Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Buah Hati
Cetakan: I, Desember 2011
Jumlah hal.: 226 halaman
ISBN: 978-602-8663-74-8
Jadi ibu muda bekerja di Jakarta tidak
mudah!
Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa
kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion
dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat
menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari adalah
passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang
masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.
Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu
sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuhnya yang sehari-hari selalu
bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang
sesungguhnya dimulai sejak momen itu.
***
Ini adalah buku
pertama Sitta Karina yang saya resensi. Dengan genre MomLit, buku mengangkat cerita seorang ibu yang bekerja. Kisah ini
jelas menjadi terasa real karena
kondisi ini sudah banyak terjadi di masyarakat. Banyak perempuan yang memilih
menjadi wanita karir karena sejumlah alasan. 
Hannah, seorang
perempuan yang tengah menikmati kehidupannya sebagai wanita karir dengan
seorang suami yang baik hati dan anak yang aktif. Cerita dimulai dengan
menggambarkan rutinitas sehari-hari dan mungkin akan kita anggap wajar dan
sering kita lihat dilakukan oleh ibu-ibu muda lainnya, yakni menemani si buah
hati sambil membaca tabloid fashion atau gaya hidup. Awalnya ini adalah
gambaran yang biasa saja. Hal yang wajar bagi Hannah.
Ia merasa
semuanya baik-baik saja sampai ia mendengar anaknya bergumam mengatakan sayang
pada pengasuhnya, Upik. Hal ini menjadi pukulan berat bagi Hannah. Hannah mulai
merasa bahwa posisinya sebagai ibu di mata Razsya tersaingi oleh Upik. Ia
menjadi lebih sensitif bahkan otaknya terus bekerja membandingkan antara
dirinya dengan Upik.
Selain itu, ia
semakin dibuat stress atas sikap
ibunya yang ternyata terlalu memanjakan Razsya, padahal Hannah dan suaminya,
Wigra, telah sepakat bahwa mereka akan mendidik Razsya dengan lebih disiplin.
Seperti bahwa kalau makan harus di meja makan, bukan di depan tv. Belum lagi ibunya
yang menggunakan “bahasa dewasa” kepada Razsya tanpa filter. Hal ini membuat
hubungan Hannah dan ibunya sering kali diwarnai ketegangan.

Akhirnya, Hannah
pun sampai pada keputusan akhir untuk keluar dari pekerjaannya dan fokus
mengurus Razsya. Ia akan bekerja sebagai ilustrator
freelancer
untuk mendapatkan tambahan uang. Maka sejak itu hari-hari Hannah
sebagai ibu rumah tangga purnawaktu dimulai. Awalnya ia kesulitan menjalaninya
sebab hal ini berbeda dengan rutinitas sebagai perempuan kantoran yang
sebelumnya ia jalani. Masalah lain pun muncul dengan mendinginnya hubungan
Hannah dan Wigra serta munculnya Banyu yang memiliki ketertarikan pada Hannah.
Sanggupkah
Hannah menghadapi semua itu? Bagaimana Hannah merawat dan mendidik Razsya
selama menjadi ibu rumah tangga? Mampukan Hannah dan Wigra menjaga keutuhan
rumah tangga mereka?
Buku ini
merupakan buku bergenre MomLit pertama
yang saya baca. Ceritanya sangat mencerminkan kondisi masa kini. Banyak
pelajaran yang bisa didapatkan oleh perempuan Indonesia agar lebih bijak
memandang dan menuntukan pilihan untuk menjadi wanita karir, ibu rumah tangga,
atau freelancer. Ini karena ada sedikit sisipan cerita tentang Mbak Ria,
tetangga Hannah, yang selalu mencela pilhan Hannah yang tetap bekerja setelah
menikah dan punya anak. Namun ternyata Mbak Ria dihadapkan pada musibah yakni
sang suami meninggal sedangkan Mbak Ria tidak memiliki pekerjaan selain menjadi
ibu rumah tangga. Sisipan cerita ini menjadi lebih adil dalam melihat
pilhan-pilihan itu.
Hm..namun satu
yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa novel ini diberi judul Rumah Cokelat
ya? Hm..entahlah, saya belum mendapat ide tentang hal ini. Oiya, jika saya
harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1 – 10, maka saya memberinya
nilai 8 karena sarat akan nilai-nilai kehidupan. (^_^)v