“Ini
kesempatan buat kamu. Kamu bilang ingin maju ke depan, kan? Menyelesaikan
urusan masa lalu itu modal yang baik untuk maju ke masa depan.” (Hal. 85)
24694258
Penulis: Biondy Alfian
Penyunting: Katrine
Gabby Kusuma
Perancung Sampul dan
Isi: Deborah Amadis Mawa
Penata Letak: Teguh Tri
Erdyan
Penerbit: Ice Cube
Cetakan: Pertama,
Februari 2015
Jumlah hal.: vi + 209
halaman
ISBN: 978-979-91-0818-0
“Lo
yang nemuin dompet gue, kan?” tanya Navin.
“Ya,”
jawabku.
“Berarti
lo sudah lihat semua isinya?”
“Ya”
jawabku lagi.
“Berarti
lo sudah –”
“Melihat
kedua KTP-mu?” tanyaku. “Sudah.”
Navin
menarik napas panjang. Kedua matanya melotot padaku.
Rahangnya
tampak mengeras.
Ada
yang aneh dalam diri Navin, si anak baru itu. Tania tidak sengaja menemukan
dompet Navin di tangga sekolah dan melihat di dalamnya ada dua KTP dengan data
yang sama, hanya berbeda nama. Satunya tertera nama Navin Naftali, satunya lagi
tertera nama Budi Sanjaya. Selain itu, ternyata Navin sudah berumur 20 tahun.
Apa yang dilakukan seorang pria berusia 20 tahun di SMA? Sebagai seorang murid
pula. Tania memutuskan untuk mencari tahu kebenaran tentang identitas ganda
Navin. Sementara itu, Navin juga penasaran dengan sosok Tania yang [yang] kini
mengetahui rahasianya. Karena sepertinya gadis penyendiri itu punya rahasia
yang lebih besar darinya.
***
Sebuah
kebetulan membuat Tania berkenalan dengan Navin. Navin adalah murid baru di
sekolah Tania. Tania tanpa sengaja menemukan dompet milik Navin. Dari KTP yang
ada di dompet tersebut, Tania mengetahui bahwa usia Navin adalah 20 tahun.
Untuk apa seorang pria berusia 20 tahun ada di SMA dan duduk di kelas XI IIS 3?
Selain itu, di dalam dompet tersebut terdapat dua KTP dengan identitas yang
sama namun hanya namanya saja yang berbeda.

Rasa
penasaran ini yang membuat Tania tidak keberatan dengan kedekatan yang tercipta
antara dirinya dan Navin. Sedangkan Navin sendiri merasa perlu untuk mengawasi
Tania untuk memastikan Tania tidak menceritakan apapun tentang KTP Navin yang
dia temukan.
Hingga
akhirnya mereka pun menjadi akrab. Kepenatiaan yang mereka ikuti bersama berkat
ajakan Viki, teman sekelas Tania, membuat mereka semakin dekat. Hingga akhirnya
Navin menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang menyimpan rahasia. Tania pun
punya rahasianya sendiri.
Bagaimana
akhir kisah mereka berdua? Apa yang terjadi di masa lalu Navin? Apa rahasia
yang berusaha disembunyikan Tania?
***
Novel
Remedy benar – benar cocok untuk remaja. Kisah romance memang terbangun sejak
awal cerita namun bukan menjadi pusat cerita. Hubungan Navin dan Tania adalah
hal yang membangun cerita. Navin dan Tania membawa kisahnya sendiri.
Tema
self-abuse yang ditampilkan di dalam
cerita ini mampu diceritakan dengan baik oleh penulis. Psikologi Tania mampu
ditransfer ke pembaca dengan menggunakan sudut pandang orang pertama. Dan
alasan Tania menyayat dirinya sendiri menjadi sebuah twist yang menarik.
Secara
keseluruh novel ini cukup enak dinikmati. Dan banyak pelajaran berharga yang
bisa diambil dari kisah hidup Navin dan Tania.
Yang
kurang dieksplorasi adalah hubungan Tania dan Viki. Selain itu tokoh antagonis
di dalam novel ini nyaris tidak ada. Bahkan tokoh jahat yang terakhir pun
muncul mendadak. Jadi gelombang konfliknya masih kurang greget.
Oiya,
selain itu, sudut pandang yang digunakan dalam novel ini sempat membuat saya
bingung. Saat bercerita dari sisi Tania, maka POV yang digunakan adalah POV
orang pertama. Penjelasan tentang hal – hal terkait dalam diri Tania
menggunakan kata “aku”. Namun POV 3 digunakan saat cerita dituturkan dari sisi
Navin. Bahkan ketika bersama Tania, jika diceritakan dari sisi Navin tetap saja
menggunakan POV 3 serba tahu.
Tapi
tetap saja secara keseluruhan ceritanya masih bisa dinikmati. 
***
 Puisi yang terinspirasi novel Remedy
Kadang rasa sakit bukan
untuk membuatku mati perlahan
Namun untuk membuatku hidup dan merasakan serta teralihkan

Dan kadang kehadiran bukan untuk membunuh sepi
Namun membungkam keriuhan yang memekakkan hati & pikiran

Kadang luka untuk membutku merasa “ada”

***

“Menangis seorang diri
memang membuatku merasa lega, tetapi sesudah itu aku tersadar bahwa aku tidak
punya seorang pun yang dapat kujadikan tempat berbagi.” (Hal. 202)