Penulis:
Annora Putri
Editor:
Meidyna
SettingL
Elisabeth Pipit
Desain
Cover: dam_dut
Korektor:
Susy Oktaviani
Penerbit:
Sheila (imprint Penerbit Andi)
Cetakan:
I, 2013
Jumlah
hal.: x + 262 halaman
ISBN:
978-979-29-3431-1
“Mas mau kan memaafkan aku?”
Aku mengangguk-angguk. “Tentu, tentu saja, Sayang. Kesalahanku juga banyak.
Lebih banyak. Terlalu banyak.”
“Mas…” Panggilan Ratu kini bernada sangat manja. “Beneran Mas kangen sama bawel
aku?” tanyanya dengan mata menyipit.
Oh, Tuhan, betapa aku mencintainya!
Aku mencintainya, dengan segala kekurangannya!
“Mas belum jawab pertanyaanku.”

***
Menikahi Ratu yang cantik, cerdas, dan sang aktifis kampus adalah dambaan
Handoko. Namun, setelah keinginannya terwujud, seiring berlalunya waktu,
apa-apa yang semula begitu indah di matanya tentang Ratu berubah. Apalagi
setelah satu per satu anak lahir. Baginya kini Ratu adalah istri yang sangat
menyebalkan. Bawel.
Istri yang sangat bawel, anak-anak yang terlalu aktif, kemacetan lalu lintas yang
kian hari kian parah, pekerjaan yang selalu menumpuk dan menyita waktu, serta
atasan yang menuntut selalu perfect, adalah siksaan buat Handoko.
Hari-hari Handoko berubah lebih bergairah mana kala di kantornya kehadiran
Silvana, seorang karyawati baru. Perempuan yang dari segi fisik memiliki nilai
nyaris sempurna di mata para lelaki di kantornya. Ikuti kelanjutan ceritanya
yang seru dalam novel in
i!

***
Judul buku ini berhasil membuat saya
tertarik karena saya sendiri sering dijuluki bawel oleh orang-orang terdekat
saya. Hobi ngomel dan protes ditambah dengan cerewet yang jadi bawaan sejak
kecil membuat gelar bawel ini sering tersemat. Ha..ha.. Makanya begitu lihat
judulnya dan baca blurb di belakang
buku saya pun tertarik memilikinya. Tapi mengingat saat itu sedang nggak punya
dana, akhirnya niat pun tinggal niat. Buku ini langsung gagal saya bawa ke
kasir. Tapi saat akhirnya punya uang, buku ini gagal saya temukan dimana pun.
Mau pesan online-pun saya lupa judul bukunya hanya ingat kata “Bawel”nya.
Hingga akhirnya suatu hari saya mengunjungi stand Penerbit Andi di Book Fair
dan tanpa sengaja menemukan buku ini. Akhirnya langsung saya beli (^_^)
Buku ini mengggunakan sudut pandang
orang pertama dari kacamata Handoko. Ya, kembali saya disuguhi tulisan dari
penulis perempuan dengan mengeksplorasi cerita dari kacamata laki-laki. Handoko
adalah seorang laki-laki yang telah memiliki seorang istri dan dua orang anak. Istrinya,
bernama Ratu dulunya adalah aktivis di kampus dan punya banyak penggemar karena
kecantikan dan kecerdasannya.

Namun kini, setelah membina rumah
tangga hubungan Handoko dan Ratu tidak seindah yang diharapkan. Handoko merasa
bahwa Ratu terlalu memanjakan anak-anak mereka. Bahkan Handoko merasa bahwa
Ratu jauh lebih peduli kepada Vina dan Vino, buah hati mereka. Kemudian muncul
Silvana, karyawati baru yang memberi perhatian lebih pada Handoko. Hingga akhirnya
perasaan Handoko mulai berpaling. Ia merasa Ratu yang sudah mulia tidak
memperhatikan penampilan dan terlalu bawel malah membuat hidupnya semakin
suram. Sedangkan Silvana yang perhatian dan lemah lembut ia rasa sebagai
penyegar dalam kehidupannya.
Novel ini sebenarnya menjadi teguran
halus bagi mereka yang sudah membina rumah tangga. Keluhan Handoko mungkin
adalah keluhan sejumlah pria di luar sana. Tentang istri yang ketika di rumah
tidak lagi berdandan untuk menarik perhatian suaminya dan lebih fokus mengurus
anak. Menjadi lebih bawel dan terkesan banyak tuntutan.
Namun sikap Handoko pun tidak bisa
dibilang benar. Sikapnya yang cemburuan dan seenaknya seolah tidak mau menjaga
relasi baik istrinya. Serta sikap Handoko yang dengan mudahnya berpaling hanya
karena merasa bahwa Ratu tidak lagi perhatian tanpa mencoba melakukan
introspeksi diri pun bisa dipersalahkan. Terutama sikap dia saat tahu bahwa
Ratu hamil. >_<
Cerita ini sebenarnya bisa lebih
menarik diikuti jika disesuaikan dengan segmentasi pembaca dewasa. Sejujurnya
menurut saya, gaya bahasa yang ingin dibuat lucu malah terkesan garing dan
lebay *maaf*. Jika diubah menjadi lebih formal dan lebih serius akan terasa
lebih menarik. Buku ini tentu diperuntukkan untuk pembaca dewasa, mereka yang
sudah siap (ingin) menikah dan yang sudah menikah. Maka gaya bahasa semi casual namun tidak terlalu lebay akan
lebih sesuai.
Selain itu, saya cukup heran saat di
dalam percakapan ada tanda dalam kurung, “()”, yang memang dimaksudkan untuk
menjelaskan. Kenapa penjelasannya tidak dibuat dalam kalimat pelengkap setelah
percakapan saja? Contoh kalimat “aneh” ini adalah
“Kata Tita (temannya di sekolah), di Water Boom banyak permainan baru yang
asyik-asyik dan seru loh, Pa…”
tulisan “(temannya di sekolah)” di kalimat di
atas terkesan aneh. Kenapa tidak membuat kalimatnya menjad “Kata Tita, itu lho
teman sebangku Vina, Pa. Katanya di Water
Boom
banyak permainan baru yang asyik-asyik dan seru lho, Pa…”
Kasus dalam kurung seperti di atas
terjadi beberapa kali di dalam buku ini. Entah ini dianggap wajar oleh editor
atau memang saya yang baru mengenal cara penulisan seperti ini. Tapi saya rasa
penulisan seperti itu terkesan cukup aneh dalam penulisan percakapan langsung.
So, kesimpulan saya, dari segi cerita
sih sebenarnya menarik dan dekat dengan realitas kehidupan rumah tangga
sesungguhnya. Namun perlu “dirapikan” lagi cara berceritanya.
Konflik-konfliknya pun sudah menarik dengan menggambarkan kecemburuan sekaligus
penyelewengan dalam satu rumah tangga. Tapi penokohan sebaiknya semakin
dikuatkan dan dibuat konsisten. Ratu ini entah tenang, entah bawel. Entah
sabar, entah rewel.
 Semoga karya Annora Putri kedepannya bisa
lebih baik lagi ya (^_^)