Dear
lelakiku,
Sudah 100 surat yang kuterbangkan
berisi setiap harap untuk seluruh waktu yang akan kita lewatkan di masa depan.
Seberapa pun singkat atau panjangnya ia kelak.
Dan ini adalah surat ke 101 yang ingin
kutuliskan panjang. Mungkin saja ini menjadi surat terakhir yang kutuliskan
untukmu. Atau bisa jadi ia bukan yang terakhir. Entahlah.
Ya, setidak terduga itulah masa depan.
Seperti setidak terduganya semua perjalanan yang kita tempuh hingga ada di
titik ini. Kau dan aku bersatu menjadi kita bukanlah bagian dari rencana saat
itu. Namun sungguh Dia-lah yang paling tahu. Rencana-Nya selalu yang terindah.

 

Lewat surat ini, aku hanya ingin memberitahumu bahwa
masa depan memang tidak terduga. Namun sejak janji itu kau lantangkan di
hadapanNya untuk memindahkan tanggung jawab atas penjagaanku dari kedua orang
tuaku, maka saat itu aku pun berjanji untuk menjaga “kita”. Di dalam
kelemahanku, aku akan terus berusaha untuk tetap menjadi pendukungmu.
Di balik semua masalah yang telah
kutimbulkan, aku berjanji untuk tidak membuatmu terbebani. Sembari berharap
bahwa “kita” akan selalu utuh. Apapun yang terjadi, seberapa pun jarak
memisahkan, dan seberapa pun badai yang menghantam.
Aku selalu percaya bahwa ketika kau
berkata, “titip doa untukku” ketika kau tahu aku akan menemui Rabb-ku dalam
sujud, itu adalah pesan agar aku selalu menjaga “kita”.
Dan sungguh tidak mudah melakukannya.
Banyak hal yang harus dikompromikan. Banyak hal yang harus dihadapi. Dan banyak
kerumitan yang harus diurai.
Dan terinspirasi oleh kalimatmu bahwa
aku harus selalu ingat untuk barkata “maaf”, “terima kasih”, dan “tolong”.
Maka biarkan surat ini menuliskan
ketiga hal itu.
“Maaf untuk setiap keluh yang
membebani. Maaf untuk semua kesalahanku yang menjadi kerikil tajam yang
melukai. Maaf untuk semua hal yang sudah kulakukan. Maaf untuk setiap kesalahan
yang kelak tidak bisa kuhindarkan.”
“Terima kasih untuk setiap kesabaran
yang kau sediakan. Terima kasih untuk setiap kelembutan dan dukungan yang sudah
kau berikan. Terima kasih untuk setiap senyum yang bantu kau ukirkan.”
“Tolong terima semua kekuranganku.
Tolong sediakan kesabaran tanpa batas untukku. Dan tolong jaga ‘kita’”.
Tulisan
ini adalah tulisan untuk Kontes Blog “Pesawat Kertas Terakhir”