Di sisi lain dari cinta ada benci. Di sisi lain dari kepercayaan ada pengkhianatan.
Itulah mengapa pengkhianatan sering kali dilakukan oleh orang-orang terdekatmu
karena kepercayaanmu hanya milik mereka.” (Hal. 82)

Penulis:
Rons Imawan, dkk
Penyunting:
Starin Sani, Ikhdah Henny, Pratiwi Utami, Dila Maretihaqsari
Perancang
Sampul: Bara Umar Birru
Pemeriksa
Aksara: Tiasty, Pritameani, Mia
Penata
aksara: gabriel_sih
Penerbit:
Bentang Belia (PT Bentang Pustaka)
Cetakan:
Pertama, Maret 2015
Jumlah
hal.: xiv + 306 halaman
ISBN:
978-602-1383-43-8
“Kematian
hanya menghentikan hidup, bukan cinta.”
Di
ambang kepayahan, seseorang hadir menyelamatkanku melalui transplantasi hati. Namun,
keajaiban itu rupanya ilusi. Aku harus melanjutkan mimpi burukku sejak terjaga
dari meja operasi.
Lebih
panjang. Lebih kejam.
Nyatanya,
dia tak hanya mewariskan seonggok hepar, tetapi juga seluruh kenangan dan kisah
cintanya yang tak kelar, yaitu kamu. Jiwa ragaku dikendalikan. Aku bukan diriku
lagi.
Hidupku
terperangkap dalam avatar. Ini lebih parah dari kematian.
         
After Heart –
***
Buku Perfect Mistakes ini adalah sebuah kumpulan cerita. Tepatnya,
sembilan kumpulan cerita tentang dosa dan penebusannya. Cerita – cerita ini
ditulis oleh 8 penulis. Yup, ada satu penulis yang menulis lebih dari satu
cerita. Ia adalah Rons Imawan, penulis utama di buku ini.
Kisah After Heart yang ditulisnya
menjadi kisah utama di dalam buku Perfect Mistakes. Kisah yang ditulisnya
mengambil porsi 103 halaman dari 306 halaman yang ada. Dan harus saya akui
bahwa cerita ini memang menarik.
Ok, karena ini adalah kumpulan
cerita, maka izinkan saya mereview satu persatu cerita di dalam buku ini,
Readers. Saya review sesuai urutan ceritanya saja ya, seperti biasanya (^_^)v
Dimulai dengan cerita pertama
berjudul Untuk Indira karya Haruka, saya dibuat jatuh cinta dengan
buku ini. Opening cerita cukup menyita perhatian. Membuat penasaran. Ada apa?
Kemudian setelah cerita dituturkan tentang kesalahan Redi, tokoh utamanya, dan
penebusannya saya pun mulai memahami keseluruhan cerita. Di pertengahan cerita
pembaca sebenarnya sudah menebak kesalahan Redi pada Indira. Tapi orang terus
bertanya, selanjutnya bagaimana? Apa reaksi Bu Rima? Dan ending cerita pun
tetap menarik. Oiya, sayangnya tokoh Kelly kurang dieksplorasi. Hanya di
beberapa bagian dan kesannya jadi semacam tempelan. Tapi secara keseluruhan,
saya suka sama cerita ini (^_^)

Berikutnya adalah cerita kedua
berjudul Lamunan Jendela karya Kwartika Ade Arimbi. Ide ceritanya
menarik. Tentang perempuan yang punya cinta terpendam dan berakhir dengan
buruk. Dan saya pun suka dengan twist di endingnya yang menunjukkan seberapa
kuat tokoh Vaya dalam menghadapi kenyataan. Sudut pandang orang pertama yang
dipakai menguatkan cerita. Serta twist yang mengingatkan pembaca betapa
keberanian bisa mengubah banyak hal. Satu keberanian saja. Oiya, yang kurang
hanyalah hubungan lomba menulis cerita yang dijadikan opening cerita. Kalis, teman
Vaya yang memaksa Vaya mengikuti lomba menulis, seolah tahu kisah Vaya padahal
tidak. Kan ini jadi aneh. Tapi hanya itu kok yang terasa mengganggu.

“Saya
ingin buku ini  bisa kami isi bersama,
bukan hanya tentang cinta yang diam-diam. Bukan tentang dia yang diam-diam
memandangi saya melalui jendela. Tapi, tentang kami yang saling memandang satu
sama lain, sembari tertawa.” (hal. 43)

 Cerita ketiga adalah Crown for a Brave Girl karya Nday. Saya suka pesan moral yang
ditampilkan cerita ini. I love it. Yup, mengangkat cerita korban perkosaan tapi
dari sisi lain. Sudut pandang orang ketiga yang dipakai melalui tokoh Marin ini
menarik. Ini menjadi twist cerita yang memegang peranan penting untuk
keseluruhan cerita.

“Hidup kamu masih
berharga dan akan terus berharga selamanya. Nggak peduli siapa pun yang coba
menghancurkan kamu, kita harus berani melanjutkan hidup. Karena hidup kita
berharga. …” (Hal. 61)

Sedikit yang kurang adalah
penuturan yang kurang mengalir. Alur campuran yang dipakai kurang mampu
menyiasati kebosanan pembaca. Cara bercerita yang perlu dibuat lebih menarik
lagi.
Berikutnya adalah cerita keempat
sekaligus cerita utama di buku ini. After
Heart
karya Rons Imawan. Pertama
membacanya, saya dibuat suka dengan diksi yang dipakai oleh penulis.
Mengetengahkan cerita tentang transplantasi hati yang menyebabkan penerima hati
bisa merasakan masa lalu dan bahkan perasaan pendonor hati. Kisah semacam ini
sudah ditulis oleh beberapa penulis. Cecilia Ahern pernah menjadikan ide bahwa
sekedar donor darah pun punya kemungkinan untuk mentransfer ingatan seseorang.

“Ada yang bilang, tragedi
paling menyedihkan dalam hidup adalah kematian seseorang yang sesungguhnya
masih hidup. Kematian memang tragedi, tetapi membiarkan sebagian dari kita tak
bernyawa adalah tragedi hidup sesungguhnya” (Hal. 66)

Bedanya, Rons Imawan menampilkan
kisah ala Romeo & Juliet yang dikaitkan dengan cerita di dunia medis ini.
Bahwa penerima donor bisa merasakan perasaan pendonornya. Secara khusus penulis
menceritakan tentang hati dan hubungannya dengan rasa cinta. Cinta yang
menggebu yang bisa ditransfer ke kehidupan berikutnya, kehidupan penerima organ
tubuhnya.

“Jatuh cinta itu untuk
dirasakan, bukan diceritakan. Medefinisikan keangkuhan cinta yang dicerabut
dari dadamu oleh seseorang adalah rasa yang paling sulit diungkapkan.” (Hal.
77)

Ide ceritanya menarik. Twistnya
juga manis. Sayangnya, diksinya di sepanjang cerita terlalu “berbunga”. Ini
mengganggu kenyamanan saya membaca. Diksi yang manis dan cerdas sebaiknya tidak
ditempatkan di keseluruhan cerita. Letakkan di saat emosi pembaca bisa ikut terbawa.
Selain itu, saya sedikit kebingungan dengan alur waktu cerita yang campuran.
Bolak-balik. Dan dalam rentang waktu yang cukup panjang. Sembilan tahun.
Tapi secara keseluruhan. Cerita ini
manis.
Cerita berikutnya berjudul Alibi karya M.H Mubarok. Opening cerita yang ala detektif membuat saya cukup
penasaran. Kasus apakah gerangan? Kemudian scene
cerita pindah ke kehidupan gadis kecil bernama Mia. Ia dan ayahnya serta Dea,
pengasuhnya menjadi sorotan cerita. Mengeksplorasi cacat fisik Mia, penulis
menggiring pembaca ke cerita inti. Twistnya terbaca namun kelanjutan ceritanya
masih menarik untuk diikuti. Hm, kisah yang manis.
Cerita keenam berjudul Realitas Palsu karya Dita Indira.
Mengambil genre scifi, kisah ini
menarik. Mengangkat tentang pengorbanan seorang ayah demi putrinya. Tony,
laki-laki tanpa lengan kanan. Kecelakaan merenggut lengannya dan juga merenggut
istrinya. Hanya menyisakan Sara, putrinya. Sayangnya, Tony merasa bahwa
putrinya merasa malu karena memiliki ayah yang cacat. Maka Tony pun
memanfaatkan teknologi kloning yang sedang dikembangkan oleh Sam, sahabatnya.
Twist cerita ini bagus, tidak terduga. Sayang emosinya kurang terbangun.
Cerita ketujuh berjudul Sumpah Konyol karya Afgian Muntaha. Ceritanya tidak
sekonyol atau selucu yang dijanjikan oleh judulnya. Dengan mengambil sudut
pandang orang ketiga, penulis menceritakan sepenggal kisah Cahyo, seorang anak
yang berusia 10 tahun. Cerita yang ditulis Afgian Muntaha sangat dekat dengan
kehidupan kita sehari-hari. Tentang kebohongan. Menariknya penokohan Cahyo yang
ditampilkan oleh penulis ini tergolong unik. Ia menebuh kesalahannya dengan
sebuah janji yang teguh ia genggam. Janji yang cukup serius bagi seorang bocah
10 tahun. Ceritanya amat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, sayangnya
masih terkesan datar.
Cerita kedelapan berjudul Bulan Belum Datang karya Dadan Erlangga. Cerita yang ditulis
mewakili problema masa kini. Tentang remaja yang berusaha membuat dirinya
diterima oleh lingkungannya namun sebenarnya secara ekonomi kurang bisa
mengikuti pergaulan teman-temannya. Menarik. tapi sayangnya terlalu banyak
tokoh yang dimasukkan dan kurang dieksplor lagi. Tapi cara penulis
menyelesaikan cerita juga bagus meskipun Bulan tetap saja belum ditemukan.
Cerita terakhir ditulis oleh Rons Imawan. Cerita ini berjudul Perfect Mother. Cerita yang cerdas
menurutku. Karena menampilkan Jonah yang mencoba menanyakan sesuatu kepada
ibunya dengan terselubung. Sayangnya itu menjadi salah paham yang berbuntut
panjang. Tapi kenapa penggambaran tokoh Jonah membuat saya teringat Forest Gump
ya? Oiya, akhir ceritanya bagus. Saya pikir ibunya meninggal bunuh diri.
He..he.. ternyata saya terkecoh.
***
Ok, itu dia review saya untuk
masing-masing cerita dalam buku ini. Kalau untuk secara keseluruhan, buku ini
menarik karena keberagaman tema yang muncul. Bukan kisah romantis pasangan
muda-mudi saja. Tapi ada tentang keluarga dan bahkan ada juga tentang korban
perkosaan.
Untuk sampul, kurang eye-catching. Warna hitamnya sudah
memikat ornamennya yang kurang sesuai. Nama penulinya pun sebaiknya pakai huruf
timbul berwarna putih. Kalau ingin menonjolkan penulis dan cerita utama, bisa
dengan membuat fontnya sedikit lebih besar.
***
Ok, sekian review kali ini. Saya
sedang tidak sanggup membuat puisi mini karena kondisi kesehatan yang memburuk.
Semoga reviewnya bisa memuaskan penasaranmu ya, Readers. (^_^)
 

saya & Perfect Misakes