“Tidak
selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa
pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan.” (hal. 160)

Penulis: Tere Liye

Editor: Andriyati
Cover: EMTE
Lay Out: Alfian
Penerbit: Republika
Cetakan: IV, November 2014
Jumlah hal.: ii + 544 halaman
ISBN: 978-602-8997-90-4
“Apalah arti memiliki,
ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?”
Apalah arti kehilangan,
ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?
Apalah arti cinta,
ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci
dan tidak menenuntut apa pun?
Wahai, bukankah banyak kerinduan
saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami
dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”
Ini adalah kisah tentang masa
lalu yang memilukan. Tentang kebencian pada seseorang yang seharusnya disayangi.
Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan.
Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjangan kerinduan.
Selamat membaca.
***
“Hanya
dua hal yang bisa membuat seorang pelaut tangguh berhenti bekerja di tempat
yang ia sukai, lantas memutuskan pergi naik kapal apapun yang bisa membawanya
sejauh mungkin ke ujung dunia. Satu karena kebencian yang amat besar, satu lagi
karena rasa cinta yang sangat dalam.” (Hal. 33)
Novel Rindu yang
ditulis oleh Tere Liye kali ini menarik untuk diikuti. Waktu yang dihabiskan
untuk melahap tulisan sebanyak 544 halaman rasanya memang setimpal dengan
hikmah yang ditebar oleh Tere Liye untuk digali oleh pembacanya.
Kisah
perjalanan sebuah kapal yang mengangkut calon jemaah haji dari Hindia Belanda
(sebutan untuk Indonesia sebelum merdeka). Sebuah kapal uap cukup besar bernama
Blitar Holland yang bertolak dari Makassar menuju Jeddah. Perjalanan yang
membutuhkan waktu satu bulan penuh dengan berbagai dinamika kehidupan yang
menjadi kapal Blitar Holland sebagai panggungnya. Tempat itu menjadi
“rumah baru” bagi para penumpangnya.
Dalam cerita ini
diketengahkan sejumlah tokoh sentral. Tiga sosok yang cukup
mencolok adalah tokoh Gurutta, Daeng
Andipati, Ambo Uleng dan seorang gadis kecil ceria bernama Anna. Memang ada 5 pertanyaan yang muncul dari pengalaman
hidup masing-masing tokoh. Selain tokoh-tokoh tersebut, ada juga 2 tokoh lain yang
kelak pertanyaannya akan terlontar dan dijawab oleh Gurutta.
Sudut pandang
orang ketiga yang digunakan dalam novel ini membuat pembaca bisa menikmati
kisah di dalam kapal uap Blitar Holland lebih lengkap. Secara berganti, narasi
ditampilkan dari dekat tokoh Daeng Andipati, Gurutta, Ambo Uleng, Bonda Upe,
dan sering kali dari dekat Anna.

Cerita di dalam Rindu ini mencoba mengisahkan kembali
kehidupan yang dialami oleh para jemaah haji zaman dulu yang harus meninggalkan
kampung halaman selama 9 bulan dan menghabiskan 2 bulan hidup mereka di atas
kapal laut. Dalam rentang waktu ini banyak hal yang bisa terjadi. Yang
dikisahkan kali ini hanya cerita keberangkatan yang membutuhkan waktu 1 bulan
perjalanan.
Banyak hal yang
terjadi selama sebulan itu. Ada kisah penuh keceriaan saat Anna dan
teman-temannya menjadikan kapal sebagai arena permainan. Ada juga kisah
mengharukan saat sebuah cinta dipisahkan oleh takdirNya. Ada pula kisah
pemaafan dan penerimaan pada masa lalu. Kisah cinta yang akhirnya belajar
diikhlaskan. Hingga kisah menegangkan saat terjadi gesekan antara pribumi
dengan penjajah (mengingat setting waktunya adalah tahun 1938, sebelum
Indonesia merdeka).
“Luka
fisik dengan cepat sembuh, sedangkan pemahaman yang baik atas setiap kejadian
akan selalu menetap.” (hal.53)
***
“Jika
kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka
jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang
harus kau baca.” (hal. 197)
Membaca novel
Rindu membawa saya ke sebuah petualangan penuh hikmah. Dengan duduk bersama
buku ini, saya merasa tengah menemukan beberapa makna hidup di dalamnya.
Keberadaan Gurutta sebagai pemimpin
yang baik pemahamannya tentang Islam menjadikannya sebagai guru dalam sekolah
kehidupan di rumah terapung para jemaah haji, Kapal Uap Blitar Holland.
Menariknya,
penulis yang berlaku sebagai narator cerita berkali-kali membisiki pembaca
tentang akan ada lima pertanyaan yang akan dilontarkan dan kemudian terjawab di
dalam kapal tersebut. Kapal yang membawa kerinduan, rindu pada Rabb Semesta
Alam, rindu pada kekasih hati, hingga rindu pada ketenangan hati.
Selama membaca
novel ini, bab-bab yang secara lugas menjawab pertanyaan tersebut menjadi
bab-bab favorit saya. Sebab sulit untuk menentukan quote yang paling mewakili.
Sebab keseluruhan bab tersebut adalah penjelasana panjang untuk sebuah
pertanyaan tentang hidup. Dalam kisah ini, setiap kali Gurutta menjawab pertanyaan tersebut, ia selalu membuatnya menjadi
tiga jawaban yang terpisah namun saling berkaitan erat. (he..he..ini
mengingatkan saya pada komik detektif Dan Detective School yang saat akan
menjelaskan penyelesaian suatu kasus selalu mengatakan ada 3 petunjuk utama). 
Dari lima
pertanyaan yang diajukan ada dua yang saya rasa paling dekat dengan kehidupan
saya dan itu menjadi bahan muhasabah untuk saya. Bukan berarti tiga pertanyaan
lain tidak menggugah hati. Ini terkait seberapa dekat masalah itu dengan
masalah saya pribadi. Dua pertanyaan itu adalah pertanyaan Mbak Kakung dan
pertanyaan Ambo Uleng. Di saat membaca bab Empat Puluh Enam, saya tergugu oleh
air mata haru. (T_T)
“….
Kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi
ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri.
Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka,
jangan rusak kapal kehidupan milik kau, Ambo, hingga dia tiba di dermaga
terakhirnya.” (hal. 284)
Harus saya akui,
cara Tere Liye menuturkan cerita membuat pembahasan yang seharusnya cukup berat
ini menjadi ringan. Kesan mengguruinya pun tersamarkan. Saat membaca buku ini
saya lebih sering merasa bahwa narator cerita (penulis) menempatkan diri
sebagai teman bermain Anna, tokoh gadis kecil ceria yang menghidupkan kisah
ini, namun sudah dewasa usianya. Dengan penempatan seperti ini, cerita
dituturkan dengan ringan dan dengan keceriaan & rasa ingin tahu
kanak-kanak.
Selain itu,
kekuatan Tere Liye di novel ini adalah kemampuannya menyimpan informasi untuk kemudian
dikeluarkan sedikit demi sedikit. Serta mampu menggiring pembaca untuk tetap
melanjutkan membaca hingga seluruh pertanyaan terjawab.
Namun sejujurnya
ada beberapa hal yang dengan mudah tertebak di dalam cerita ini. Seperti peran
yang diambil Ambo Uleng saat kapal uap Blitar Holland menghadapi masalah. Serta
tentang dibajaknya kapan uap tersebut.
Selain itu,
rasanya akhir yang terlalu manis yang dijabarkan di epilog membuat kisah ini
menjadi antiklimaks (>_<)
Tapi secara
keseluruhan, saya kembali dibuat jatuh cinta pada karya Tere Liye. Ah, sebab
Rindu memang menjadi hal yang diakrabi dan kadang dibenci manusia sejak dahulu.
“Buku
adalah sumber ilmu tiada ternilai, mengisi waktu kosong dengan membaca adalah
pilihan baik selama di kapal.” (hal. 58)
 ***
 

Puisi yang terinspirasi oleh tokoh Ambo Uleng dalam novel Rindu

Kumpulan Quote
“Mata
air yang dangkal, tetap saja bermanfaat jika jernih dan tulus. Tetap segar
airnya.” (Hal. 57)
“Dalam
banyak hal, diam justru membawa kebaikan.” (hal. 83)
“Tidak
perlu janji. Insya Allah sudah lebih dari cukup, Nak. Karena kita tidak tahu
apa yang akan terjadi esok lusa.” (hal. 172)
“Hidup
ini sesungguhnya adalah antrean panjang menunggu kematian. Semua makhluk yang
bernyawa, besok lusa pasti mati.” (hal. 433)