“Perjodohan
pada prinsipnya adalah sebuah penetralan sesuatu yang ekstrem. Dengan adanya
jodoh, kutub maskulin bertemu kutub feminim. Terbentuklah keseimbangan.” (Hal.
22)


Penulis: Afifah Afra
& Riawani Elyta
Penyunting Bahasa &
Penyelaras akhir: Mastris Radyamas
Penata letak: Bagus
Muhammad Ma’ruf
Desain sampul: Andhi
Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Juli
2015
Jumlah hal.: 208 halaman
ISBN: 978-602-1614-65-5
Sakinah,
menurut ulama, adalah hadiah dari Allah untuk sepasang suami – istri yang
menikah dalam rangka menyempurnakan separuh agama. Modal sakinah, jika dikelola
dengan baik, akan menghasilkan mawaddah dan rahmah. Inilah sesungguhnya pilar
penting dalam sebuah pernikahan. Dalam buku ini, penulis secara khusus dan
mendetail memaparakan pilar mawaddah, alias cinta yang khusus terjalin
antarsepasang manusia yang berlawanan jenis, yang telah sah sebagai suami istri.
Pilar ini penting unruk dikaji. Karena secara manusiawi, manusia memiliki
hasrat terhadap lawan jenis. Islam tidak hendak menghilangkan hasrat tersebut,
namun dikelola dalam sebuah ikatan cinta yang sakral, dan dijadikan sebagai
sarana regenerasi manusia itu sendiri. Di satu sisi, inilah yang membuat sebuah
pernikahan seringkali terasa begitu indah.
Ya,
pernikahan ibarat buah segar. Pernah melihat rangkaian buah anggur yang
dipajang menawan? Dari tampilan kulitnya saja yang merah merona, akan mampu
menyedot rasa ketertarikan yang besar dari siapa pun yang menatapnya. Kita penasaran,
menatapnya berlama – lama, ingin mengulik isinya, mencicipi rasanya,
membayangkan kelezatannya. Sementara, bagi yang telah mencecap nikmatnya,
sepertinya tak sabar untuk mengabarkan kepada dunia, seberapa buncah
kebahagiaan kita. Namun, memang ada yang mendadak memuntahkan anggur yang
terlanjur dikunyah, karena ternyata dagingnya kecut, busuk, atau berisi ulat. Tentu,
kita tdak menginginkan hal ini terjadi pada kita, bukan? Karena itu, mari kita
baca buku ini!
***
Buku
Sayap – Sayap Mawaddah ini adalah lanjutan pembahasan dari buku Sayap – Sayap Sakinah.
Yup, kedua buku ini membahas tentang pernikahan. Menjabarkan doa – doa yang
terucap terkait pernikahan,“Semoga sakinah, mawaddah dan rahmah.”
Masih
jelas saya ingat saat membaca buku Sayap – Sayap Sakinah, saya masih berstatus
single dan jomblo. Tidak punya calon pasangan dan bahkan calon suami. Membaca
buku Sayap – Sayap Sakinah saat itu, bukannya membuat saya jadi galau maksimal,
melainkan menumbuhkan keyakinan untuk sibuk memperbaiki diri dan belajar lebih
banyak tentang pernikahan dalam Islam, sehingga kelak ketika jodoh datang dan
saya dipinang, maka bekal yang saya sediakan sudah cukup.
Namun
ternyata saya salah. Membaca buku Sayap – Sayap Mawaddah membuat saya menemukan
bahwa semakin banyak saya membaca, maka semakin saya tahu bahwa sangat sedikit
ilmu yang saya miliki. Buku ini membuat saya memahami apa yang tidak pernah
saya ketahui apalagi pahami tentang “mawaddah”. 
Melalui buku ini saya memperoleh pemahaman bahwa “mawaddah adalah semacam perasaan
cinta yang bersifat fisik, passionate (gairah), sebagaimana yang terjadi antara
dua orang yang berlawanan jenis.”
(Hal. 24)
Bahwa
mawaddah mengarah kepada perasaan
sayang yang diikuti oleh nafsu seksual. Namun tidak semua nafsu seksual itu
tergolong mawaddah. Syarat utama ia disebut mawaddah jika ia diikat oleh
pernikahan. 
Pemahaman
ini membuat saya menyadari bahwa betapa Islam telah mengatur semua hal bagi
kebaikan manusia. Gairah manusia tidak dikungkung. Hanya diberi batasan. Diatur.
Namun tidak diharamkan/ dilarang. Bahkan mawaddah ini dalam Islam dianggap
sebagai hal penting bagi pernikahan. Subhanallah
betapa Allah telah mengatur semua hal bagi manusia.
Dan
seperti sebelumnya, penuturan Afifah Afra dan Riawani Elyta mudah dipahami. Mengalir
dengan baik. Dan didukung oleh sejumlah fakta ilmiah. Ini membuat pembahasan
ini menjadi informasi yang akhirnya menjadi pengetahuan. Namun di saat yang
sama diketengahkan bahwa hubungan seksual itu bukanlah hal haram dalam Islam. Ia bagian dari
syariat dan telah diatur dengan sangat baik. Ketika aturan itu dipahami dan
diaplikasikan maka kebahagian akan menanti.
Selain
itu, dalam buku Sayap – Sayap Mawaddah ini, pembaca tidak hanya disuguhi
pendapat para ulama terkait penikahan khususnya tentang mawaddah, namun juga berisi fakta – fakta, penelitian yang terkait,
hingga kisah – kisah para orang saleh dalam menjalani mawaddah ini.
Salah
satu kisah favorit saya adalah tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang
ditulis di halaman 37. Kalimat pamungkasnya sungguh indah,”Cinta itu tetap ada di dalam
hatiku, bahkan jauh lebih kuat daripada yang dahulu – dahulu.”
Bagi para pecinta kisah beliau mungkin
dianggap “sad ending”, namun bagi orang – orang yang paham, kisah beliau adalah
sebuah bentuk ketaatan yang sangat besar kepada Rabb Semesta Alam.
Selain
itu, Riawani Elyta banyak menuliskan tips terkait cara membangun kecintaan pada
pasangan. Sehingga tercipta mawaddah. Riawani Elyta juga mengetengahkan tips tajammul. Tajammul berarti memelihara tubuh dan memelihara kecantikan
alaminya serta menjauhkan dari hal – hal yang mengotori atau merusaknya. (Hal.
112)
Jadi,
pada intinya, buku Sayap – Sayap Mawaddah ini menjadi rujukan yang membahas
dengan lengkap dan padat hal – hal terkait mawaddah
dalam pernikahan. Mulai dari definisi, penjabaran konsep, ilmu tentang
seksologi (Yang dibahas dengan bahasa yang ringan namun tetap ilmiah dan santun
oleh Ahmad Supriyanto), berbagai tips untuk menciptakan mawaddah serta berisi kisah – kisah nyata yang bisa menjadi
inspirasi bagi pembaca.
Dan
sejujurnya sekali lagi, buku Sayap – Sayap Mawaddah datang di saat yang tepat
seperti halnya buku Sayap – Sayap Sakinah. Saya yang baru saja menikah 5 bulan
lalu, membutuhkan semua ilmu yang bisa saya serap di buku ini. Saya bahkan
membagi informasi yang saya dapatkan kepada suami saya. Kami membaca beberapa
bagian bersama – sama dan mendiskusikannya. Dan sejujurnya kami merasakan
banyak manfaat darinya.