Penulis: Pipiet Senja
Editor: Dani Fitriyani,
Hijrah Ahmad, Adhika Prasetya
Sampul: Satrio Amal
Budiawan
Penerbit: Emir (imprint
Penerbit Erlangga)
Cetakan: 1, 2015
Jumlah hal.: 224
halaman
ISBN: 978-602-0935-24-9
Soli
tak pernah tahu siapa ayah kandungnya dan mengapa ibunya sampai hati
membuangnya begitu saja? Masa kecilnya dihiasi dengan pergulatan seru melawan
kemiskinan, penghinaan, dan identitas yang tidak jelas. Tenyata, tak cukup
sampai di situ. Hal itu masih ditambah lagi dengan kezaliman di luar batas
kemanusiaan. Di usia 13, Soli telah mendapat pelecehan dan perlakuan sadis dari
seorang lelaki jahim.
Di
usia 15, ia mengalami hal serupa yang lebih keji, disekap berhari-hari di
gerbong kereta, sehingga ia bangkit melawan dan menghabisi si durjana. Derita seakan
tak berkesudahan, saat berjumpa dengan ibu kandung yang dirindukan, sang ibu
malah tega menjualnya.
Novel
ini menceritakan bagaimana seorang perempuan lugu dari desa mampu memintal masa
depannya. Mengejar mimpi-mimpinya, dan menyimpan segala pedih-pedih
kehidupannya, kemudian ia mampu bangkit melawan!
***
Novel
ini bercerita tentang kehidupan Soli. Perempuan yang sejak kecil menjalani
pahitnya kehidupan. Titin, ibu Soli, seketika meninggalkan bayi kecil yang
masih berwarna merah itu tepat setelah melahirkannya. Bersikap tidak peduli
pada bayi kecil itu. Syukurlah nenek Soli yang merupakan ibu kandung Titin, Mak
Kesih, mau merawat gadis itu.
Sejak
kecil kehidupan Soli tidak pernah mudah. Sejak mulai mampu membantu Mak Kesih,
Soli dengan senang hati menggantikan perempuan yang setulus hati merawatnya
meski hidupnya sendiri sangat terhimpit. Menjadi pemecah batu atau pengangkut
pasir. Sayangnya, Soli tumbuh menjadi gadis yang rupawan. Ya ini disayangkan
sebab kecantikan bagi orang yang berada dalam situasi seperti Soli bisa jadi
malapetaka. Benar saja. Kecantikan soli membuatnya menghadapi kejadian pahit.
Ia digagahi di usia 13 tahun. Akibat hal itu, ia harus kehilangan Mak Kesih dan
terusir dari kampung. Ia pun mencoba mencari ibu kandungnya. Sayangnya malang
tak dapat ditolak. Gadis ini kembali mengalami kepahitan karena kecantikan yang
diwariskan ibunya. Ia disekap di gerbong selama berhari-hari hingga mengalami
trauma dan luka berat di tubuhnya.
Setelah
itu, ibunya mendadak datang padanya. Entah karena apa. Namun ternyata itu bukan
akhir dari penderitaan. Ia harus melihat sendiri bahwa ibunya tetap saja tidak
menginginkannya. Ibunya malah menjualnya. Setelah itu hidup tetap saja tidak
memberi kenyamanan baginya.
Bagaimanakah
akhir bahagia bagi seorang Soli?

***
Sudah
lama saya tidak menikmati karya bunda Pipiet Senja. Karya-karya beliau mewarnai
masa SMA saya. Saat itu tentu saja saya belumlah jadi seorang blogger buku.
Bahkan saat itu lebih sering pinjam buku daripada membeli. Maklum, modal
sebagai anak sekolah tidak memungkinkan untuk selalu membeli buku yang
diinginkan.
Maka
saat mendapati novel Romansa 2 Benua ini dalam paket buku yang saya terima dari
penerbit Erlangga jelas menyenangkan hati saya. Membaca blurb di belakang buku ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana
Pipiet Senja akan menuturkan kehidupan Soli yang sangat tragis ini?
Kekhasan
novel-novel Pipiet Senja adalah selalu bernuansa Islami tanpa kesan menggurui.
Kesan ini menguat saat kemunculan tokoh Faiz. Terutama di sepertiga akhir novel
ini. 
Salah
satu kelebihan novel Romansa 2 Benua ini adalah informasi tentang suku Amungme.
Suku yang berada di Papua. Budaya mereka banyak yang terangkat di dalam novel
ini. Dan bagi saya ini menyenangkan. Menemukan sebuah hal baru dalam buku yang
dibaca adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi saya.
Namun,
ada yang hal yang menganggu saya. Ada sedikit kesan “sinetron” di dalam plot
cerita. Kehidupan Soli yang ditimpa kemalangan tanpa henti adalah penyebabnya. Ditambah
lagi kehidupan Soli di Belanda di mulai dengan kebetulan. 
Tapi
gaya menulis Pipiet Senja yang mengalir membuat kesan itu bisa diabaikan. Deskripsi
dan narasi di dalam novel ini benar-benar pas. Tidak berlebih. Lugas tapi
menyentuh hati. Kemudian banyak hal yang menarik diceritakan. Tentang kehidupan
Titin, Ibu Soli, kehidupan Nuwa, dan tokoh lain. Ini karena penggunaan sudut
pandang orang ketiga di dalam cerita. Sudut pandang ini memudahkan Pipiet Senja
mengeksplorasi banyak hal dalam hidupnya. Pilihan tepat.
Saya
bersyukur bisa kembali menikmati karya beliau. Sukses terus ya, Bunda Pipiet
Senja. Semoga trus produktif. Sehat selalu ya 🙂