Penulis: Robin Wijaya
Editor: Ibnu Rizal
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Penata letak: Dian Novitasari
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi: Ayu Laksmi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2013
Jumlah hal.: x+374 halaman
ISBN: 

979-780-6146

Pembaca tersayang,

Banyak
jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis
novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota
Tujuh Bukit.

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia,
menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari
balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna,
seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana
jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya,
mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya?
Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan
kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR

***
Cerita di buka
dengan prolog yang belum menghadirkan tokoh utamanya. Melainkan memberi
gambaran tentang impian dan hal yang dihargai oleh tokoh utama laki-laki,
Leonardo Halim (yang akrab disapa Leo). The
Lady
adalah sebuah masterpiece
baginya yang hanya dibagikan ke publik untuk dipandangi namun tidak untuk
dimiliki. Kelak pembaca akan tahu bahwa The
Lady
akan menjadi sebuah jembatan tak kasat mata atas cerita ini.
Novel ini
mengangkat kisah tentang Leo, seorang pelukis yang sangat mengagumi Michelangelo
dan mencinta seni. Ia bertemu dengan Felice Patricia di Roma dalam sebuah
moment yang tidak mengenakkan yang melibatkan lukisan Leo. Namun entah mengapa
kehadiran Felice sangat membekas di hati Leo.
Pertemuan mereka
berikutnya terjadi di Bali, saat Leo ikut meramaikan pameran seni di Taman
Budaya, Bali. Di waktu yang sama Felice datang ke Bali untuk menghadiri
pernikahan kakaknya, Anna. Namun karena ada masalah diantara ia dan ibunya,
akhirnya Felice lebih sering memilih untuk menghabiskan waktu di luar cottage karena ingin menghindari ibunya.
Saat itulah mereka bertemu kembali.
Kali ini
pertemuan mereka lebih ramah. Bahkan Leo menemani Felice yang masih enggan
pulang ke cottage. Mereka kemudian
saling bercerita. Leo bercerita tentang impiannya. Felice mendapatkan
penghiburan dari Leo. Namun pertemuan mereka yang tanpa rencana pun memberi
mereka perpisahan yang tanpa rencana. Hingga akhirnya Leo menghubungi Felice
dan mengabarkan bahwa ia tengah berada di Roma.
Leo meminta
Felice menjadi pemandunya di Roma selama sehari. Ia ingin merekam banyak
pemandangan indah untuk ia jadikan inspirasi bagi karyanya. Selama di Roma
inilah, keedekatan Felice dan Leo berkembang. Sayangnya, ada yang terlupa.
Felice memiliki
seorang kekasih bernama Franco yang berprofesi sebagai pemain bola. Fernando
adalah pria yang sangat romantis dan sangat pandai menggombal. Di lain pihak,
Leo telah memiliki Marla. Kekasih yang sudah setahun menemani dan mengurusnya.
Lantas bagaimanakah mereka akan menjalani kedekatan itu? Apakah yang tumbuh di
antara mereka memang cinta? Bersatukah Leo dan Felice dengan Roma sebagai
saksinya?
***
Yup, satu lagi
kisah cinta dibukukan dengan berlatar Eropa. Satu lagi cerita dengan tema cinta
sampai di pembaca. Sebelum membaca review ini lebih lanjut, saya harus
mengingatkan bahwa saya bukanlah reviewer yang saat membaca merasa menjadi
bagian dari kisah itu. Saya lebih cocok diposisikan sebagai penonton dari
setiap adegan yang disuguhkan penulis dalam novelnya. Hanya segelintir karya
yang bisa membawa saya dalam pusaran perasaan yang diciptakan dalam cerita.
Saat membaca
novel bertema romantis, sering kali “kebetulan” adalah kunci dari semua
kemungkinan itu. Ini mungkin memang terjadi di dunia nyata tapi rasanya terlalu
sulit membayangkannya sebagai dunia yang terjadi di duniaku.
Konflik yang
ditawarkan dalam buku ini tidak tergolong baru. Ya, kisah diantara dua tokoh
yang pada akhirnya menikmati pertemuan yang singkat dan merasa telah jatuh
cinta. Sayangnya pada akhirnya mereka berfikir “Kenapa baru sekarang kami
bertemu setelah salah satu dari kami memiliki pasangan?”. Merasa tidak asing,
ya cerita ini sudah banyak saya temukan dalam novel. Yang membuatnya berbeda
adalah setting cerita dan cara penyampaiannya.
Yang menarik
dalam buku ini adalah banyak quote-quote
yang menarik untuk disimpan, setting tentang Roma serta penjelasan singkat
tentang karya-karya Michelangelo. Quote yang
menarik selalu ditempatkan di bawah judul setiap chapter seolah ia menjadi sub
judul. Dan memang quote tersebut
merupakan penggambaran yang tepat atas kejadian dalam chapter tersebut.
Untuk cover,
saya suka dengan yang simpel. Dan menurut saya sampul novel Roma ini simple
tapi menarik meskipun membuat kita tidak begitu bisa menebak dengan apa yang
akan terjadi di dalam novel. Begitupun dengan blurb-nya. Tidak  tertebak,
namun cukup menggugah. (^_^)
Nah, jika harus
memberi nilai untuk novel ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 7,5
(^_^). Ini mungkin karena dimensi romance
yang terlalu mendominasi tanpa pesan moral yang cukup berarti untuk pembaca.
Quote:
“Dan passion. Orang nggak akan bergerak
dengan totalitas tanpa terjebak di dalam hasrat, kan?”
(hal.13)
“Mereka yang mengerjakan sesuatu dari hati,
karyanya akan memiliki jiwa. Where the spirit does not work with the hand,
there is not art”
– Da Vinci (hal. 14)
“Tawa dan kebersamaan yang hangat tidak akan
tergantikan oleh apa pun”
(hal. 20)
“Kamu menyenandungkan lirik. Kudengar cinta
memanggil. Namamu yang telah menjadi lagu di tidur malamku”
(hal. 118)
“Aku tidak mengejar kesempurnaan. Tapi aku
menikmati proses menuju sempurna. Seperti Michelangelo menikmati setiap waktu,
tenaga, dan pikirannya yang digunakannya dalam menciptakan sebuah mahakarya”

(hal. 178)
“Setiap orang punya ruang dan
tempat tersendiri. Mereka yang pergi dan datang, tak akan pernah bisa saling
menggantikan”
(hal. 198)
“Rindu yang Tuhan ciptakan adalah
jarak terdekat di antara perpisahan”
(hal. 206)
“…Tapi bukankah cinta memang
datang perlahan? Menghuni hati tanpa perencanaan lebih dulu? Bahkan, sebelum perasaan
terungkap, manusia lebih dulu menyimpannya”
(hal. 302)
“Setiap orang tidak berubah tanpa
motif. Sikap adalah manifestasi dari perasaan.”
(hal. 309)
“Pagi yang dingin menyadarkanku.
Tak ada kamu yang menjadi matahari terbit bagiku.”
(hal. 312)
“Ternyata rumah dan keluarga adalah
surga penuh kebahagiaan”
(hal. 302)
“….Ingatlah selalu, Felice, kalau
cinta akan berawal dan berakhir di tempat yang sama….”
(hal. 324)
“Tidak ada yang lebih membuatmu
bahagia selain mengetahui cinta datang dan diberikan kepada orang yang tepat.
Namun, jika kenyataan berkata sebaliknya, mungkin kamu hanya perlu bersiap
untuk melepas dan merelakannya”
(hal. 332)
“Ada perbedaan tipis di antara
benci dan cinta. Dan yang menyekat keduanya hanyalah perasaan tak mau
memaafkan.”
(hal. 336)
“Felice, kamu tahu kenapa kita
membenci seseorang? Seringkali karena kita menaruh cinta yang begitu besar dan
lupa akan risiko dikecewakan. Padahal, cinta menerima segalanya. Cinta adalah
tentang kekurangan dan kelebihan.”
(Hal. 341)