Penulis: Kate Douglas
Wiggin
Penerjemah: Hani
Iskadarwati
Penyunting: Rini
Nurul Badariah
Penerbit: Orange
Books
Cetakan: Pertama,
Februari 2011
Jumlah hal.: 310
halaman
ISBN: 978602843685-4
Diterjemahkan dari “Rebecca of Sunnybrook Farm” copyright @1903 by
Houngton, Miffin, & Company
Keadaan memaksa
Rebecca meninggalkan Sunnybrook Farm, tempatnya dibesarkan bersama keenam
putra-putri keluarga Randall yang lain. ia mengerahkan keberanian untuk tinggal
dengan keluarga Sawyer, bukan saja karena yang sebenarnya diminta pergi ke
Rivervboro adalah Hannah, sang kakak, tapi juga ketidaksukaan keluarga Sawyer
kepada almarhum ayahnya.
Rebecca harus
beradaptasi dengan cara didik kedua bibinya yang keras, sekaligus harus membuat
seluruh keluarga bangga akan prestasi dan perilakunya sehari-hari. Bagaimana
Rebecca mengatasi rindu rumah? Apakah ia dapat bertahan di Riverboro dan
menerapkan cara didik kedua bibinya? Dan siapakah Mr. Aladin yang telah
“mencuri” hati Rebecca?
Kisah perjuangan
seorang gadis cilik dalam terpaan persoalan hidup yang mengundang kontemplasi,
rasa haru, dan tawa riang. Mengingatkan kita pada kisah Anne of Green Gables, A
Little Princess, atau Pollyanna, meski sebenarnya Rebecca of Sunnybrook Farm
terbit lebih dulu dari ketiga novel tersebut.
***

Ok, izinkan saya terlebih dulu
menceritakan ringkasan cerita Rebecca of Sunnybrook Farm sebelum mengeluarkan
sejumlah keluh tentang buku ini. *eh jangan berhenti baca ya. Iya memang
ratingnya nggak bagus. Tapi mungkin ada baiknya membaca alasannya dulu
(>_<)*
Novel ini adalah salah satu karya
klasik yang diperuntukkan bagi anak-anak. Rebecca adalah seorang gadis kecil
berusia sepuluh atau sebelas tahun yang dikirim ke rumah bibinya di Riverboro
untuk mendapatkan pendidikan yang diharapkan akan bisa memperbaiki masa depan
keluarganya. Ibunya, Mrs. Randall, adalah seorang janda yang memiliki 7 orang
anak. Ia menerima kebaikan hati saudari-saudarinya yang bersedia memberi
pendidikan untuk satu orang anaknya. Tadinya kakak beradik Sawyer (yang tidak
menikah), menginginkan anak tertuanya, Hannah, untuk diajak tinggal di kediaman
keluarga Sawyer; namun Mrs. Randall membutuhkan Hannah, itu sebabnya ia
menyuruh Rebecca sebagai ganti Hannah.
Kakak-beradik Sawyer sebenarnya
tidak sepenuhnya setuju menerima Rebecca sebagai ganti Hannah, namun akhirnya
demi memenuhi tanggung jawab membantu saudari mereka, keduanya akhirnya setuju
menerima Rebecca. Kedua bibi Rebecca dari pihak ibunya itu adalah dua perempuan
yang kaku. Ms. Miranda Sawyer adalah yang paling tua dan paling kaku. Ia selau
judes dan selalu melihat perilaku Miranda sebagai sebuah kenakalan. Ms. Jane
Sawyer adalah perempuan yang pernah merasakan patah hati dan terus menerus
menahan diri demi kebahagiaan kakaknya. Kelak kehadiran Rebecca akan membuat
perempuan ini bersemangat menjalani hari-harinya.
Rebecca tiba dengan ketakutan
sekaligus dengan hati yang tabah. Sejak saat pertama datang ke rumah bata,
sebutannya untuk rumah keluarga Sawyer, ia telah disambut dengan sikap menjaga
jarak dan serentetan perintah dari bibi Miranda-nya. Setelah itu hari-hari yang
dilalui Rebecca tidak pernah mudah sebab hampir semua hal yang ia lakukan
selalu saja tidak cukup baik bagi Bibi Miranda. Syukurlah ada Bibi Jane yang
selalu bersikap lembut dan sebisa mungkin membela Rebecca meskipun lebih sering
dipaksa bungkam oleh Bibi Miranda.
Puncaknya, suatu hari Rebecca
melarikan diri setelah menanggung sakit hati atas penghinaan yang dilakukan
oleh Bibi Miranda pada ayahnya. Namun kebijaksanaan Mr. Jeremiah Cobb,
pengemudi kereta yang ditumpangi Rebecca saat pertama kali datang ke Riverboro
dan kelak menjadi sahabat baik Rebecca, menyelamatkan Rebecca dari sebuah
masalah yan bisa timbul karena tindakannya tersebut. Di lain waktu, Rebecca
bertemu dengan Mr. Aladin yang kemudian terus hadir di hidupnya hingga Rebecca
dewasa. 
Novel ini dipenuhi oleh sejumlah
kutipan puisi yang indah dan cerita-cerita dongeng “karangan” Rebecca.
Ceritanya juga menarik meski rasa penasaran saya atas hubungan Rebecca dan Mr.
Aladin akhirnya tidak terjawab dengan tuntas. Namun di luar itu semua saya
harus mengakui bahwa lagi-lagi ide cerita klasik anak-anak ini tidak jauh dari
cerita anak perempuan yang tinggal dengan paman dan atau bibinya.
***
Kali ini izinkan saya menumpahkan
sedikit rasa kecewa saya atas buku ini. Pertama yakni masalah covernya. Cover ini termasuk salah satu cover yang “paling nggak banget” menurut saya. Ini karena wajah anak-anak dalam cover ini sangat terlihat
sebagai wajah hasil editan (>_<). Selain itu sangat tidak sesuai dengan
gambaran Rebecca. Karena Rebecca digambarkan berlambut gelap sedangkan anak
perempuan di cover buku ini memiliki rambut pirang terang. Jelas ini tidak memberi gambaran yang sesuai dengan isi novel.
Nah, protes yang kedua adalah
editan buku ini. Buku ini di sejumlah kalimat menjadi agak membingungkan dan
jujur ada beberapa kali typo terakit “aku” dan “kamu”. *sayangnya karena tidak
diberi penanda saya pun lupa bagian mana*. Terjemahan ini saya yakin akan
membuat saya dan mungkin saja anak-anak (yang merupakan sasaran utama buku ini)
menjadi kebingungan. Salah satu contoh ada di halaman 270 ada kalimat “…seru
Rebecca, duduk seketika lantai di samping tempat tidur…” dan beberapa tidak
menempatkan spasi di antara dua kata.
Jadi jika harus menilai buku ini
secara keseluruhan dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya nilai 5. Saya gagal
menikmati terjemahan buku ini dan saya selalu saja kesal melihat covernya
(T_T). Mungkin nanti saya akan membaca edisi import buku ini. Atau jika ada
penerbit lain yang mengeluarkan edisi terjemahannya, maka saya akan membeli dan
mencoba menikmati ulang karya klasik ini.