“Lebih bahagia? Apa aku bisa mendapatkan kebahagiaan? Kupikir, orang depresi mana pun tak ingin bahagia. Kami hanya ingin terbebas dari rasa sakit dan tidak peduli dengan kebahagiaan.” (Hal. 151)

HEARTBREAK FORMULA

Penulis : Mpur Chan

Penyunting: Yooki

Desain Kover: Indah Rakhmawati

Penyelaras Aksara: Seplia

Layout Kover: @teguhra

Penerbit: Haru Media

Cetakan: Pertama, Desember 2017

Jumlah hal. : 292 halaman

ISBN: 978-602-6383-37-2

Sore tadi pukul 6.45 di hati ulang tahun Harry yang ke-18, aku menabrakkan diri pada sebuah mobil yang melaju.

Harry… pria yang kupercaya dan selalu ada untukku, berubah sejak kami masuk SMA. Pria itu tak lagi ada di sampingku, bahkan ketika aku sedang berada di titik terendah dalam hidupku.

“Kupikir aku punya jawaban untuk masalahmu,” ujar Dokter Cornell, merendahkan suaranya. “Tim penilitianku sedang bereksperimen membuat formula untuk membuat manusia lupa akan kejadian buruk di masa lalu. Formula Olvidevo.”

Ketika penawaran itu datang, sebuah pintu baru seolah terbuka di hadapanku.

Formula itu mungkin adalah jawabannya. Masalahnya, aku tak tahu apakah formula itu akan menyelamatkanku… atau malah menjerumuskanku.

***

…. orang-orang di sekitarku ini adalah pribadi yang dulunya memiliki mimpi. Dan sepertinya, mereka berhenti bermimpi ketika sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup mereka. ….” (Hal. 146)

Rasanya sudah terlalu sering saya mendengar kalimat tentang, “Memaafkan tidak sama dengan melupakan.” Kalimat yang kemudian secara eksplisit dan implisit muncul di dalam novel perdana Mpur Chan ini. (eh, benarkan ya? Ini novel pertama beliau). Tapi seperti yang sering kali kita dengarkan juga, “Melakukan tidak semudah mengatakannya.” Hal ini pun terjadi.

Tokoh utama, Summer Mayberry, menuturkan seluruh hal dalam hidupnya kepada pembaca. Dengan menggunakan POV 1 ini, pembaca diajak untuk mengetahui alasan setiap tindakan Summer. PIlihan-pilihannya akibat pikiran-pikiran yang mengisi benaknya. Yang bisa jadi jika dituturkan dengan POV 3 akan dipandang sebelah mata.

“Hanya karena perasannya pada Harry tidak bersambut, ia memutuskan untuk bunuh diri? Hah, alasan yang receh!”

Pikiran itu bisa jadi akan muncul jika penulis menggunakan POV 3. Tapi dengan menggunakan POV 1, kita jadi paham bahwa hal itu hanya trigger. Memicu. Tapi bukan satu-satunya alasan. Summer sudah menghadapi banyak hal. Ditinggalkan, ditolak, diabaikan, dan disalahpahami. Dan bukankah manusiawi untuk merasa lemah?

Opening cerita ini kemudian menggiring pembaca untuk memaklumi pilihan Summer untuk menjadi bahan percobaan formula Olvidelo yang ditawatkan Dokter Cornell. Ini kemudian membangun rasa penasaran pembaca. Apakah formula itu berhasil, jika berhasil bagaimana hasilnya? Jika tidak berhasil, kenapa? Apa penyebabnya. Di sisi lain, pembaca yang senang menebak ke hal yang lebih kompleks akan menghubungkannya dengan penelitian yang menipu, konspirasi dan sebagainya. Benar tidak?

Di sinilah menariknya membaca buku. Sebanyak apapun kita sudah membaca buku, kita harus membaca hingga akhir hingga mengetahuinya endingnya. Entahkah sesuai asumsi atau tebakan kita salah. Tapi intinya untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus terus membaca.

***

“ Pada akhirnya, beberapa persahabatan yang ada di dunia ini bisa musnah. Alasannya sederhana. Kita tak sedekat dulu. Adakalanya, kita telah berusaha mempertahankannya, tapi pada akhirnya kita tak memiliki kemampuan untuk mengendalikannya lagi.” (Hal. 273)

Jika ditanya bagaimana pendapat saya tentang buku ini, maka saya bilang saya puas dengan apa yang say abaca. Saat menutup buku ini saya menyadari bahwa saya ikut merasa kasihan pada situasi Summer. Saya berusaha memahami Summer dan mengerti setiap pilihannya. Berharap bisa menjadi temannya. Untuk mendukung Summer melewati semuanya.

Dari segi latar tempat, bisa jadi kita akan mengira bahwa novel ini ditulis oleh penulis luar. Tidak bernuansa Indonesia sama sekali. Namun tidak terasosiasi dengan negara tertentu. Cenderung netral. Mengingatkan saya pada novel “The Giver” karya Lois Lowry. Tidak terasosiasikan ke mana pun. Area U7 yang dihuni Summer sebagai subjek penelitian bernama April menjadi menarik dibayangkan dengan imajinasi sendiri. Saya bisa membayangkan suram dan sunyinya lokasi tersebut. Bergidik membayangkan jika saya yang ditempatkan di sana.

Jika ditanya tokoh favorit saya, jawabannya pasti June. Tidak mudah dicintai tapi juga tidak bisa dibenci. Ia dan mimpi serta traumanya membuat saya merasa iba padanya. Pun pilihannya untuk melupakan masa lalu, mengingat apa yang dialaminya jelas tidak mudah dihadapi. Hiks.. kasihan June.

Oiya, sejujurnya rasa penasaran saya tentang tokoh-tokoh lain seperti May dan December belum terjawab. Akankah nanti ada lanjutan tentang mereka? Dan juga ada banyak subjek penelitian lain yang hanya disebut sambil lalu. Mungkin akan menarik jika setiap dari mereka punya masa lalu yang mewakili berbagai penyakit mental.

Ah, intinya saya sangat menikmati proses membaca buku ini. Terima kasih untuk tulisan yang bagus ini, Mpur Chan.