Sepi.
Kosong.
Seorang gadis
kecil dengan dress hijau selutut tengah meringkuk diam di sebuah tempat tidur singel di sudut kamar. Warna pink yang memenuhi seluruh ruangan
membuat kehadiran gadis kecil itu bak sebuah daun yang jatud di antara tumpukan
kelopak mawar pink.
Sayup-sayup
terdengar suara napas tertahan.
“Janji. Putri nggak
akan nakal lagi. Janji,” bisik gadis itu pelan. Matanya terpejam. Mimpi
burukkah ia?
Kekosongan yang
hening itu membuat kamar yang jelas dirancang untuk mengundang ceria seketik
muram. Suram. Menjadi tempat hantu-hantu yang menghisap ketakutan berkerumun.
***
“Iya, jeung. Ini
putri saya. Dia sudah kelas lima,” seorang perempuan dengan pakaian ala hijabers gaul
tampak mendorong seorang gadis kecil yang sedari tadi sibuk menunduk
memandangi sepatunya.
“Ayo Putri,
salim ke tantenya,” desak ibu tersebut kepada gadis kecil tersebut. Putri pun
kemudian mendongakkan kepalanya. Hidung mancung dan mata besar dengan bulu mata
lentik miliknya pun terlihat. Membuahkan senyum di wajah perempuan yang disebut
“tante” oleh ibunya.
“Wah, anaknya
cantik ya.”
“Pintar juga
lho. Putri selalu peringkat satu di sekolahnya,” lanjut sang ibu dengan bangga.
“Wah, pasti
cepat ya nanti kemajuannya. Putri sudah pernah main Piano?” dengan segera
perempuan yang disebut “tante” itu menanyakan beberapa hal pada Putri. Putri
hanya bisa mengangguk atau sekedar menggeleng.
***
Di kolong meja
Putri bersembunyi ditemani sebuah buku dongeng karya Andersen. Dengan
mengandalkan sinar lampu yang menerobos ke kolong meja, Putri memasuki dunia
yang berbeda.  Meninggalkan dunia yang ingin
ia lupakan. Namun seketika sebuah tangan menarik paksa gadis kecil. Perasaan kaget
menyergapnya. Diikuti oleh rasa takut.
“Kamu ngapain
sih, Putri. Kan setengah jam lagi kamu harus berangkat kursus matematika,” suara
itu sangat menakutkan bagi Putri sebab ia tahu bahwa sesaat lagi akan ada warna
biru yang ditinggalkan oleh pemilik suara itu di pahanya.
“Tapi, Putri
capek, Ma. Putri…,” belum sempat Putri menyelesaikan kalimatnya, cubitan
menghinggapi pahanya. “Kamu pikir kursus kamu murah? Sudah jangan banyak
alasan.”
***
“Maaf, Bu. Anak
ibu harus dirawat inap karena kondisinya harus terus diobservasi. Panasnya
masih tinggi,” jelas dokter yang menangani pasien kecil yang terbaring di salah
satu tempat tidur di UGD.
“Mama mau sampai
kapan memaksa Putri mengejar mimpi-mimpi mama dulu? Lihat, sekarang Putri
sakit. Papa yakin itu karena kelelahan,” suara tajam itu datang dari pria yang
duduk di sebelah Mama Putri.
“Sudah, Papa
jangan sibuk menyalahkan mama. Papa sendiri cuma tahu meninggalkan Putri di
rumah. Sibuk dengan pekerjaan dan sekertaris papa.”
Dokter yang sempat
mendengar obrolan kedua orang tua Putri hanya bisa menggeleng. “Entah akan
berapa banyak Putri-Putri lain yang harus datang ke sini karena kondisi seperti
ini,” bisik dokter yang kepalanya ditutup oleh sebuah hijab. Seketika ia
mengelus perutnya. Berdoa semoga ia bisa menjadi orang tua yang lebih baik.
Dibuat dalam rangka Prompt #72 Monday Flash Fiction