“Kelak semua akan memaksamu
memilih. Ketika saat itu datang, aku lebih suka kamu memilih untuk mengikuti
kehendak orang tuamu,” kalimat itu dilontarkannya saat aku bercerita tentang
rencana perjodohan yang ditetapkan oleh orang tuaku.
Ia Krisna, sosok yang menemani hari-hariku dalam 1 tahun
ini. Pria yang acap kali mengomeliku tentang kecenderunganku untuk mendebat
banyak hal.
“Sayang, tidak semua hal harus
kamu debati. Terkadang lebih baik diam,” itu salah satu tegurannya saat ia mendapatiku
telah mendebat pembicaraan seseorang. Dia tidak akan menegurku di depan umum.
Ketika kami telah berdua atau sedang ngobrol via gelombang yang diperantarai
oleh handphone maka ia akan mencoba mengingatkanku tentang kebiasaan burukkku
yang satu itu.
Aku kini terjebak antara Rian dan
Krisna. Ya, Rian adalah pria yang dipilihkan orang tuaku untuk menjadi
pendamping hidupku. Aku berupaya keras untuk menolaknya sekeras upaya orang
tuaku untuk memaksaku memutuskan hubungan dengan Krisna. Satu hal yang selalu
menjadi alasan orang tuaku yakni bahwa Krisna tidak punya pekerjaan tetap.
Berbeda dengan Rian yang merupakan seorang pegawai bank dengan posisi yang
sudah cukup tinggi. Usianya 6 tahun lebih tua dariku.
“Kania, cobalah mengenal Rian.
Mungkin dia memang baik untukmu,” saran Krisna padaku sekitar 2 bulan lalu.
“Oh, jadi kamu mau aku setuju
dengan perjodohan itu?” kataku dengan sinis. Aku kesal mendengar penuturan
Krisna.

“Bukan, aku hanya ingin kamu adil, Sayang. Dia berhak kamu beri kesempatan,”
kata Krisna yang kujawab dengan diam panjang, tanda bahwa aku kesal dengan
pembicaraan itu dan padanya. Dan seperti biasa dia selalu berhasil membuatku tertawa
dengan godaannya dan membuatku tidak bisa marah padanya.
Dan karena permintaan Krisna, aku
pun mulai membuka diri pada Rian. Mulai menerima ajakannya untuk berwisata
kuliner ke berbagai tempat dan berburu buku-buku tua yang keren di loakan. Tanpa
kusadari Rian berhasil mengalihkan perhatianku padanya. Dan kini Krisna datang
untuk meneguhkan posisi.
“Kania, bagaimana hubungan kamu
dengan Rian?”
“Sejujurnya, aku bingung. Aku tak
pernah berfikir bahwa Rian akan berhasil menyelusup ke hatiku. Aku membuka
pintu untuknya atas permintaanmu. Dan sekarang aku bingung,” Jawabku lemah.
Krisna pun terdiam sambil memandangi cincin di jari manis kanan-ku yang sibuk
kumainkan.
“Krisna, aku rasa aku harus
memilih sekarang. Harus aku akui bahwa aku masih sayang sama kamu. Tapi aku pun
mencoba realistis karena semakin aku mengenal Rian semakin aku tidak punya alasan
untuk menolaknya,” jawabku akhirnya setelah terdiam sesaat.
“Aku memilih untuk bersama Rian,
karena itu pilihan yang paling mudah. Maafkan kepengecutanku, Krisna,” jelasku
dan dijawab dengan kebisuan oleh Krisna. Tak lama Krisna pun bangkit dan meraih  jaket yang ia sampirkan di kursi dan mengecup
keningku sesaat seraya berkata, “Berbahagialah. Aku yakin dia yang paling baik
untukmu”