“Aku
bahkan curiga bahwa perempuan tidak pernah mengerti diri mereka sendiri; apa
yang bisa membuatnya bahagia, apa yang bisa membuatnya sakit hati, dan
seterusnya.” (Hal. 169)


Penulis: Fitrawan Umar
Penyunting: Pringadi
Abdi
Penyelaras akhir:
Shalahuddin Gh
Pemindai Aksara: Chadra
Citrawati
Pendesain sampul:
Iksaka Banu
Penata letak: desain651
Penerbit: Exchange
Cetakan: I, Desember
2015
Jumlah hal.: 245
halaman
ISBN: 978-602-72793-3-9
Aku
melihatmu menuliskan sesuatu di hamparan pasar pantai sebelum ombak
menghapusnya. Lautan tentu mengerti takdir kita, karena ia menyimpan rahasia
Tuhan. Barangkali ia kecewa jika kita hanya bersahabat selamanya. Apa arti
mencintai tanpa bisa memiliki? Jika kamu jatuh cinta, maka milikilah ia yang
kau cintai. Jika kau jatuh cinta, maka yakinlah bahwa kau orang yang tepat
untuk menjaga dirinya selamanya.
Renja
tak pernah menyangka akan bertemu Adel, teman masa kecilnya pada saat kuliah.
Gadis itu telah tumbuh menjadi perempuan mempesona, yang membuatnya jatuh
cinta. Karena kenangan, mereka bertemu kembali dan menjadi dekat. Tetapi
kedekatan mereka tidaklah seperti yang diharapkan Renja. Kehadiran lelaki lain,
yang tak pernah memiliki masa lalu Adel, seperti menggantung hubungan mereka.
Namun Renja tak berputus asa. Ia mengajak Adel menyusuri sungai kenangan
mereka, berharap pintu hati Adel terbuka untuknya.
***

“Ya,
takdir. Ia memang selalu bekerja secara ajaib.” (Hal. 10)

Novel
ini berkisah tentang Renja, mahasiswa Teknik di Kampus Merah yang menaruh hati
pada Adel. Mereka adalah teman semasa kecil yang bertemu kembali setelah
bertahun-tahun berpisah. 
Saat
mereka masih di bangku sekolah dasar, Adel dan keluarganya menghilang secara
mendadak dari Pinrang. Ayah Adel yang merupakan bos Kospin Pinrang saat itu
menghilang bersama uang milik warga Pinrang yang menyetorkan uangnya ke Kospin.
Sejak itu Renja tidak tahu kabar Adel. Sejak saat itu pula, kondisi keluarga
Renja tidak lagi sama. Ibu Renja sakit dan keluarganya terlilit hutang.
Kemudian
takdir mempertumakan kembali Renja dan Adel di Kampus Merah. Mereka berdua
kuliah di Fakultas Teknik namun di jurusan yang berbeda. Pengkaderan fakultas
membuat mereka selalu bisa bertemu. Kemudian kedunya sama-sama aktif di BEM.
Saat itu Renja semakin menyadari bahwa ia menyukai Adel. Ia mencintai gadis
berlesung pipi itu. Namun bisakah Renja memiliki Adel?
Adel
sendiri terlihat tidak keberatan dengan keakraban yang tercipta antara dirinya
dengan Renja. Namun kemudian saat aktif di BEM, Adel terlihat sangat memuju
ketua BEM. Lantas bagaimana perasaan gadis itu pada Renja? Di sisi lain, Ayah
Renja tidak suka saat mengetahui bahwa Adel adalah putri dari bos Kospin yang
dulu melarikan uang warga Pinrang.
Bagaimana
nasib kehidupan cinta Renja?

“Melihat
orang yang kau cintai bersedih di sore hari adalah pemandangan yang kurang
baik.” (Hal. 79)

***

“Belajarlah
berdialog dengan hujan, suatu saat kau pasti akan kesepian.” (Hal. 89)

Novel
Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan ini mengangkat kelokalan Sulawesi
Selatan. Namun bukan dari sisi tradisional. Melainkan kelokalan populer. Sesuai
dengan zaman tokoh utamanya. Jika ingin membaca tentang tawuran dan demonstrasi
dari sisi mahasiswa Makassar, maka yang dituliskan di novel ini akan bisa
mengobati rasa penasaran itu.

Namun
di sisi lain, bagi mahasiswa di Makassar khususnya mahasiswa Universitas
Hasanuddin, membaca novel ini akan menjadi nostalgia sendiri. Membuat kembali
teringat masa-masa kuliah di gedung MKU dan makan di Jasbog sambil melirik
penasaran pada mahasiswa fakultas yang menarik hati. He..he.. saya pun pernah
merasainya. Sempat sering makin di Jasbog. Sedangkan makan di Jasper
frekuensinya masih bisa dihitung dengan sepuluh jari tangan selama berkuliah di
Unhas dulu. Ah, kan jadi kangen 😀 *maaf malah numpang curcol*
Ok,
lanjut lagi.
Narasi
di dalam novel ini menampilkan hal menarik. Jika selama ini saat membaca kita
berusaha memahami logika tokoh berdasarkan jenis kelaminnya, logika laki-laki
dan logika perempuan, maka di dalam novel ini pembaca diajak memahami upaya
tokoh utama memahami perempuan. Menyuguhi isi kepala laki-laki saat mencoba
memahami logika (dan perasaan) perempuan. Banyak kalimat-kalimat berisi asumsi
laki-laki (yang diwakili oleh tokoh utamanya) tentang perempuan. Sepeti kalimat
di halaman 16 ini, “Entahlah, mungkin perempuan memang selalu suka dipuji, walaupun mereka
sering kali menuding laki-laki sebagai penggombal sebagai tanggapan atas pujian
itu.”
Atau kalimat di halaman 61, “Kata orang, ketika perempuan bicara dengan
semangat kita hanya perlu terkesan antusias. Tidak peduli apakah
kalimat-kalimat itu nantinya hanya melintas di telinga belaka.”
Namun
meski saya perempuan, saya tidak menyimpan rasa kesal atas pikiran-pikiran itu.
Ini karena penggunaan sudut pandang orang pertama dari sisi Renja yang
digunakan penulis. Membuat pembaca merasa bahwa itu adalah pendapat pribadi
tokoh Renja yang dibuat bingung oleh sikap Adel. Renja hanya berusaha menebak
pikiran dan perasaan Adel berdasarkan berbagai hal yang ia dengar tentang
perempuan. Sehingga sulit merasa marah pada hal itu.
Untuk
penokohan, terasa kurang hidup. Ini lebih karena tidak ada perkembangan yang
berarti pada tokoh-tokohnya kecuali pada tokoh Rustang, sahabat Renja. Hanya
Rustang yang perkembangan karakternya cukup terasa. Adel dan Renja digambarkan
berputar di kebingungan yang sama tanpa perkembangan yang berarti. Hm.. jika
harus memilih satu tokoh favorit, maka saya memilih Naufal. Sosok seperti
Naufal selalu bikin saya tertarik. Suka baca buku, cenderung tenang, meski
karakternya (menurut Renja) sedikit aneh. Belum lagi ia menyarankan Renja baca
Gadis Jeruk karya Jostein Gaarder yang juga sangat saya sukai. Jadi wajarkan
jika saya suka tokoh ini? *berdoa suami tidak baca review ini* 😀
Oiya,
satu hal yang cukup saya sayangkan. Yakni tentang Kospin dan misi “penebusan
rasa bersalah Adel” masih terkesan sambil lalu. Kurang greget dan nanggung.
Padahal isu Kospin ini mempunyai pengaruh penting pada hubungan mereka. Hanya
dua kasus tanpa penjelasan tentang berbagai hal lain seperti sumber dana yang
dikeluarkan Adel untuk misi ini.
Ok,
itu beberapa pendapat saya tentang buku ini. Terlepas dari kekurang yang ada,
saya suka dengan apa yang saya baca. Terima kasih kepada Fitrawan Umar yang
telah menyuguhkan kisah percintaan yang dibalut dengan berbagai isu sosial ini.
Ringan namun tetap bergizi 🙂 *ini makanan apa buku?*
Oiya,
ada satu frasa menarik yang beberapa kali diulangi dalam novel ini. Frasa “hal penting yang sangat sederhana” yang
merujuk pada jenis obrolan yang basa-basi namun menyenangkan. Saya suka
penggambaran ini dan menyetujui. Pada kenyataannya jika menemukan lawan bicara
yang sesuai maka kita akan menikmati percakapan hal penting yang sangat sederhana itu.

“Aku
merasa waktu begitu jahat. Ia terus berjalan tanpa peduli terhadap perasaan
manusia.” (Hal.95)

***

“Sepertinya
memang begini ketika kita menyukai seseorang. Kita merasa yakin bahwa seseorang
itu punya rasa suka yang sama. Namun, hati kecil juga berbisik untuk meragukannya.”
(Hal. 107)

Sesuai
dengan judul postingannya. Review kali ini kembali disertai dengan Giveaway.
Kak Fitrawan Umar berbaik hati menyediakan 1 (satu) buku Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan karyanya untuk 1 (satu) orang Reader yang beruntung.
Tertarik?
Mau baca juga? Mau? Yuk simak langkah-langkahnya:
1.
Follow akun twitter @FitrawanUmar dan @atriasartika
2.
Share giveaway ini di akun twitter kamu dengan mention kedua akun di atas dan
pakai hashtag #GiveawayYSDAP
3.
Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar:

“Apa pendapatmu terkait pendapat
“Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan” yang jadi judul novel ini? Setujukah?
Atau mau memberi pendapat lain tentang hal tersebut?”

Jangan lupa sertakan
data diri berupa nama, akun twitter dan email ya
🙂
Jika kamu
menshare 1 atau lebih (maksimal 3) tweet yang menggambarkan jawaban kamu, maka
akan menambah peluang kamu memenangkan giveaway ini. Jangan lupa mention aku
dan @fitrawanumar dan pakai hashtag #
GiveawayYSDAP ya 🙂
4. Periode giveaway ini
adalah 25 – 28 Desember 2015
5. Giveaway ini hanya
untuk yang domisili di Indonesia ya
🙂

“Jika
ingin memiliki seseorang di masa depan, kita juga harus memilikinya di masa
lalu.” (Hal. 110)

***
“Konsep
jodoh dan cinta itu berbeda. … …. Jodoh bisa diatur dan dipilih, tetapi
cinta tidak. Seseorang tak pernah bisa merencanakan bakal jatuh cinta dengan
siapa.” (Hal. 116)
“Kebahagiaan
itu kalau dibagi bakal bertambah. Sebaliknya, kesedihan justru berkurang kalau
dibagi.” (Hal. 153)
“…
kalau kau sakit hati, tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Kau hanya bisa
melakukan hal-hal yang sanggup membuatmu bahagia, yang menutup kesedihan di
pikiranmu. Atau kalau kau tidak menemukan kebahagiaan lain, setidaknya jangan
pusingkan dirimu dengan mencari obat kesedihan.” (Hal. 153)
“Kalau
kau tidak berniat mencintai seseorang, jangan biarkan ia menaruh harapan
terlalu lama kepadamu.” (Hal. 196)
“Rindu
lebih cerdas dari upaya kita untuk melawannya.” (Hal. 209)
“Ya,
belajar melepaskan orang yang dicintai. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh
orang-orang yang berjiwa besar.” (Hal. 229)
”Apa
arti mencintai tanpa bisa memiliki? Jika kamu jatuh cinta, maka milikilah ia
yang kau cintai. Jika kau jatuh cinta, maka yakinlah bahwa kau orang yang tepat
untuk menjaga dirinya selamanya.” (Hal. 234)
“Aku
sadar bahwa hal yang tak pernah hilang adalah kehilangan. Setiap orang akan
memiliki kehilangan. Sepanjang waktu orang akan dibayang-bayangi kehilangan.”
(Hal. 237)