Penulis                 : Haryoto
Kunto
Penerbit              : Granesia
Cetakan               : Pertama
1996
Jumlah hal.         : 114 halaman
Buku Ramadhan di
Priangan ini adalah salah satu bacaan yang menarik untuk menghabiskan waktu
menanti waktu berbuka puasa tiba. Meskipun membahas sejarah dan hal-hal berbau
tempo doeloe, buku ini ditulis menggunakan bahasa tutur sehingga lebih mudah
dipahami. Menyenangkan membaca suasana Ramadhan masa lalu yang pasti sudah
banyak berbeda.
Masyarakat Bandung
benar-benar membuat “sambutan” khusus untuk bulan Ramadhan ini. Diceritakan fenomena
yang tidak mungkin lagi dirasakan oleh masyarakat Bandung masa kini. Salah satunya
adalah cerita bahwa dulu bunyi kentongan Mesjid Agung Bandung bisa terdengar
sampai ke wilayah Bandung Utara seperti wilayah Dago Simpang, Mentos
(Jl.Siliwangi sekarnag), Terpedo (Wastukencana). Fenomena ini tidak akan lagi
bisa terulang sebab meskipun kentongan sudah diganti dengan pengeras suara,
tetap saja bunyi dari Masjid Agung tersebut tidak akan terdengar lagi ke
wilayah Dago. Kondisi ini bisa menjadi cermin tentang bagaimana kondisi alam
dan masih sepinya Bandung hingga awal tahun 1900-an.

Selain itu,
dalam buku ini akan kita baca cerita tentang suasan Bandung di bulan Ramadhan. Saat
dimana malam-malam Ramadhan setiap rumah menyalakan lampu minyak di depan rumah
mereka serta menyalakan obor untuk menerangi jalan dan lorong yang gelap.
Padahal saat itu aliran listrik belum ada. Jalanan di malam hari masih gelap.
Maka pada bulan Ramadhan jalan-jalan di Bandung menjadi terang oleh lampu-lampu
yang dinyalakan oleh warga.
Warga Bandung
juga menyambut Ramadhan dengan mengecat atau mengapur ulang dinding-dinding
rumah. Membuat lampion-lampion dan saling bersaing dengan tetangga mengenai
keindahan dan kehebatan lampion masing-masing. Sayang keriuhan macam ini tidak
akan lagi dijumpai di masa kini.
Selain itu
dengan membaca buku ini kita akan lebih banyak tahu mengenai sejarah Mesjid
Agung Bandung dan wilayah sekitar alun-alun Bandung. Mesjid Agung Bandung
memiliki catatan sejarah yang panjang dengan 7 kali renovasi yang mengubah
bentuk Masjid Agung Bandung menjadi seperti sekarang. Selain itu diceritakan
pula mengenai alun-alun yang sejak dulu menjadi pusat kegiatan masyarakat.
Alun-alun menjadi salah satu tujuan ngabuburit warga Bandung dengan berbagai
jajanan yang  dijajakan penjual.
Dalam
buku ini juga tersebar berbagai info terkait jajanan tempo doeloe (perlu klarifikasi
ulang sih, sebab kemungkinan besar semua jajanan itu sudah hilang atau pindah
tempat). Informasi ini disisipkan pada beberapa bagian. Sempat disebut-sebut
tentang soto “cipati” Abah Encim di Pasar baru, soto “Oranje” di Cibadak, dan
soto di warung kecil tersembunyi di Jl. Pasundan. Informasi seperti ini mungkin
menarik untuk dijelajahi ulang, mengetahui nasib makanan-makanan ini.
Membaca buku ini
kita bisa tersenyum-senyum sendiri membaca polah anak-anak yang ikut meramaikan
masjid di bulan Ramadhan. Kenakalannya jelas berbeda dengan kenakalan anak
sekarang. Yah mereka bukan nakal hanya banyak akal..ha..ha.. (korban iklan)
(^_^)v
Bagaimana tidak
tertawa kalau kita akan membaca tentang anak-anak yang sukses bikin imam masjid
meliuk-liuk kegelian karena ditusuk lidi oleh mereka dari celah bambu. Atau cerita
anak-anak yang menukar pasangan sandal di masjid sehingga membuat tidak sedikit
orang gagal menahan marah karena mengeluarkan sumpah serapah.
Oiya, pasti
menyenangkan kalau menu buka puasa yang tersedia di masjid adalah nasi tumpeng
lengkap dengan lauk pauknya seperti yang diceritakan dalam BAB Sidekah dan
Bayar Zakat (seketika membayangkan d(^_^)b Banyak kemeriahan bulan Ramadhan
yang kini telah padam ditelan waktu. Hanya bisa dibayangkan saja. (tapi di
kampung saya di Majene, Sulawesi Barat pawai masih diadakan tapi tidak dengan
mengusung makanan tapi mengusung berbagai bentuk hiasan yang dibuat dari kertas
minyak warna warni sambil bertakbir. Hal ini mungkin tidak akan ditemukan di
kota-kota besar dengan jumlah mall yang banyak karena sebagian besar orang akan
berdesakan di mall untuk mencari baju lebaran)
Gaya penceritaan
Haryoto Kunto memang terkesan ringan sehingga menyenangkan untuk dibaca. Sejarah
tidak harus menjadi hal yang membosankan dan serius. Namun meskipun ringan,
tulisan Haryoto Kunto pun sangat informatif. Selain itu di dalam buku ini juga
ditampilkan foto-foto yang menggambarkan kondisi Bandung tempo doeloe.