“Ketahuilah,
Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya
tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau
telah memenangkan seluruh pertempuran.” (Hal. 340)


Penulis: Tere Liye
Editor: Triana
Rahmawati
Cover: Resoluzy
Lay out: Alfian
Cetakan: VIII, November
2015
Jumlah hal.: iv + 400
halaman
ISBN: 978-6020-82219
“Aku
tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga
mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya.”
Sebuah
kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk
memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
***

“Semua
orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu
masing-masing.”(Hal. 101)

Novel
ini bercerita tentang kehidupan tokoh utama yang bernama Bujang. Ia yang
awalnya hidup di sebuah perkampungan terpencil di sekitar lereng Bukit Barisan,
berubah menjadi laki-laki yang bisa berpindah dari satu negara ke negara lain
dengan sebuah jet pribadi. Sayangnya, kenyamanan itu tidak ia dapatkan dengan
percuma. Bujang harus melakoni pekerjaan sebagai sosok yang menakutkan di dunia
shadow economy.
Ia
menjadi tangan kanan yang juga tukang pukul bagi Tauke Besar, laki-laki yang
mengubah kehidupan Bujang. Saat berusia lima belas tahun, Bujang meninggalkan
kampung halaman, bapak, dan mamaknya untuk tinggal bersama Tauke Besar di Kota.
Sejak itu, Bujang menjadi pribadi berbeda. Ia yang ternyata jenius bagi anak seusianya
akhirnya mengejar ketertinggalannya dalam hal pendidikan formal. Di saat yang
sama ia pun dilatih menjadi tukang pukul handal dan profesional. Mendapat ilmu
bela diri dari Kopong, tukang pukul senior yang bekerja pada Tauke Besar;
belajar ilmu bela diri ala ninja dari Guru Bushi; serta belajar menembak pada
Salonga. Ini membuat Bujang memiliki kemampuan bertarung yang hebat.
Bujang
pun menjadi salah satu orang paling berperan dalam kemajuan keluarga Tong.
Keluarga Tong menjadi salah satu kekuatan besar dalam shadow economy. Bahkan keluarga Tong diperhitungkan di dunia
internasional. Pemilihan presiden pun mampu mereka kendalikan. Gelar “si Babi
Hutan” yang tersemat pada Bujang kian terkenal dan menakutkan di dunia tersebut.
Hingga
suatu hari, Keluarga Tong terancam. Serangan dan pengkhianatan terjadi. Memaksa
Bujang berada di sebuah titik di mana ia pun merasa tidak akan mampu
melewatinya. Saat itu, rasa takut yang selama ini sudah hilang dari dalam
dirinya kembali hidup dan dengan segera memenuhi benak Bujang. Satu persatu
kenangan dan pengetahuan bercampur. Kepergiannya ke Kota bersama Tauke Besar,
kepergian Mamak, kepergian Bapak, hingga semua hal yang ia alami hingga ia bisa
berada di titik tersebut. 
Kemudian
kemunculan sosok yang selama ini tidak pernah ia ketahui dan masih memiliki
hubungan darah dengannya. Sosok ini mengingatkan Bujang untuk pulang. Tapi
pulang ke mana? Apa arti pulang itu?

“Dia
baik-baik saja, Bujang. Itu adalah momen paling 
sulit bagi seorang guru, ketika muridnya berhasil mengalahkannya. Aku tahu
bagaimana rasanya. Antara bangga, sedih, kecewa, semua bercampur menjadi satu.
Susah dilukiskan.” (Hal. 184)
 ***
“Kau
harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri sendiri,
menaklukkan monster yang ada di dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak
pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita
cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut.
Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka
pertempuran lainnya akan mudah saja.” (Hal. 219)

Ada
beberapa kekurangan dalam novel ini yang ingin saya kritisi. Pertama, novel ini
sejak awal  menggunakan sudut pandang
orang pertama dalam penuturannya. Namun ada adegan yang tidak melibatkan tokoh
utama tapi malah terdeskripsikan di dalam cerita (Hal. 35 dan hal. 298) . Ini adalah “kebocoran”
yang normalnya tidak terjadi. Penggunaan POV 1 seharusnya membuat ruang pandang cerita jadi terbatas. Karena semuanya harus melalui penuturan tokohnya,
berdasarkan apa yang dirasa oleh panca indra tokoh tersebut

Kedua, kembali Tere Liye
menampilkan tokoh yang “sempurna”. Bujang digambarkan sebagai laki-laki yang
multitalenta. Piawai dalam perkelahian tangan kosong, mahir menembak, dan mampu
mengalahkan pelari yang merupakan juara dunia. Di samping itu, Bujang
diceritakan mampu menyelesaikan 2 master
sekaligus empat short-course dalam
waktu 3 tahun (Hal. 35 dan Hal. 227). Bukankah ini terlalu perfect untuk
dimiliki oleh seorang tokoh?
Ketiga, penggambaran setting tempat yang detail dan
kelokalan Sumatera sangat minim ditemukan. Penyebutan pedalaman Sumatera (Hal.
4) dan lereng Bukit Barisan (Hal. 26) membuat setting tempat ini tetap sulit
terbayangkan.  

Keempat, perubahan emosi tokoh yang terkesan mendadak. Terutama untuk
hal yang berkaitan dengan adzan dan berhubungan dengan kondisi psikologi
Bujang. Tentang “pulang” yang selayaknya tidak semudah itu setelah semua yang
dialami oleh tokohnya.

Jika
itu adalah 4 kekurangan di dalam novel ini, maka ada beberapa kelebihan novel
ini yang membuat semua kekurangan tadi tertutupi dan bisa diabaikan. Pertama,
tema novel Pulang ini sangat menarik. Mengangkat kehidupan di dalam shadow economy. Ini membuat kita
mempertanyakan sesuatu. Jika shadow
economy
nyata, apakah kebakaran pasar yang dulu disebabkan oleh mereka? Apakah
pertikaian di daerah sana dulu disebabkan oleh mereka? Serta pertanyaan –
pertanyaan lainnya. Ini salah satu kesenangan dalam membaca. Saat fiksi mampu terkoneksi dengan baik
dengan dunia nyata. 
Kedua, penuturan cerita yang menggunakan bahasa yang mudah
dipahami. Ini membuat cerita terasa mengalir dan enak dibaca. Tahu-tahu saja
novel ini sudah tamat. 
Ketiga, karya – karya Tere Liye memiliki kekhasan
tersendiri. Salah satuya Tere Liye selalu pintar dalam memenggal cerita dan
menyimpan kepingan penting cerita. Membuat pembaca tetap bertahan hingga akhir
karena penasaran dengan twist dan
penjelasan kejadian agar bisa memahami keseluruhan cerita. 
Keempat, tulisan
Tere Liye selalu memiliki muatan positif. Ini membuat Pulang layak dibaca oleh
remaja hingga orang dewasa. Lintas agama dan suku. Tidak tentang agama
tertentu, sebab kebaikan-kebaikan yang disampaikan adalah kebaikan-kebaikan
universal.

Terakhir, novel Pulang menjadi bukti bahwa novel yang nikmat dibaca tidak melulu harus mengandung unsur percintaan. Tema yang menarik dan penulisan yang mengalir serta enak dibaca adalah kunci utamanya.

“Kesetiaan
ini ada pada prinsip, bukan pada orang atau kelompok. Di masa – masa sulit,
hanya prinsip seperti itulah yang akan memanggil kesetiaan – kesetiaan terbaik
lainnya.” (Hal. 187)

***

“Hidup
ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. Pada hari ke berapa dan
pada jam ke berapa, kita tidak pernah tahu, rasa sakit apa yang harus kita
lalui. Kita tidak tahu kapan hidup akan membanting kita dalam sekali, membuat
terduduk, untuk kemudian memaksa kita mengambil keputusan.” (Hal. 262)

Itu
sedikit ulasan saya untuk novel karya Tere Liye. Jika ingin baca novel karya
Tere Liye lainnya bisa baca review novel Rindu di sini: http://atriadanbuku.blogspot.co.id/2014/11/rindu.html