..mengencangkan ikat pinggang..

ada diantara kita yang mungkin pernah menonton
“Richie Rich”..sebuah film anak-anak yang menceritakan tentang seorang
anak berusia tahun yang harus meneruskan usaha Ayahnya setelah Ayahnya
mendadak hilang dalam kunjungan ke luar negerinya.

 richie rich movieKemudian
pada saat itu para dewan direksi menginginkan upaya pengiritan
“mengencangkan ikat pinggang” guna menyelesaikan masalah financial
perusahaan. Mereka memutuskan untuk menutup salah satu pabrik yang
dianggap tidak berprospek kemudian memecat seluruh pekerja di pabrik
itu. Kemudian Richie yang telah mendapatkan pendidikan mengenai
manajemen perusahaan dengan kepolosan yang dipadukan kecerdasan
manusiawi memutuskan bahwa program pengencangan ikat pinggang itu harus
dimulai dari para pemimpin perusahaan dengan mengurangi anggaran
untuk mereka..

he..he..anak pintar..anak pintar..

menarik melihat salah satu bagian ini dan menghubungkan dengan dunia
nyata. Di sebuah negara ketika program “pengencangan ikat pinggang”
dicetuskan oleh para pemangku jabatan, saya tidak melihat upaya
pengiritan dari mereka yang jelas-jelas hidup berkelebihan dibandingkan
warga negaranya. Namun mereka malah semakin mencekik leher rakyat kecil
yang harus menanggung akibat dari krisis ekonomi secara langsung. Salah
satu sikap “kekanak-kanakan yang egois” ini terlihat dari usaha pihak
DPR untuk mendapatkan kenyamanan baru dengan membangun kantor baru.
Rakyat Indonesia tidak bodoh, mereka bisa melihat bahwa DPR tidak berhak
mengklaim seluruh “hak” mereka ketika mereka gagal menjalankan
“kewajiban” mereka. Berapa banyak RUU yang masih tetap jadi RUU?? Berapa
banyak masalah yang masih belum mampu diselesaikan oleh PBB, sebut saja
Korupsi dan sodara-sodaranya, masalah perlindungan TKI, masalah menjaga
kedaulatan RI, masalah pergesekan sosial yang tidak sedikit
memakan korban.

Anak kecil di SD juga sudah tahu mengenai hak dan kewajiban. Lantas
haruskah manusia-manusia cerdas itu diajarkan oleh anak kecil tentang
keselarasana hak dan kewajiban. Para pemimpin harus sadar bahwa ketika
ada sebuah masalah kalian-lah yang harus mempertanggungjawabkan
kepemimpinan kalian dan kalianlah yang pertama kali harus berkorban atas
kegagalan itu, bukan mereka “orang bawahan” yang tidak paham apa yang
telah kalian putuskan atas nama mereka.