“Kehadiranmu mengubah banyak hal dalam hidupku. Termasuk caraku memandang kehidupan.” (Hal. 249)

Kenangan Hujan

Penulis: Dy Lunaly

Penyunting: Falcon Publishing

Penata Letak: @abdul.m

Penerbit: Falcon Publishing

Cetakan: Pertama, November 2019

Jumlah hal. : 405 halaman

ISBN: 978-602-6714-58-9

Sayang,

Apa kabar?

Maaf, butuh waktu lama sebelum aku siap bertemu kamu lagi.

Perpisahan kita terlalu menggiatkan.

 

Besok kita ketemu, ya. Aku kangen ngobrol sama kamu, Rain.

Aku janji bakal cerita semua. Juga tentang sesuatu yang selama ini aku simpan sendiri.

Heei..jangan marah. Ini bukan sesuatu yang penting. Ini cuma tentang pertemanan, bukan, tentang kali pertama aku melihat kamu, peri hujanku.

Sampai bertemu, Sayang.

Akasha

Ps. Aku bakal bawa bunga kesukaan kamu. Juga pakai kemeja favorit kamu.

***

Hubungan perempuan dan laki-laki akan selalu jadi cerita yang menarik untuk dituliskan. Seperti kisah Akasha, dokter spesialis anestesi, yang jatuh cinta pada seorang perempuan mungil pecinta hujan. Raini, perempuan yang sering terbius hujan dan menikmati pekerjaannya sebagai guru taman kanak-kanak, berhasil membuat Akasha berdebar.

Hubungan Raini dan Akasha tidak melulu tentang kisah percintaan yang manis, tidak pula rumit untuk dipahami. Raini dan Akasha saling jatuh cinta dengan cara mereka masing-masing. Akasha yang harus berjuang menggali keberaniannya agar mampu menyampaikan perasaan dan pikirannya; Raini yang harus berkali-kali berjuang menjadi pemberani dalam menghadapi situasi demi mengimbangi Akasha.

Hubungan Raini dan Akasha adalah percintaan orang dewasa. Tidak hanya tentang kekaguman, namun belajar tentang pemahaman. Bukan tentang hubungan yang manis namun juga bersama-sama menghadapi kepahitan.

“Berhenti mencari, Rain. Nggak semua pertanyaan punya jawaban. Nggak semua yang terjadi dalam hidup kita ada alasannya.” (Hal. 344)

***

Ini adalah Book Jacket khusus novel Kenangan Hujan yang hanya bisa didapatkan dengan melakukan pemesanan langsung ke penulisnya

Sebenarnya tidak mudah menulis ulasan tentang karya terbaru Dy Lunaly ini. Alur cerita maju-mundurnya sangat padat dengan inti cerita yang benar-benar berputar di sekitar hubungan Akasha dan Raini. Kisah cinta Akasha dan Raini benar-benar menampilkan hubungan yang dewasa. Weits, bukan berarti penuh adegan dewasa ya.

Ada sih bagian yang rada menyerempet ke sana. Tapi masih aman kok. Nggak vulgar. Jadi buat usia SMA sih sebenarnya masih aman-aman saja.

Balik lagi ke hubungan dewasa yang saya maksud tadi. Laki-laki dewasa dengan perempuan dewasa tentu memiliki pola hubungan yang berbeda dengan laki-laki remaja dengan perempuan remaja. Sayangnya di sejumlah novel dewasa yang saya temui, tidak jarang saya menemukan kisah yang tokoh-tokohnya masih kekanak-kanakan.

Berbeda dengan Akasha dan Raini. Kedewasaan mereka tampil dalam seluruh karakter dan sikap mereka. Akasha yang meskipun kikuk dan grogi tetap dengan penuh rasa tanggung jawab datang menemui Ayah dan Mas Iwan, dua laki-laki terpenting dalam hidup Raini. Meski melakukan kesalahan yang cukup fatal di pertemuan pertama tersebut, Akasha tidak melarikan diri. Ia tetap menghadapinya.

Pun dengan Raini, yang dengan kedewasaannya, berani mengambil keputusan yang sebenarnya bertentangan dengan kepribadiannya. Itu demi mengimbangi Akasha.

Gambaran hubungan mereka bisa dilihat di kutipan ini;

“Tidak ada yang siap menghadapi kegagalan. Tapi seburuk apa pun perasaannya saat ini dia memilih untuk tidak menunjukkannya. Raini pasti merasakan berkali lipat lebih buruk dari apa yang dirasakan oleh Akasha saat ini” (Hal. 250)

Sejujurnya, saya selalu dibuat geleng-geleng kepala oleh kepolosan namun sekaligus keberanian seorang Akasha. Laki-laki yang tidak pandai menyampaikan isi hati dan pikiran namun sekali memutuskan untuk mengatakannya langsung bikin meleleh.

Selama membaca novel ini, banyak emosi yang saya rasakan. Mulai dari yang pengin ngomong, “Ya ampun, manis banget,” sampai yang “Iiiih.. kenapa sih begini. Apa-apa itu bisa dibicarakan!?” Tapi selama membaca, saya bisa memahami logika tokoh-tokohnya. Bisa jadi karena fase kehidupan mereka relate dengan fase kehidupan saya sendiri.

Namun dari semua pengalaman selama membaca buku ini, saya tidak bisa melupakan perasaan saya saat membaca Rinai Ketiga Puluh, sebab sejujurnya saya sangat jarang meneteskan air mata dengan derasnya saat membaca sebuah buku. Biasanya mentok di sekadar berkaca-kaca kemudian jatuh menjadi satu atau dua tetes air mata yang bisa segera diusap.

Tapi saat membaca bagian tersebut, air mata itu jatuh begitu saja dan semakin deras. Syukurlah saat itu saya sedang di rumah. Bukan membacanya di kantor. Kalau tidak pasti akan menimbulkan kehebohan yang kemudian berakhir menjadi olok-olokan (^_^”)

***

“Waktu memang menyembuhkan tapi bukan berarti akan menghapus kesedihan atau perasaan apa pun yang tersisa dari kejadian itu. Itu wajar dan sangat manusiawi. Setiap kali perasaan itu kembali, kita akan menghadapinya bersama-sama, Rain.” (Hal. 345)