“Banyak
orang yang keluar masuk di hidupmu. Untuk satu masa, mereka adalah duniamu,
mereka segalanya. Lalu suatu hari mereka bukan lagi apa – apa bagimu.” (Hal.
347)


Penulis: Jenny Han
Penerjemah: Airien
Kusumawardani
Penyunting: Selsa
Chintya
Proofreader: Titish A.K
Ilustrasi isi: @teguhra
Cetakan: Pertama,
September 2015
Jumlah hal.: 356
halaman
ISBN: 978-602-71505-3-9
Lara
Jean tidak mengira akan benar – benar jatuh cinta pada Peter.
Dia
dan Peter tadinya hanya berpura – pura.
Tapi tiba – tiba saja mereka tidak lagi berpura – pura.
Sekarang, Lara Jean tambah bingung dengan perasaannya dan juga dengan situasi
yang dia hadapi.
Saat
seorang pemuda dari masa lalunya tiba – tiba kembali ke dalam kehidupannya,
percikan yang pernah ia rasakan pun kembali.
Bisakah seorang gadis jatuh cinta pada dua pemuda sekaligus?
Buku
ini adalah sekuel dari To All the Boys I’ve Loved Before, tempat kita bisa
merasakan cinta pertama lewat Lara Jean.
Cinta
tidak pernah mudah,
tapi mungkin itulah yang membuatnya luar biasa
***

“Kalau
mereka tidak saling bicara sekarang, bekas luka itu hanya akan mengeras seiring
berjalannya waktu, lalu mengapur, dan kemudian mereka akan seperti orang asing
yang tidak pernah saling mencintai. Dan itu adalah kemungkinan yang paling
menyedihkan dibandingkan segalanya.” (Hal. 16)

Gadis
– gadis Song kembali. Masih tetap berpusat pada kehidupan Lara Jean. Jika di
dalam novel To All The Boys I’ve Loved Before bercerita tentang kehidupan Lara
Jean yang jungkir balik akibat surat cinta yang selama ini ia simpan terkirim,
maka di novel ini cerita berbeda.
Meskipun
nanti di tengah cerita satu surat yang ikut terkirim di novel sebelumnya,
kembali dan membuat kehidupan Lara Jean semakin membingungkan.
 Cerita dibuka dengan surat yang ditulis Lara
Jean kepada Peter Kavinsky yang jadi penutup novel sebelumnya. Setelah itu
cerita tentang kehidupan percintaan Lara Jean pun dituturkan. Kemunculan video
rekaman salah satu moment intim yang dilewati Lara Jean dan Peter membuat kacau
hidup Lara Jean.
Dan
satu hal yang terus mengganggu Lara Jean, hubungan Genevieve dengan Peter yang
membuat Lara Jean kadang merasa sebagai the
outsider
. Padahal sekarang Lara Jean-lah yang berstatus sebagai kekasih
Peter.
Di
sisi lain Kitty yang berkembang seiring dengan pertambahan usianya ikut
mempengaruhi Lara Jean itu. Hubuangnnya dengan Josh. Dan kehadiran John Ambrose
McClaren menumbuhkan perasaan berbeda di hati Lara Jean.
Bagaimana
kisah cinta pertama Lara Jean ini akan berakhir?

“Yah,
aku masih menganggap kalau menangisi seseorang bukan hal yang menyedihkan. Itu
hanya berarti kau sangat peduli kepada mereka dan kau sedang sedih.” (Hal. 30)

***

“….
Kau boleh jatuh cinta pada Peter kalau kau mau, tapi berhati – hatilah dengan
hatimu. Semua terasa akan berlangsung selamanya, tapi sebenarnya tidak. Cinta
bisa pergi atau orang – orang bisa pergi, bahkan tanpa bermaksud untuk pergi.
Tidak ada yang dijamin tidak akan berubah.” (Hal. 35)

Cerita
tentang kehidupan Lara Jean masih membawa warna yang sama dengan yang diusung
dalam novel To All the Boys I’ve Loved Before. Sosok Lara Jean yang jadi centre point dalam kisah ini masih
digambarkan sebagai sosok gadis pada umumnya. Gadis yang tidak menonjol karena
kecantikannya atau gadis yang mencolok karena sikap nerd-nya.
Namun
nuansa romance dalam novel ini sangat
kental. Jauh lebih banyak dari yang ada di novel sebelumnya. Ini karena di
dalam novel diceritakan bagaimana Lara Jean dan Peter akhirnya benar – benar
berkencan. Bukan sandiwara lagi.
Namun
hubungannya bersama Peter inilah yang membuat Lara Jean mengalami banyak
guncangan emosi. Cemburu, curiga, hingga patah hati. Ya, cerita ini jadi terasa
dekat karena membahas sesuatu yang pernah atau sedang dirasakan oleh seseorang.
Ya, ‘cinta pertama’ dan ‘patah hati’. Perpaduan yang menarik kan?
Itu
yang bikin novel ini diterima dengan baik.
Oiya,
kelebihan lain novel ini adalah tokoh – tokoh di dalam novel ini semuanya
berkembang. Tidak hanya Lara Jean, Margot, Kitty, Josh,  hingga Ayah Lara Jean pun berkembang. Hanya
Peter dan Genevieve yang tidak banyak berkembang. Namun ini sudah cukup membuat
novel ini dinamis, tidak monoton.
Sedikit
tambahan, Indonesia kembali disebut dalam novel ini seperti sebelumnya. Tapi
menyebutkan bahwa ada budak dari Indonesia yang disekap. Hm..sebegitukah image Indonesia? *sila abaikan jika
menurutmu tidak penting, Readers*
Oiya,
saya suka dengan pembahasan “Jung” yang
tertulis di halaman 332. Koneksi antara dua orang yang tidak bisa terputus.
Penjelasan di paragraf tersebut menarik. Cukup menjelaskan hubungan yang
terbentuk antara Lara Jean dan Genevieve.
Novel
ini? Sama ringan dan manisnya dengan To All the Boys I’ve Loved Before.
Terakhir,
jika ada yang bertanya apakah novel ini akan berlanjut? Jawabannya adalah
ending cerita cenderung terbuka. Hubungan Lara dan Peter memang jadi jelas.
Namun ada adegan lain yang menunjukkan Josh dan Lara Jean pun punya masa depan.
Jadi bisa saja novel ini berlanjut. Tapi jika tidak berlanjut pun ya tidak
masalah.

“….
Apa ego seorang cowok memang sesuatu yang rapuh dan mudah hancur? Sepertinya
begitu.” (Hal. 166)

***

“Menurut
Stormy, ada dua tipe cewek di dunia ini. Tipe yang mematahkan hati cowok dan
tipe yang dipatahkan hatinya oleh cowok.” (Hal. 101)

“Apa
yang ada di internet akan tetap ada di sana untuk selamanya.” (Hal. 103)

“Kau
hanya tahu kau bisa melakukan sesuatu kalau kau terus melakukannya.” (Hal. 116)

“Pepatah
bilang ‘ketidakhadiran menumbuhkan ketertarikan di hati’. Tapi kurasa mereka
salah,’kedekatan menembuhkan ketertarikan di hati’.” ( Hal. 132)

“….
Dan jangan pernah  memercayakan pemuda
itu untuk melindungimu. Seorang wanita selalu bisa melindungi dirinya sendiri.”
(Hal. 141 – 142)

“Tubuhmu
adalah milikmu, untuk kau lindungi dan kau nikmati.” (Hal. 143)

“Sekarang
aku sadar, bahwa hal – hal kecil, usaha – usaha kecil, adalah sesuatu yang bisa
membuat hubungan kami terus berjalan.”(Hal. 207)

“Kau
tidak bisa melindungi dirimu sendiri dari patah hati, Lara Jean. Itu bagian
dari hidup” (Hal. 275)

“Saat
kau kehilangan seseorang dan rasanya masih menyakitkan, saat itulah kau tahu
cinta kalian nyata.” (Hal. 321)

“Ini
mungkin benar. Mungkin aku jatuh cinta dengan cinta!” (Hal. 323)