Penulis: Eleanor H Porter
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Orange Book
Cetakan: Pertama, September 2010
Jumlah hal.: x + 361 halaman
ISBN: 978-602-8436-95-3
“Oh,
Ruth, aku ingin memberimu satu dosis Pollyanna!”
“Aku
tidak menginginkannya Della, aku bukan pasienmu yang perlu diberi obat…”
“Pollyanna
bukan obat, Sayangku, meskipun beberapa orang bilang dia sejenis penambah
tenaga. Banyak orang mempraktikkan permainan sukacita yang dilakukannya.”
“Permainan
sukacita? Sungguh tak lazim!”
***
Pollyanna beranjak dewasa, tapi perangainya
tak berubah. Ia masih berusaha mempraktikkan permainan sukacita setiap saat. Ia
menghadirkan keceriaan di rumah sahabat barunya, Mrs. Ruth Carew, yang
dirundung duka akibat kehilangan keponakannya.
Namun, masih dapatkah Pollyanna melihat sisi
menggembirakan dalam hidup ketika pamannya yang baik hati, Dr. Chilton,
meninggal dunia dan perekonomian merosot? Mampukah ia menopang dna menghibur
Bibi Polly, yang kembali menjadi pemuram dan menarik diri dalam kesedihan?
Keberadaan Jimmy Bean, Jamie dan Sadie di
sekitar Pollyanna juga menghadirkan beragam warna dalam hidup gadis itu.
Lika-liku persahabatan, keluarga dan romantika cinta.
***
Hei, sudah
membaca buku Pollyanna?? Baca juga resensi buku pertamanya, Pollyanna di sini.
Nah saya langsung melanjutkan membaca buku Pollyanna Grows Up begitu selesai
membaca Pollyanna. Ini karena gadis kecil dalam buku ini membawa harapan
optimis kita tentang kehidupan dan sukacita. Saya jadi penasaran bagaimana jika
Pollyanna tumbuh dewasa? Apakah realita membuatnya berubah?

Hm..membaca buku
ini saya menyadari bahwa ada dua buah cerita besar dalam buku ini. Satu adalah
cerita tentang bagaimana Pollyanna yang berusia dua belas (atau tiga belas
tahun ya?) berhasil memberi keceriaan dalam kehidupan Mrs. Ruth Carew yang
selalu muram dan sepi. Serta kehidupan Pollyanna saat ia berusia 20 tahun.
Pollyanna yang
setelah diterapi di Sanatorium akhirnya bisa berjalan lagi, diberi kesempatan
untuk tinggal di Boston selama Bibi Polly dan suaminya pergi ke Jerman. Di
Boston, Pollyanna tinggal dengan Mrs. Ruth Carew yang sangat kaya namun juga
sangat muram. Ia mengalami banyak kesedihan dalam hidupnya. Ia pun terus
bersedih karena tidak bisa menemukan Jamie, keponakannya yang hilang.
Awalnya, Mrs.
Ruth Carew menolak untuk menerima Pollyanna di rumahnya, namun berkat bujukan
sang adik, Della Wetherby, yang sudah lebih dulu mengenal Pollyanna dan berdo’a
agar Pollyanna bisa kembali memberi keceriaan pada kakaknya, ia pun bersedia
menampung Pollyanna di rumahnya.
Sejak itu
dimulailah petualangan baru Pollyanna di Boston. Mrs. Carew demi kesopanan
sebisa mungkin bersikap baik hati pada Pollyanna. Namun ia juga seringkali
menyimpan kekesalan atas kecerewetan dan keceriaan Pollyanna. Ia merasa bahwa
gadis kecil itu sudah merusak hidupnya yang selama ini teratur dan tentram
*serta muram (-_-“)*. Di sisi lain, Pollyanna juga menghadapi berbagai
kekecewaan.
Kekecewaan yang
dihadapi Pollyanna datang dari sikap orang-orang Boston yang individualis. Mereka
enggan di sapa. Setiap kali Pollyanna menyapa mereka dan tersenyum, mereka
mempercepat langkah kaki dan meninggalkan Pollyanna. Ini membuat Pollyanna
sangat kecewa. Rasanya menjadi semakin sulit bermain sukacita di tempat
tersebut. Di tambah lagi Mrs. Carew yang menolak memainkan permainan tersebut.
Hingga suatu
hari Pollyanna nyasar dan tidak tahu cara kembali ke rumah. Pollyanna akhirnya
menangis dan ketakutan. Untunglah ia menemukan Jerry. Jerry yang bekerja
sebagai loper koran adalah anak yang menyenangkan. Beberapa hari kemudian,
Pollyanna bertemu lagi dengan Jerry yang tengah mengantar Jamie, anak laki-laki
berkursi roda yang selama ini menarik perhatian Pollyanna setiap kali ia
mengunjungi taman yang berada di tengah Avenue dekat rumah Mrs. Carew.
Sebuah pikiran
terbersit oleh Pollyanna tentang Jamie, sebab nama keponakan Mrs. Carew yang
hilang juga “Jamie”. Ini membuat Pollyanna mulai menduga-duga. Hingga akhirnya
karena Jamie sakit dan tidak bisa datang ke taman, Pollyanna pun mengajak Mrs. Carew
menjenguk Jamie. Sungguh yang mereka dapati sebagai tempat tinggal Jamie dan
Jerry adalah sebuah tempat kumuh dan menyedihkan.
Hal ini dan
kehadiran Jamie mulai mengganggu pikiran Mrs. Carew. Ia tidak bisa lagi
bersikap tidak peduli dan mau tahu. Ada pula gadis bernama Sadie yang sempat
ditemui oleh Pollyanna di taman dan tanpa sengaja kembali ia temukan di sebuah
toko. Orang-orang ini yang kemudian membawa perubahan untuk kehidupan Mrs. Carew
*tentu saja dengan bantuan keceriaan polos Pollyanna*.
Kedewasaan,
pengalaman, dan semua realita yang dihadapi Pollyanna selama sakit dan selama
tinggal di London mulai mengubah cara pandang Pollyanna. Ia tidak lagi sekedar
bersukacita, namun benar-benar mampu bersyukur. Terkadang saat bahagia dia bisa
menangi seperti saat melihat benda-benda indah. Pollyanna yang tadinya
tersenyum dan tertawa bahagia melihat banyak hal yang indah mendadak menangis
karena merasa sangat bersyukur sebab masih memiliki penglihatan yang baik untuk
bisa melihat semua hal-hal indah tersebut.
Sepulang dari
Boston, Pollyanna diajak serta oleh Bibi Polly dan suami ke Jerman. Namun saat
Pollyanna berusia 20 tahun, mendadak ia dan Bibi Polly kembali ke Beldingsville
dalam kondisi berduka dan jatuh miskin. Pamannya meninggal dan membuat Bibi Polly
dirundung kesedihan yang sangat dalam. Saham dan usaha keluarga Harrington
jatuh dan membuat Pollyanna dan Bibi Polly harus hidup dengan sangat hemat agar
bisa hidup dari sisa tabungan yang ada.
Kepulangan
mereka di Beldingsville disikapi dengan buruk oleh Bibi Polly. Ia takut
orang-orang akan menggunjingkan dirinya yang jatuh miskin. Di lain pihak
Pollyanna harus berusaha untuk membantu ekonomi keluarga. Ia pun lambat laun
mulai lupa tentang permainan sukacita meski ia tetap melakukannya karena sudah
terbiasa dengan hal itu seumur hidupnya. Namun ia mulai merasa sangat kesulitan
untuk melakukannya. 
Di saat itu pula
hubungan antara Pollyanna, Jimmy Bean *yang sudah berubah nama menjadi Jimmy
Pendleton setelah diadopsi oleh Mr. Pendleton*, dan Jamie yang telah dewasa
menjadi rumit. Kedatangan Mrs. Carew, Jamie, dan Sadie ke Beldingsville untuk
berlibur menjadi penyelamat bagi ekonomi keluara Harrington namun juga
merumitkan kehidupan Pollyanna.  Pada
akhirnya Pollyanna menambatkan hatinya pada seorang pria. Namun sayangnya
perjalanan cinta mereka tidak mudah.
Membaca buku ini
sama menyenangkannya dengan buku pertama. Dan jujur saja buku kedua ini jauh
lebih realistis. Saya rasa buku kedua ini tidak diperuntukkan untuk anak-anak
lagi melainkan untuk teeneger.
Kompleksitas perasaan yang dihadapi oleh Pollyanna selama di Boston yang
kebingungan dengan sikap orang-orangnya sekaligus dengan keyakinan dirinya
bahwa setiap orang harus saling mengenal, akan sulit dipahami oleh anak-anak
usia 8 atau 10 tahun. Namun remaja usia 13 atau 15 tahun jelas mulai mampu
memahami. Selain itu selipan cerita patah hati pertama Pollyanna pun jelas akan
mampu dimengerti anak-anak usia remaja.
Cerita Pollyanna
memang benar-benar “Grows Up”. Dan rasanya jadi agak iri dengan anak-anak
Amerika dan Inggris yang tumbuh ditemani oleh karya-karya klasik seperti ini.
Ah, saya di masa SMP menemukan buku saja masih sulit apalagi mendapatkan buku
terjemahan. Selain itu saat itu harga buku masih tergolong mahal dengan nilai
rupiah di masa itu.

Hm..jika harus
memberi nilai untuk novel ini, maka saya akan memberinya nilai 8,5. Maafkan
tendensi pribadi saya. Tapi saya tidak bisa melepaskan kecintaan saya pada
“novel positif” seperti ini. Sebab saat membacanya banyak pesan moral dan
“suntikan” pikiran positif. (^_^)v