Hari Kamis, 3 Oktober 2013, Friends of Bosscha
bersama teman-teman dari Komunitas Aleut! melakukan ziarah bersama ke
pengalengan. Setelah pada malam sebelumnya, saya dan teman-teman mengikuti kegiatan
peneropongan  bintang sekaligus Launching
bersama Friends of Bosscha (baca Lilin Kecil Sahabat Bosscha). 
Lantas, apa yang dilakukan Sahabat Bosscha di
Pengalengan? Ada apa di Pengalengan? Pengalengan, tepatnya di Perkebunan Teh
Malabar, adalah tempat peristirahatan terakhir KAR Bosscha. Dalam tulisan saya
sebelumnya, saya sempat menyinggung tentang beberapa sumbangsih KAR Bosscha.
Sedikit saya tuliskan tentang riwayat hidup Bosscha.

Makam KAR Bosscha
Karel Albert Rudolf Bosscha lahir di Den Haag pada tanggal 15 Mei 1865. Beliau menghembuskan
nafas terakhir di Malabar, Pangalengan, 26 November 1928. Beliau hidup dengan
kecintaan pada ilmu pengetahuan. Ini ada hubungannya dengan latar belakang
beliau. Ayah KAR Bosscha, Johannes Bosscha, adalah seorang Guru Besar Fisika.
Namun sayangnya KAR Bosscha tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di Politeknik.
KAR Bosscha kemudian datang ke Hindia
Belanda pada 1887 untuk  membantu
pamannya, Edward Julius Kerkhoven, di Perkebunan Sinagar, dekat Cibadak,
Sukabumi. Namun KAR Bosscha merasa kurang cocok di sana. Ia pun memutuskan
membantu ekspedisi adiknya, Ir. Jan Bosscha ke Kalimantan. Namun ternyata di
Kalimantan pun KAR Bosscha tidak merasa cocok. Akhirnya ia kembali ke Priangan.
Akhirnya pada tahun 1896 oleh sepupu dari pihak ibunya, Edward Kerkhoven, KAR Bosscha di serahi tanggung jawab untuk
mengelola perkebunan Malabar. Dari sinilah sumbangsih KAR Bosscha bermula.
Kecintaan Bosscha pada ilmu
pengetahuan akhirnya tersalurkan. Bosscha membangun sebuah pembangkit listrik
dengan menggunakan aliran sungai. Listrik ini digunakan untuk mengaktifkan mesin pelayu yang diciptakan oleh KAR Bosscha. Tindakan KAR Bosscha yang memanfaatkan
alam dan iptek ternyata mampu mengembangkan Perkebunan Teh Malabar yang
dikelolanya. Bahkan pada tahun 1910 perkebunan tersebut sempat dinyatakan
sebagai perkebunan teh terbesar di dunia, sebuah prestasi yang sangat besar.
Kondisi ini juga memberi Bosscha
kemapanan finansial. Namun ia tidak menikmatinya untuk dirinya sendiri. Bosscha
membangun 420 bedeng-bedeng sebagai hunian untuk pekerja pribumi di
perkebunannya. Kini dari 420 bedeng-bedeng tersebut, hanya tersisa 1 yang
disebut bumi hideng. Sebutan bumi hideng ini muncul karena dindingnya
dilapisi aspal dan minyak tanah sehingga berwarna hitam(dalam bahasa Sunda
disebut hideng).

Kemurahan hati Bosscha tidak sampai di
sana. Tahun 1901, Bosscha mendirikan sebuah sekolah, Vervoolog Malabar, untuk pribumi khususnya anak-anak pekerja di
kebun teh yang ia kelola. Bosscha juga ikut membantu pendirian Technische
Hoogeschool
yang kini menjadi
Institut Teknologi Bandung (ITB). Bosscha
juga memberi sumbangan materi untuk Lembaga Bisu Tuli ((Doofstommen Instituut),
Lembaga Buta (Blinden Instituut), Bala Keselamatan (Lager des Heils),
sejumlah rumah sakit, serta sebuah Rumah Perawatan Penderita Lepra (Pro
Leproos
di Jawa Tengah).
KAR Bosscha jelas sangat mencintai
Hindia Belanda meskipun tanah yang ia pijak bukanlah tanah kelahirannya. Inilah
yang ingin dilanjutkan oleh Sahabat Bosscha. Berharap bahwa Sahabat Bosscha
akan bisa memberi sumbangsih sebesar yang diberikan KAR Bosscha baik secara
individu maupun sebagai sebuah komunitas.
Hari itu, Sahabat Bosscha “melapor” ke
KAR Bosscha bahwa sekarang beliau sudah memiliki sahabat. Sahabat yang akan
mengikuti jejak beliau yang cinta pada ilmu pengetahuan dan sesama. Acara dibuka
dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka sebagai penyemangat untuk bisa
melakukan sesuatu untuk Ibu Pertiwi ini.
Acara dilanjutkan dengan sambutan dari
Pak Eka Budianta sebagai ketua Sahabat Bosscha. Bagi beliau semoga sosok KAR Bosscha
yang filantropis bisa menjadi contoh buat Sahabat Bosscha lainnya. Pak Eka pun
terkagum-kagum melihat tumbuhan sekitar Makam Bosscha yang banyak ditumbuhi
oleh tanaman. Bahkan di makam Bosscha ada sejumlah tanaman yang tergolong tua
dan langka.
Setelah itu Pak Mahasena, Kepala
Observatorium Bosscha, juga ikut memberi sedikit penyampaian. Beliau berkata
bahwa kehadiran beliau bersama staff Observatorium Bosscha bisa menjadi napak
tilas. Banyak yang tidak tahu bahwa peran seorang KAR Bosscha atas berdirinya
Observatorium Bosscha sangatlah besar. Dan lebih banyak lagi yang tidak tahu
tentang sumbangsih beliau.

ki-ka: Pak Mahasena, Atria, Bang Ridwan, Pak Eka Budianta
Setelah sambutan dari Pak Eka dan Pak
Sena, seluruh rombongan yang terdiri 3 bus dan 1 mobil elf bersama-sama
menyanyikan lagu Syukur sebagai penghargaan pada beliau. Setelah itu, Bang
Ridwan Hutagalung dari Komunitas Aleut berbagi cerita tentang sumbangsih KAR
Bosscha.  Sebagai penutup, Pak Eka Budianta mendeklamasikan sepenggal puisi “Sepasang Pohon Jambu” di samping makam KAR Bosscha. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama karena rasanya
tidak lengkap jika kebersamaan ini tidak diabadikan.

Berfoto bersama di Makam KAR Bosscha


Sesi foto bersama telah selesai, tapi bukan
berarti kegiatan kami selesai. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan
mengunjungi Rumah Bosscha. Di sekitar rumah tersebut dibangun beberapa pondok
penginapan yang bisa disewa pengunjung. Rombongan pun masuk melihat-lihat
furniture di dalam rumah. Ada sebuah piano yang terletak di sudut ruang depan
yang usianya cukup tua. Sayang saat itu kami tidak bisa melihat kamar tidur dan
kamar kerja Bosscha.

Makan siang bersama
Akhirnya saat waktu menunjukkan jam 12
siang, seluruh rombongan makan siang bersama di teras salah satu bangunan baru
yang ada di lingkungan Rumah Bosscha. Ada pula yang duduk di bawah pohon.
Setelah makan, Bang Ridwan dan Pak Eka pun berbagi cerita tentang sejarah teh
di Bandung. Bahkan diceritakan bahwa dulu Bosscha perlu 2-3 hari untuk bisa
datang ke Observatorium Bosscha, padahal pada saat ini hanya
dibutuhkan waktu tempuh sekitar 3-4 jam. 

Bang Ridwan dan Pak Eka berbagi cerita

Setelah
sesi cerita berakhir, berakhirlah acara hari itu. Tapi semoga semangat KAR
Bosscha bisa tertanam di hati semua Sahabat Bosscha. Semoga sikap dermawan KAR
Bosscha bisa menjadi contoh bagi Sahabat Bosscha. Dan semoga kehadiran Sahabat
Bosscha bisa ikut menjaga apa yang ditinggalkan oleh KAR Bosscha.

 

Berfoto bersama di depan Rumah Bosscha

 Sumber Foto: 
Ibu Myke Jeanneta

Bang Ridwan Hutagalung
Beyhaqi, Penggiat Aleut
Fan Page Observatorium Bosscha