“..setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak
langit. Dan, jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak
tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan
diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas”
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penerbit : Mizan
Cetakan :II, Juli 2011, Gold Edition
Jumlah hal. : 282 halaman
“Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh
simbol yang menghidupkan kembali di mati dan memberikan hadiah kehidupan yang
kekal kepada yang hidup”
Sebagai seorang
penggemar karya Jostein Gaarder, membaca buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
pada saat sekarang ini tergolong terlambat. Saya jauh lebih dulu mengenal Vita
Bravis, Misteri Soliter dan Gadis Jeruk yang merupakan karya Jostein Gaarder
lainnya. Maka jika harus membandingkan buku ini dengan buku-buku lainnya maka harus
saya akui bahwa penuturan di buku ini jauh lebih ringan apalagi memang karya
ini tampaknya ditujukan untuk anak-anak.
Buku
Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken adalah sebuah buku yang disuguhkan dengan cara
yang cukup menarik. Buku ini disetting agar pembaca seolah membaca sebuah buku
surat yang ditulis secara bergantian oleh dua orang sepupu yang tinggal secara
terpisah. Mereka bernama Berit Boyum dan Nils Boyum, keduanya berusia sekitar
12 tahun –kalau ditelusuri dari cerita mereka-. Keduanya bertukar buku surat
yang tampak sepeti sebuah diary bersama yang mereka isi. Awalnya mereka lebih
fokus pada cerita keseharian mereka, namun akhirnya isi ceritanya lebih
berfokus pada wanita bernama Bibbi Bokken.
Kehadiran sosok
Bibbi Bokken ini bermula dari cerita Nils yang menemukan surat aneh yang
ditulis oleh seorang bernama Siri untuk Bibbi Bokken tentang buku yang bahkan
belum ditulis tentang sebuah “perpustakaan ajaib”. Hal ini menggelitik rasa
ingin tahu mereka sehingga mereka pun memutuskan untuk mencoba menelusuri sosok
Bibbi Bokken dan keberadaan buku tersebut hingga keberadaan perpustakaan ajaib
yang disebut-sebut itu. Setelah itu cerita ini menjadi semakin seru saat banyak
kebetulan yang menunjukkan jalan kepada mereka untuk semakin mendekati
jawaban-jawaban atas pertnyaan mereka. Namun diwaktu yang sama mereka pun
merasa terancam dan diawasi oleh seseorang (atau sekelompok orang). Hal ini
semakin ditegaskan dengan munculnya Mr.Smile yang seolah berupaya mencelakakan
mereka dan merebut buku surat tersebut. Sebenarnya apa yang telah mereka
ketahui dan dapatkan hingga ada pihak-pihak yang menginginkan buku surat
mereka?
Bagi seorang
yang tergila-gila pada buku, maka buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken ini
layak untuk dibaca dan dimiliki. Banyak pengetahun terkait buku yang akan kita
temukan di dalam buku ini. Seperti kata “incunabula” dan “Bibliografer” yang
mungkin masih asing bagi orang-orang yang belum benar-benar berkecimpung dalam
dunia buku dan kepustakaan. Selain itu orang-orang yang benar menyukai buku
akan lebih mampu membayangkan dan merasakan kesenangan-kesenangan yang digambar
di dalam buku ini. Tapi bagi yang belum begitu suka membaca buku, buku ini
tetap cukup recomended  karena cara penuturannya ringan dan ceritanya
orisinil.
Kalau harus
memberi nilai untuk buku ini dengan skala 1 – 10, maka buku ini mendapat nilai 9
dari saya. (^_^)v
“Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat,
akan berada di tengah-tengah teman terbaik”
Quote lainnya:

 “Ini pemikiran yang penting, Nils. Maksudku, fantasi tak berbeda
dengan kebohongan. Terkadang fantasi adalah kebohongan itu sendiri.”

“Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan
pembohong yang paling antusias. Maksudku mereka hidup dari situ dan
orang-orang dengan sukarela membeli kebohongan mereka.”

“Aku rasa, beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain
senang dibohongi. Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar
yang didalamnya kebohongan berkumpul berbaris-baris, dan kita
menyebutnya sebagai perpustakaan. Kita pun dapat menjulukinya sebagai
“laboratorium kebohongan” atau yang paling mirip2 itu. Mungkin paling
baik kita menamai perpustakaan dengan “tempat penyimpanan lelucon dan
fakta””