Gemar Rapi

Penulis: Khoirun Nikmah, dkk

Penyunting: Eka Saputra & Baiq Nadia Yunarthi

Perancang Sampul: Wirastuti & Musthofa  Nur Wardoyo

Ilustrasi isi: Regedaily

Penerbit: Bentang Pustaka

Cetakan: Pertama, Agustus 2019

Jumlah hal. : xxvi + 186 halaman

ISBN: 978-602-291-619-2

Saat sedang asyik belajar cara berbenah ala Jepang, pernahkah Anda dihampiri salah satu dari masalah di bawah ini?

  • Saya tidak pernah tuntas berbenah, semua yang rapi kembali berantakan
  • Sulit berbenah sekeluarga, saya selalu merasa sendirian
  • Belum menemukan metode yang cocok untuk rumah-rumah yang berpindah-pindah
  • Sulit mengeluarkan barang, semua terasa penting dan menyenangkan
  • Kotak penyimpanan yang dibuat sendiri mudah penyok. Mau mengganti lemari ke drawer, kok, mahal ya L

 

Anda tidak sendiri, kadang perbedaan budaya, karakter, dan permasalahan sebagai masyarakat Indonesia membuat kita tidak bisa menelan mentah-mentah suatu metode berbenah yang berhasil di luar negeri. Gemar Rapi (Gerakan Menata Negeri dari Rumah dan Pribadi), yang diciptakan Khoirun Nikmah dan keempat rekannya, hadir untuk menjawab persoalan berbenah di Indonesia.

 

Pada pertengahan 2018, Gemar Rapi dengan gencar melakukan riset dan uji coba penerapan metode ini kepada para peserta seminar dan workshop berbenah secara offline dan online. Buku ini memberi gambaran dan praktik mendetail bagaimana sebuah prinsip berbenah bisa membentuk pola pikir, mengubah hidup, hingga menanamkan pentingnya kesadaran akan lingkungan – ingat, berbenah itu lebih dari sekadar membuang  barang. Kini, tidak ada lagi urutan berbenah yang saklek karena Gemar Rapi mengajak kita berbenah berdasarkan “rasa” personal sesuai kondisi tiap individu dan keluarga.

***

Saat membaca buku non-fiksi, yang menjadi penekanan pertama saat memilih ada topiknya. Buku tersebut tentang apa? Sebab membaca non-fiksi bisa jadi disesuaikan dengan minat dan kebutuhan.

Hal ini juga yang mempengaruhi saya sehingga merasa sangat tertarik untuk memiliki dan membaca buku Gemar Rapi ini. Saya sedang tertarik dengan tema “berbenah” dan “gaya hidup minimalis”. Bukan karena saya sudah mempraktikkannya, melainkan karena saya tertarik dengan ini. Dan mengumpulkan ilmu tentang hal tersebut dengan niatan “kalau cocok bisa jadi akan saya praktikkan”.

 

Baca juga ulasan buku Goodbye Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang karya Fumio Sasaki

Saya enggan untuk menyatakan dirikan akan hidup minimalis atau secara khusus sedang melakukan declutter, sebab saat membaca berbagai metode declutter saya masih menemukan beberapa hal yang saya rasa tidak cocok dengan pola hayat saya dan keluarga besar. Seperti ide untuk mengurangi barang agar seminimal mungkin, ini kok rasanya sulit untuk saya. Saya memang keluarga kecil hanya saya, suami dan 2 anak kecil. Jumlah piring saya hampir 30 puluh. Bagi ide hidup minimalis, ini sangat berlebihan. Tapi yang dilupakan adalah budaya bahwa saya sering kedatangan keluarga. Saat orangtua saya datang, kebutuhan piring saya meningkat karena untuk menjamu mereka dengan layak. Ada snack, ada makan berat, ada menu penutup, dan lain-lain. Belum lagi karena keluarga kita sangat ramah, mereka akan membawa oleh-oleh mulai dari camilan, makanan, hingga buah yang kemudian membutuhkan wadah penyimpanan. Sungguh heboh namun menghangatkan hati. Sebagai tuan rumah, akan sangat tidak sopan jika kami tolak dan bisa melemahkan silaturahim.

Gemar Rapi hadir tidak sekadar menjadi alternatif berbenah rumah bagi masyarakat Indonesia, tapi menginternalisasi nilai-nilai kerapian hingga ke sisi mental. “…, Gemar Rapi ingin mencetuskan kebiasaan, dimulai dari berbenah rumah dan merapikan gaya hidup penghuninya. …. Kami ingin mengangkat nilai positif tersebut dengan metode yang semoga bisa mencerminkan orang Indonesia…” statement ini membuat saya semakin tertarik. Sebab ada beberapa hal yang menurut saya memang perlu dibenahi dari perilaku umum orang Indonesia. Salah satunya adalah terkait disiplin waktu, kemampuan untuk ontime dalam segala aspek kehidupan. Sudah sangat lazim kita mendengar bahwa kebiasaan “ngaret” sudah melekat dengan masyarakat Indonesia. Tidak hanya terlambat memenuhi janjian, bahkan jadwal rapat di Indonesia sering kali harus molor karena kebiasaan ini. Dan jadinya berpikir, jika orang Indonesia terbiasa untuk menggemari kerapian, bisa jadi akan menghilangkan atau minimal mengurangi kebiasaan ngaret ini.

***

Terkait isi buku Gemar Rapi, sebenarnya masih kurang detail sih. Bab awal yang memenuhi sekitar 1/3 isi buku membahas latar belakang para founder dan kehidupan mereka sebelum mengenal serius melakukan kegiatan berbenah hingga akhirnya membentuk Gemar Rapi.

Jika sudah pernah membaca buku Mbak Khoirun Nikmah yang berjudul Konmari Mengubah Hidupku  yang juga diterbitkan oleh Bentang Pustaka maka pembahasan tentang sejumlah metode berbenah, maka bab awal pada buku ini pun semacam seri lebih ringkas dari materi tentang mengenal decluttering yang ada di buku tersebut.

Kemudian untuk yang sudah membaca sejumlah buku terkait hidup minimalis seperti Goodbye Things: Hidup Minimalis ala Orang Jepang karya Fumio Sasaki; buku The life-changing Magic of Tidying Up karya Mario Kondo; dan Seni Hidup Minimalis karya  Francine Jay, maka kita akan menemukan bahwa metode yang ditawarkan oleh Gemar Rapi tidak benar-benar berbeda. Hanya lebih mudah disesuiakan dengan pola hidup orang Indonesia.

“Baca juga review buku “The Life-Changing Magic of Tidying Up” karya Marie Kondo

Gemar Rapi menawarkan berbenah dengan membaginya berdasarkan klaster. Hal ini tentu berbeda dengan Francine Jay yang memandu kita berbenah berdasarkan ruangan serta Marie Kondo yang memandu kita berbenah berdasarkan jenis barangnya. Gemar Rapi membagi urutan berbebenah menjadi 3 kalster:

Klaster 1: Pakaian – Dapur – Buku

Klaster 2: Mainan – Dokumen – Benda kenangan

Klaster 3: Berbenah Kamar Tidur – Berbenah Halaman – Berbenah Toiletries, Toilet dan Kamar Mandi

Namun dalam buku ini, tidak dijelaskan proses berbenah masing-masing klaster seperti yang kita temukan di dalam buku Seni Hidup Minimalis yang memandu kita untuk membenahi setiap ruangan secara menyeluruh.

Jadi secara umum, buku ini lebih banyak berisi: perkenalan founder Gemar Rapi; perkenalan pada Gerakan Menata Negeri dari Rumah dan Pribadi; perkenalan pada decluttering; serta gambaran umum tentang metode berbenah ala Gemar Rapi. Oiya, serta dorongan untuk membangun mindset  yang akan mendukung kita tidak hanya membenahi rumah, namun juga membenahi diri, keluarga dan gaya hidup. Serta disarakan untuk membuat jurnal berbenah sehingga menambah motivasi dan bisa melakuan evaluasi terkait kegiatan berbenah.

Jadi kalau ingin tahu lebih banyak tentang tahapan detail metode berbenah ala Gemar Rapi tampaknya kita harus membaca buku lain yang disusun oleh para pendirinya.

***

“Gemar Rapi menyimpulkan: setiap benda yang disimpan di rumah dinyatakan bermakna tatkala pemilikya menggunakan sesuai fungsi, merawat serta menghargainya, tidak mengabaikan dan melupakan.” (hal. 123)