“Dalam
perjalanan, Joshua tersadar, bahwa semuanya menyimpan rahasia dalam dirinya
masing-masing. Baik Lana, Alex, juga dirinya. Karena pada dasarnya manusia akan
selalu punya rahasia yang ia sembunyikan.” (Hal. 156)


Penulis: Kristi Jo
Desain cover: Orkha
Creative
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, 2015
Jumlah hal.: 232
halaman
ISBN: 978-602-03-2000-7
“Kita
tulis apa saja harapan kita dalam waktu lima tahun ke depan.”
Joshua,
Lana, dan Alex sudah bersahabat sejak kecil dan memutuskan untuk menuliskan
pesan berisi harapan yang nantinya akan dikubur di Taman Gembira. Hal itu
dilakukan untuk mengenang persahabatan mereka yang sebentar lagi akan terpisah
jarak.
Lima
tahun kemudian mereka kembali bertemu dan menemukan bahwa persahabatan mereka tidaklah
seperti dulu. Tidak mau persahabatan mereka putus, Joshua bertekad mencari tahu
mengapa Alex yang kini dikenalnya terasa asing dan Lana memilih menutup diri.
Ada
rentang waktu yang menyimpan rahasia dan membuat jalan mereka bertiga tak
bersinggungan. Tapi, mereka berharap bahwa perasaan yang pernah ada itu hadir,
membawa kembali persahabatan mereka seperti sedia kala.
***

“Setiap
orang pasti berubah. Hidup lo berubah. Kita nggak cuma diam di tempat, kan?”
(Hal. 93)

Sebuah
janji diikrarkan oleh tiga orang yang bersahabat sejak SD, yakni Alex, Lana,
dan Joshua. Selama sembilan tahun bersama mereka kemudian dihadapkan pada
perpisahan. Lana melanjutkan SMA ke Melbourne dan Joshua ke Surabaya.
Tinggallah Alex sendiri di Jakarta.
Sebelum
mereka berpisah, mereka menanam kapsul waktu di Taman Gembira. Berjanji akan
kembali lagi lima tahun kemudian untuk membuka kapsul waktu tersebut. Sekaligus
memastikan bahwa pershabatan mereka akan tetap terjalin dengan baik.
Sejak
berpisah mereka memang tidak pernah benar-benar putus komunikasi. Ini karena
mereka masih terus berkomunikasi via e-mail, Skype, dan Whatsapp. Namun
ternyata saat tiba waktunya untuk memenuhi janji lima tahun tersebut, satu
persatu rahasia yang tersimpan rapat pun terbuka.
Bermula
dari Alex yang tidak datang ke Taman Gembira untuk memenuhi janji untuk
berkumpul lagi. Lana dan Joshua pun mencari sahabat mereka itu. Kemudian
mendapati bahwa Alex sudah satu tahun pergi meninggalkan rumah. Menjadi pemakai
obat-obatan terlarang dan hidup tidak jelas. Itulah rahasia Alex selama ini.
Selama
pencarian ini, baik Lana dan Joshua pun menyimpan rahasia mereka masing-masing.
Lana yang memendam cinta pada Joshou serta sebuah luka dipergelangan tangannya.
Luka yang akan terus mengingatkannya tentang sebuah tragedi yang ia sembunyikan
dari kedua sahabatnya. Sedangkan Joshua? Ia pun menyimpan rahasianya sendiri.
Berusaha untuk tetap menjadi pihak yang paling kuat dan ceria di antara mereka.
Meski sebenarnya ia pun sedang berjuang menghadapi kenyataan lain dalam
hidupnya.
Bagaimanakah
nasib persahabatan mereka? Bisakah mereka mempertahankannya? Bukankah usia
pertemanan yang mencapai 15 tahun bukanlah rentang waktu yang singkat untuk
berakhir begitu saja?
Ketika
sebuah janji dan sebuah rahasia saling berhadapan, yang mana yang akan menang?
Janji persahabatan itu atau rahasia kelam mereka masing-masing.

“Orang
boleh beruabah, waktu boleh bertambah, tapi ikatan persahabat kita nggak harus
putus.” (Hal 93)

***

“Hidup
manusia itu bisa hilang secepat kehidupan mata. Seperti nggak ada artinya…”
(Hal. 149)

Novel
Promises
ini adalah novel kategori Young Adult yang diterbitkan oleh Gramedia. Novel
yang mengangkat kisah dengan konflik yang lebih kompleks dari kisah remaja
namun tidak lebih rumit dari konflik dalam novel dewasa.
Tema
persahabatan masih menjadi salah satu konflik yang umum ditemukan. Ini karena
di usia dewasa muda, persahabatan tetap menjadi salah satu bagian penting dalam
kehidupan. Meskipun porsinya tidak lagi sebesar saat remaja. Namun biasanya
lebih dalam karena hubungan pertemanan atau persahabatan yang tercipta sudah
lebih mendalam.
Ini
yang coba diangkat oleh penulis. Kisah persahabatan yang dibumbui oleh rahasia.
Melalui tokoh-tokohnya, pembaca disuguhi 3 kehidupan yang berbeda dengan
masalahnya masing-masing.
Dengan
menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis menyuguhkan kisah persahabatan
yang terbelit cinta dan yang dicederai oleh jarak. Hingga mereka menyimpan
rahasia dan masalahnya masing-masing.
Cara
bercerita yang menarik dengan bahasa yang ringan membuat novel ini enak dibaca.
Konflik-konflik yang menyusun cerita pun menarik. Sayangnya konflik utama tidak
terasa karena banyaknya konflik pendamping dengan intensitas yang hampir sama.
Rahasia-rahasia
yang dimiliki setiap tokohnya membuat pembaca bertahan karena terus bertanya, “Apa?
Kenapa?”, kemudian bertanya akan berakhir bagaimana. Oiya, ending ceritanya pun
manis, meski bukanlah happy ending
seutuhnya.

“Semua
hal ada batas waktunya. Marah, benci, sakit, takut, semuanya.” (Hal. 154)

***  
Kumpulan Quote dalam Promises
 

“Setiap
orang ditakdirkan untuk memiliki masalah dan rahasia.” (Hal. 160)

“…
seseorang tetap punya hak untuk tetap menjadikannya rahasia, yang artinya nggak
memberi tahu siapa pun.” (Hal. 160)

“That’s
life, Lex. Kalo lo nggak mau hidup dalam masalah, mending nggak usah hidup.”
(Hal. 161)

“Nggak
selamanya hidup cuma diisi dengan hal-hal baik yang buat lo bahagia. Pasti lo
bakalan tetap punya masalah. Dan seharusnya lo tetap ingat kalau ada hal baik
di hidup lo saat lo dilanda masalah. Kalo lo punya masalah, face it! Cari
solusi. Kalau lo mampu bertahan menghadapi kesulitan apa pun, gua yakin hidup
lo bakal kembali pada titik yang baik lagi.” (Hal. 161)

“Memang
nggak bisa. Gue nggak bisa memutar ulang waktu dan berada di sana supaya lo
nggak mengalaminya. Tapi gue di sini sekarang buat lo. Yang kita jalani
sekarang adalah masa depan, Lan. Bukan masa lalu.” (Hal. 164)

“Gue
akan ada di samping lo. Gue bakal berjalan di belakang lo klo lo butuh
dukungan. Bahkan gue bisa berjalan di samping lo dan menggandeng tangan lo
setiap lo merasa sendirian dan ketakutan.” (Hal. 167)

“Just
be yourself. Orang sebenarnya akan berubah seiring bertambahnya waktu. Lo akan
tetap seorang Lana, tapi jadilah seorang Lana yang dewasa dan kuat, yang nggak
ragu melangkah ke depan. Boleh kok kita ngeliat ke belakang, sekadar mengintip.
Tapi jangan sampai lo menoleh ke belakang. Apalagi sampai berputar dan kembali
ke sana. Janji?” (Hal. 177)

“Kita
nggak harus kuat setiap saat, Jo. Nggak apa-apa sekali-kali kita terlihat
lemah. Asal nggak keterusan. Kalau kita terpuruk terus, apa yang kita lihat?
Bawah saja, kan? Kita cuma bisa ngeliat tanah dan aspal, bukan langit dan
udara.” (Hal. 204)

“Betul,
di bawah sana hanya ada sesal, sedangkan mimpi dan harapan kita kan di atas
sana.” (Hal. 204)

“Setiap
orang memang ada dan bertemu karena suatu alasan yang kadang kita nggak
mengerti, Lex” (Hal. 212)