“I
think instead of thinking of being normal. It’s better to think that you are
special.” (Hal. 82)

Penulis: Sofi Meloni
Editor: Irna
Permanasari
Desain sampul: Marcel
A. W.
Layout: Ayu Lestari
Penerbit: Gramedia
Cetakan: pertama, 2015
Jumlah hal.: 248
halaman
ISBN: 978-602-03-2408-1
Hey,
Cinta. Apakah kamu di sana? Oh, tidak? Mungkin di sini? Tidak juga ternyata.
Sebenarnya kamu di mana?
Memulai
kehidupan profesional tidak semudah yang kubayangkan saat aku memutuskan pindah
ke Jakarta. Macet dan polusi di mana-mana, Transjakarta yang sesak, serta kopi
pahit yang disodorkan rekan kerjaku setiap pagi. Belum lagi atasanku, Pak
Daniel, yang kelewat misterius.
Semunya
semakin rumit saat masalah datang dan mempertemukanku kembali dengan Evan, pria
yang mengajakku berkenalan di halte Transjakarta. Kejutan lainnya juga berada
di kota yang sama denganku dan mengajak ketemuan! Entah berapa banyak lagi
kejutan yang menantiku di kota metropolitan ini.
Hey,
Cinta. Apa aku akhirnya akan menemukanmu di sini?
-Lulu-
***

Lulu,
perempuan asal Puncak, Bogor, menjalani kehidupan di kota Jakarta. Menjadi bagian
dari kehidupan ibu kota yang serba cepat dan penuh hiruk pikuk. Pun dengan
dunia kerja yang dihadapi Lulu. Berhadapan dengan intrik dan persiangan jelas
tidak terhindarkan. Namun semua menjadi bertambah runyam saat hal tersebut
diperparah oleh masalah percintaan.
Lulu
yang awalnya tidak memiliki perasaan apapun pada Evan saat pria itu mengajaknya
berkenalan di Transjakarta, ternyata tanpa sadar mulai menyimpan perasaan pada
Evan. Ini karena sebuah masalah di kantor memaksa Lulu untuk banyak bekerja
sama dengan Evan. Namun saat Cindy, teman sekantor Lulu yang cantik dan sangat
menyadari kecantikannya itu, hadir di tengah hubungan Lulu dan Evan, Cindy
harus menelan pil pahit. Ia harus menyadari bahwa secara fisik ia memang tidak
semenarik Cindy. Ia pun kemudian menyadari sebuah kenyataan yang membuatnya
mempertanyakan ketulusan Evan berteman dengannya.
Saat
semua hal memburuk, kehadiran Sam, sosok yang hanya dikenal Lulu di dunia maya,
membawa kenyamanan di hatinya. Teman chating
 yang menyenangkan dan punya
kemampuan fotografi ini berhasil membuat beban di hati Lulu semakin berkurang. Namun
saat Sam mengajak Lulu untuk bertemu secara langsung, ada keraguan di hati
gadis itu. Akankah hubungan mereka berbeda jika pertemuan ini malah merusak
ekspektasi mereka terhadap satu sama lain?
Seolah
semua belum rumit, Lulu merasa hal yang berbeda pak Daniel, atasannya di
kantor, yang misterius. Namun  entah
bagaimana menjelaskan hal yang dirasakan dan dipikirkan Lulu terhadap bosnya
itu.
Kira-kira
dari semua hubungan Lulu ini yang manakah yang sebuah lelucon dan mana yang
sejati?

“There
is nothing ridiculous about being in love and mad about this matter.” (Hal.
140)

***

“There
is only one thing human can’t control. Its the feeling.” (Hal. 140)

Sejak
membaca karya pertama Sofi Meloni saya selalu mendeskripsikan tulisannya
sebagai tulisan yang rapi dengan logika cerita yang pas. Runut namun tidak
membosankan. Cerita berhasil dituturkan dengan mengalir dan menarik.

Keseluruhan
cerita di novel ini berusaha menampilkan sebagian kecil potret kehidupan di
Jakarta serta kehidupan dunia kerja. Meski sayangnya kisah terkait Transjakarta
hanya berkutat di kehidupan Lulu dan Evan, tidak ada eksplorasi lain yang
membuat kisah ini semakin down to earth.
Transjakarta hanya terkesan sebagai tempat pertemuan tokoh utamanya namun tidak
nyata karena ketiadaan detail sosial lainnya seperti adegan dengan penumpang
lain atau fragmen lainnya. Tapi di luar itu, deskripsi lainnya sudah pas.
Untuk
penokohan, Sofi Meloni berhasil membangun karakter yang mewarnai cerita melalui
peran mereka masing-masing. Pembaca dibuat menahan geram pada sosok seperti
Cindy. Cantik namun memanfaatkan kecantikannya dengan caranya sendiri. Cindy
ditampilkan sebagai perempuan manipulatif. Ia menjadi sosok yang mudah dibenci.
Pun dengan Evan. Emosi pembaca terhadap tokoh ini dimainkan dengan baik hingga
saat terakhir, pembaca dibuat memilih ingin membenci atau tetap menyukai tokoh
ini. Sam dan Pak Daniel? Mereka sosok yang mudah dicinta. Lulu? Ia sebenarnya
cenderung kontradiktif. Jika ia sosok yang menyukai kesendirian, kenapa ia
tidak kuat dan mampu membela diri sendiri? Karena bukankah kemampuan ini akan
terbangun dalam diri seorang penyendiri? Ini membuat pembaca bisa tidak
bersimpati pada tokoh yang sikap lemah.
Namun
keseluruhan cerita sudah menarik. Ceritanya simple dan manis. Menyenangkan
untuk dibaca.