“Selalu
ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia solusi untuk setiap masalah
dan musibah. Alam juga seperti itu sifatnya.” (Hal. 216)

Penulis: Azzura Dayana
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Ilustrator: Naafi Nur Rahma
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Syawal 1435 H/ Agustus 2014
Jumlah hal.: 232 halaman
ISBN: 978-602-1614-26-6
Dia
baru saja menyelinap keluar. Terbangun oleh gemerisik angin yang menabrak-nabrak
tenda. Dua lapis jaket membungkus tubuhnya. Satu jaket polar dan satu jaket
parka gunung. Tak ada seorang manusia lain pun yang terlihat. Seluruh penghuni
kerajaan sang dewi telah tertidur.
Padangannya
lurus ke depan. Kemudian, tiba-tiba saja tatapannya berubah menjadi tajam.
Sangat tajam. Menatap lekat sesuatu. Atau lebih dari satu. Perlahan-lahan dia
berjalan meninggalkan tenda. Meninggalkan teman-temannya yang tidur di dalam
tenda. Menjejaki rerumputan basah dalam langkah-langkah pasti. Dermaga tua itu
tujuannya. Mendekati tarikan magnet bercahaya. Memanggil-manggilnya dengan
suara tak biasa.
 
Rengganis,
pentas apa sebenarnya yang tengah dilangsungkan?
Hingg
pagi hari datang, anak muda itu tak pernah kembali lagi ke tenda….
***

“A
traveler without observation is like a bird without wings” (hal. 120)

Serombongan
pemuda(i) berkumpul di Surabaya untuk memulai pendakian mereka ke Pegunungan
Hyang. Lima laki-laki dan tiga perempuan yang menjadi satu tim dengan tujuan
yang sama : menjejak Puncak Rengganis. Mereka adalah Fathur, Dewo, Dimas,
Rafli, Acil, Ajeng, Nisa, dan Sonia. Delapan orang ini punya sifat yang
berbeda-beda. Acil yang paling paham medan yang akan mereka lalui ditunjuk menjadi
guide. Dewo didaulat menjadi pimpinan
regu. Fathur sebagai asistennya. Nisa sebagai bendahara dan Ajeng sebagai
komandan dalam hal masak-memasak. Yang lain bertugas sesuai kebutuhan tenaga
bantuan yang sedang diperlukan saja.
Sejak awal
mereka bergerak sebagai sebuah tim yang solid. Saling mengisi, hingga di tengah
cerita Rafli sering menyelisihi instruksi Dewo. Ini sempat menimbulkan
ketegangan. Ini lebih karena Rafli menyimpan ketertarikan pada Sonia. Hal ini
membuat sikap dan reaksinya sedikit berlebihan dan mengganggu stabilitas kerja
sama kelompok mereka. Interaksi kedelapan orang ini banyak diceritakan dalam
novel ini.

Di samping itu
hal lain yang disuguhkan dalam buku ini adalah keindahan yang digambarkan dapat
ditemui selama perjalanan menuju Puncak Rengganis. Deskripsinya cukup jelas dan
memantik rasa ingin tahu. Ini menjadi menarik sebab masih jarang yang membahas
petualangan di jalur ini dalam bentuk novel. Umumnya lebih banyak membahas
Semeru yang juga sesekali disebutkan dalam novel ini.
Namun yang
paling banyak digambarkan adalah proses mereka menempuh perjalan menuju dan
kembali dari Puncak Rengganis. Tentang informasi yang berseliweran tanpa
terverifikasi lebih jauh akan adanya situs kerajaan yang dipimpin oleh
perempuan bernama Dewi Rengganis. Tentang adanya sejumlah orang yang melihat sosok
– sosok yang diduga Dewi Rengganis ataupun dayang-dayangnya. Namun keberadaan
reruntuhan tersebut nyata adanya. Digambarkan pula adanya pengalaman
mistis selama perjalanan mereka. Hingga puncaknya salah satu dari tim ini
menghilang. Di saat itulah kerjasama tim mereka diuji. Sanggupkah mereka pulang
dengan selamat dan lengkap?
***
“Leave
nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but ego,” (Hal.
208)
Bagi orang yang
tidak pernah punya keyakinan diri untuk mengikuti satu pun pendakian, maka
membaca novel Rengganis: Altitude 3088 ini membuat kalimat, “Buku
bisa membawamu pergi ke manapun,”
terbukti nyata. Membaca buku ini
membuat saya menjadi anggota tambahan dalam petualangan Dewo dan kawan-kawan.
Deskripsi yang cukup detail tentang perjalanan dan apa yang mereka temui selama
pendakian memudahkan timbulnya perasaan tersebut.
Buku ini bagi
orang yang sangat awam dalam kegiatan pendakian akan menjadi petualangan yang
menarik. Pengetahuan-pengetahuan umum bagi pendaki pun banyak bertebaran di
dalam buku ini. Hal ini menambah pengetahuan saya. Lihat saja penjelasan Fathur
berikut,
“Seandainya
kita tersesat atau kehabisan makanan saat di gunung, salah satu cara bertahan
hidup alias sebagai survivor adalah mengikuti apa yang biasa dimakan oleh kera,
monyet, lutung atau apa pun yang sebangsanya. Karena pencernaan mereka relatif
sama dengan manusia. Jadi, tumbuhan yang menjadi makanan mereka insya Allah
aman untuk pencernaan kita. ….  Kamu
pastikan tumbuhan itu tidak gatal saat kamu gosokkan ke tangan. Dan juga pilih
tumbuhan yang daun atau batangnya tidak berbulu. Yang seperti itu biasanya aman
untuk pencernaan kita.” (hal. 215 -216)
“Benar.
Allah menciptakan alam ini dengan prinsipp-prinsip keseimbangan. …. Di
gunung, beberapa contoh terpapar nyata. Sumber air panas dan belerang biasanya
ada di ketinggian, berkhasiat menyembuhkan penat di tubuh kita kala mendaki.
Bunga lavender tumbuh di lembah basah, dan harumnya bunga ini bermanfaat
melindungi tubuh kita dari serangan nyamuk hutan lembab atau tempat gelap.
Tumbuhan cantigi, yang batangnya pendek namun sangat kokoh, tumbuh di
ketinggian atau tebing, membantu pendaki untuk berpegangan. Bahkan walaupun
pohonnya sudah  mati atau ditebang,
batangnya masih tetap kuat. Dan, masih ingatkah kalian pada kebun-kebun
tembakau selepas dari Baderan? Olesan tembakau bisa membuat kita terhindar dari
serangan pacet yang banyak dijumpai pada musim hujan di trek sebelum sabana.” (Hal.
216 -217)
Ada sebuah point
yang bagi saya bagai pedang bermata dua di dalam buku ini. Yaitu kehadiran
delapan orang tokoh yang seolah menjadi pemeran utama bersama. Atau simplenya
saya menyebutkan bahwa tim mereka adalah tokoh utama dalam cerita ini. Ini
menarik karena penulis berhasil menggambarkan mereka memiliki karakter yang
berbeda-beda meski akhirnya latar belakang setiap tokoh kurang tereksplorasi
dengan baik. selain itu, meski mereka secara keseluruhan adalah sebuah tim dan
sama-sama menjadi tokoh utama, namun ada tokoh yang lebih menonjol seperti
Rafli dan Sonia karena pengalaman mereka lebih banyak “dibocorkan” atau
sikapnya lebih mencolok.
Dibanding Sonia,
tokoh Ajeng dan Nisa cukup tenggelam. Selain itu entah kenapa ada peluang
konflik yang tidak diolah lebih jauh oleh penulis yakni hubungan yang terjalin
antara Dewo, Nisa dan Ajeng. Sebab di awal cerita saya sempat mendapat “kode”
bahwa bisa jadi Nisa menyukai Dewo (tapi bisa jadi saya yang salah membaca kode
*selalu gak paham bahasa perkode-kodean*), sedangkan Dewo menyukai orang lain
dalam tersebut.
Hm.. saya suka
dengan apa yang saya baca di buku ini. Memberi saya sensasi petualangan yang
asing namun tidak membuat saya bosan.
Btw, kok nggak dibahas gimana keseharian Nisa dan Ajeng sebagai perempuan berjilbab di
dalam petualang ini? *penasaran* (^_^)