Penulis: Endang Rukmana
Penyunting: Windy Ariestanty
Desain Sampul & Tata Letak: Jeffri
Fernando
Cetakan: Kedelapan, 2009
Jumlah hal.: xx + 254 halaman
ISBN: 979-780-031-8
“Elo tuh sakit, ye!”
“Sakit apaan, Mon?”
“SAKIT JIWA, tau!”
“Kayaknya sih iya, tapi cuma setengah, sih!”
“Wah, bener-bener sakit nih orang! Nggak ngerti gue, Bob!”
“Iya, Mon. Gue sakit jiwa, tapi cuma setengah!”
“Sakit ½ jiwa, gitu? Mana ada, woy!”

Bermula dari rasa penasarannya pada pesan gaib dari si Kakek Bijak, Bobi
memutuskan melakukan perjalanan ke Tanah Baduy untuk menemukan kubur
ari-arinya. Perjalanan ini adalah sebuah proses pencarian jati diri. Ari-ari
Bobi yang dikuburkan di Baduy, bagi Bobi adalah bagian darinya yang tercecer;
setengah jiwanya yang belum ia temukan.

***
Sebenarnya review
ini ingin saya ikut dalam Baca Bareng BBI edisi Mei, tapi karena alasan (sok)
sibuk akhirnya bukunya selesai dibaca tapi review-nya tidak berhasil ditulis.
*iya curcol deh*
Baca buku ini
cukup makan waktu bagi saya. Ini karena genre komedi tidak pernah menjadi genre
favorit saya. Jadi sejak awal saya membaca buku ini dengan wajah lempeng tanpa
senyum (>_<). Bukan..bukannya saya tidak punya selera humor, tapi mungkin
syaraf humor saya sudah putus. He..he..*Apa bedanya, Tria?*

Novel Sakit ½
Jiwa ini direkomendasikan oleh Novel, seorang kawan saya yang jadi partner
setia memburu buku2 di berbagai book fair di Bandung (^_^). Kata dia buku ini
pasti akan bikin saya ngakak. Tapi ya itu, sejak dulu genre komedi tidak begitu
menarik bagi saya. Sejak membaca kata pertama dalam cerita ini, saya sudah
skeptis akan bisa menikmatinya. Dan ternyaaaattaaaaa.. hm..benar saja, saya
tidak berhasil dibuat tertawa.
Bagi saya pribadi
humornya terkesan garing. Bahkan lebay. Entah karena rentang naskah ini yang
terbit tahun 2006 dengan masa kini 2014 yang membuat kehumorannya jadi terasa
basi. *kemungkinan sih karena itu*. Selain itu tokoh Bobi, yang berusaha datang
ke tanah suku Baduy demi ari-arinya yang ternyata ditanam di sana, terasa
terlalu ingin sok lucu dan keren >_<. Si kakek yang jadi pemberi petunjuk
pada Bobi pun terkesan alay. Monda, pacar Bobi pun gak jelas perasaannya karena
sikapnya yang galak tapi suka ke Bobi.
Tapi ada yang
juga bagian yang menarik dari novel ini. Yakni cerita petualangan Bobi
mengunjungi kota Banten, Rangkasbitung, dan tanah tempat masyrakat Baduy
tinggal. Deskripsi tentang kota-kota itu cukup menambah pengetahuan saya.
Kondisi kota dan sosial budaya dan masyarakat yang dideskprisikan di dalam
cerita pun menarik. Tapi begitu masuk kembali ke cerita kegokilan si Bobi saya
kembali gagal suka (>_<).
Hm..itu aja deh
pendapat saya tentang buku ini. Sekali lagi ini sebaiknya tidak jadi rujukan
utama. He..he.. karena untuk genre humor saya ini kurang mumpuni (>_<)