Teruntuk
Pangeran Pengelana,
Sudah
berapa lama kau menghilang dari hidupku? Sebulan? Dua bulan?
Bukankah
kau selalu begitu. Menghilang bak ditelan bumi kemudian muncul kembali dengan
penampilan yang bagi orang lain terlihat tak terawat, namun bagi yang mengerti
itu adalah sisa perjuanganmu kemarin.
Aku
perempuan yang selalu menatapmu. Akulah yang paling memahamimu.
Aku
tahu, rambut yang memanjang dan kemunculan jerawat kecil di keningmu, di dekat
dagumu adalah buah dari kehidupan seru yang kau jalani sesekali. “Menyapa alam,”
katamu. Alasan lain yang sering kau utarakan di depan khalayak adalah bahwa
dengan begitu kamu tidak akan lupa untuk selalu menjadi bermanfaat.
Hutan
yang rimbun dengan pepohonan yang menjulang adalah penghasil air saat musim
kemarau panjang datang. Ia memberi, meski sering kali manusia lalai mengingat
kebaikannya.
Pun
denganmu, aku melihatnya. Berkali-kali. Perempuan dengan kulit putih dan rambut
lurus panjang sebahu yang mengerucutkan bibir itu. Ia, perempuan yang selalu
kau datangi pertama kali saat pulang dari berkelana. Sering kali aku digigit
kesal karenanya. Sebab aku tahu, bukan itu yang kau harapkan darinya.
Kau
berharap ia akan berbangga atas apa yang kau lakukan. Toh perjalananmu kali ini
sambil memanggul setumpuk buku untuk anak-anak di desa sana. Desa yang
jangankan mendapatkan buku, mendapatkan listrik saja masih susah.
Kau
tahu, jika aku yang ada di sisimu, aku akan memberikan senyum terbaik untukmu.
Memastikan bahwa aku bisa mengurangi lelahmu. Berusaha membuatmu tertawa.
Mengajakmu menonton film AADC 2 yang baru tayang demi menikmati film dan puisi.
Dua hal yang aku tahu amat kau gandrungi.
Sayangnya
aku tidak mungkin melakukannya. Aku hanya bisa membantumu mencari data untuk
tugas-tugas kuliah yang kau lewatkan minggu lalu. Ah, andai kau tahu Pangeran
Pengelan betapa aku ingin membuatmu menyadari perasaanku. Sayangnya, kau hany
mencariku di saat seperti ini. Sebab bagaimana mungkin kau tertarik pada gadis
dengan rambut sepundak, berbekal ransel dan sneakers
serta kacamata berminus lima yang ketika berjalan hanya bisa tertunduk sebab
tidak ingin menjadi pusat perhatian. Meskipun jujur, aku berharap bisa menjadi
pusat duniamu.
Ah,
itu kamu datang. Paling tidak aku menjadi orang kedua yang kau datangi setelah
puas berkelana. Ya orang yang kau temui demi memastikan IPK-mu melewati batas
minimum penerima beasiswa. Ya, aku harus berpuas dengan itu.
Salam
Sayang,
Putri
Malu yang Memandangimu Tanpa Jemu