima
kenyataan bahwa Kus telah meninggal. Setiap malam ia pergi ke bawah pohon
Bintaro tempat ditemukannya jasad Kus, sambil membawa “pancen”. Dan tepat
seratus hari setelah kematian Kus, Mar juga menghilang.
Mengapa
Kus meninggal? Ke mana Mar? Akankah misteri cinta mereka terungkap?
***

“Rasanya
cinta justru lebih sering membuat orang menderita daripada bahagia. Aku tidak
siap untuk patah hati.” (Hal. 5)

Novel
ini berkisah tentang Elizabeth Tirta yang mencari Mar, kakaknya yang hilang. Ia
sengaja pulang kampung demi memecahkan misteri menghilangnya Mar. Di awal
kepulangannya, ia bertemu hm..bagiamana menyebutnya? Roh? Hantu? Arwah? Sosok itu
adalah Kus yang mengira Elizabeth sebagai Mar karena kemiripan mereka.
Sejak
itu, satu demi satu misteri menghilangnya Mar semakin terlihat. Dengan
menggunakan alur campuran yang sesekali menggunakan sudut pandang orang pertama
dari sisi Elizabeth dan sesekali menggunakan sudut pandang orang ketiga, seolah
menampilkan Elizabeth mendapat penglihatan tentang apa yang terjadi dalam
kehidupan Mar, cerita ini mengalir.
Ia
kemudian menemukan bahwa Mar dan Kus saling mencintai. Namun kenapa mereka
tidak bisa bersama? Ia juga menemukan betapa suami Mar yang bernama Kam adalah
laki-laki licik dan picik yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan Mar.
Apakah
ada hubungan meninggalnya Kus secara misterius serta menghilangnya Mar secara
mendadak dengan Kam?

“Dulu
Mar mengajarkan padaku bahwa baik atau buruk adalah pilihan. Dia mengatakan aku
boleh memilih yang terburuk sekalipun, yang terpenting adalah bagaimana aku
mampu menerima konsekuensi dari tiap pilihan itu.” (Hal. 28)

***

“Berkali-kali
mereka berpesan bahwa tak ada alasan apa pun bagi seorang perempuan untuk tidak
bekerja dan tidak ada alasan bagi kami untuk terus-menerus terpuruk saat jatuh.”
(Hal. 33)

Saat
membaca novel ini, seorang muslim harus mau membuka pikirannya. Kenapa? Karen
di dalam akan ditemukan banyak kutipan Kidung Agung. Hal yang asing bagi
seorang muslim. Selain itu, keyakinan tentang roh, arwah dan sebagainya jelas
tidak bisa diterima oleh akal sehat. Maka jangan seratus persen menggunakan
logika dalam memahami keseluruhan cerita di dalam novel Pancen ini.
Maka
kisah ini, harus diterima sebagaimana adanya. Kisah tentang dua orang yang
saling mencintai namun tidak ditakdirkan bersama. Tentang cinta yang membabi
buta dan egois. Tentang cinta yang tidak bisa padam meski benang takdir dan
bahkan maut telah memisahkan.
Kekuatan
novel ini ada pada diksinya. Pilihan kata Maria Ita membuat pembaca bisa
menikmati kisah ini. Memang sebuah tragedi namun deskripsi, puisi-puisi yang
ditampilkan membuatnya terkesan manis. Membuat pembaca tidak merasa bosan
membacanya.
Sedikit
yang terasa mengganggu dari novel ini adalah penggunaan alur campuran yang
terkesan kurang rapi. Di sebuah bab, cerita diketengahkan dengan sudut pandang
orang ketiga, namun mendadak di akhir bab, tokoh Elizabeth hadir sebagai
pencerita dan menggunakan sudut pandang orang pertama.

“Perempuan
akan berharga ketika mampu berdiri dengan kakinya sendiri.” (Hal. 33)

***
“…
saat harapan tak juga menjadi kepastian, itu artinya hidup harus terus
diperjuangkan dan bukan berhenti.” (Hal. 33)
 Give Away Time!!!
 
Hai..hai..
Mbak Maria Ita sudah menyediakan hadiah untuk 2 orang pemenang yang beruntung
mendapatkan novel Pancen bertanda tangan penulis.
Mau
jadi pemenang yang beruntung tersebut? Syaratnya mudah:
1.
Peserta berdomisili di Indonesia
2.
Wajib follow akun twitter Maria Ita di @marrielines dan akun twitterku,
@atriasartika
3.
Promosikan Give Away ini di akun twittermu dengan tagar #GAPancen dan mention
akun twitter @marrielines dan @atriasartika
4.
Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar:

“Pancen
berasal dari kata panci, istilah ini digunakan oleh orang Jawa saat mengirimkan
sajian bagi arwah orang yang dicintai yang sudah meninggal. Diberikan selama 40
hari sejak meninggal, saat weton dan peringatan-peringatan meninggalnya. Biasanya
berupa makanan/minuman kesukaan orang yang sudah meninggal tersebut. (Hal. xii)
Nah,
apakah di daerahmu ada tradisi serupa? Bagaimana tradisinya?”

Jangan
lupa sertakan data dirimu berupa nama, akun twitter dan email ya.
5.
Periode Give Away di blogku: 25 Juni – 2 Juli.
Nah,
semoga beruntung ya, Readers 😉

“…,
menurutku kita tidak boleh serta merta menghakimi orang, apalagi sibuk
mengurusi urusan orang lain. Diperlukan data-data dan analisis yang kuat.”
(Hal. 41)