“…,
pernikahan itu ibarat kematian. Kita tak bisa memprediksi, hanya bisa
mempersiapkan” (hal.36)

Penulis: Afifah Afrah & Riawani Elyta
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva Press
Cetakan: Pertama, Ramadhan 1435 H./ Juli 2014
Jumlah hal.: 248 halaman
ISBN: 978-602-1614-22-8

***

“Pernikahan
bukan hanya sekedar penyatuan dua jiwa. Tapi juga penyatuan dua keluarga, dua
tradisi, dua dunia.” (hal. 217)

Saat menyadari
bahwa buku ini bukanlah novel saya sempat berfikir, “Apakah saya bisa
menikmatinya?” Apalagi sejujurnya saya kadang merasa digurui oleh buku-buku
Islami populer. Bahasan tentang pernikahan pun jarang menjadi pilihan saya.
Mungkin karena saya menolak untuk galau. Baca buku tentang pernikahan
terkadang  membuat harapan untuk segera
menikah jadi membuncah. Padahal kenyataannya, calon pun masih rahasia ilahi.
Ternyata dugaan
saya meleset. Buku ini bahasanya mengalir bahkan terasa indah. Ada sisi humor
yang diselipkan. Ada juga penjelasan logis untuk berbagai argumen. Realistis.
Buku Sayap-Sayap
Sakinah membahas pernikahan dengan sasaran pembaca yang cukup luas. Mulai dari
mereka yang masih lajang dan belum punya calon, mereka yang sedang
mempersiapkan hari besarnya, hingga mereka yang sudah menikah. 

Buku ini
menjabarkan pandangan kedua penulis, Mbak Afifah Afra dan Riawani Elyta,
tentang pernikahan. Mereka mengetengahkan berbagai contoh tentang kehidupan
pernikahan. Baik yang mereka alami sendiri maupun yang dialami oleh orang-orang
di sekitar mereka. Secara khusus, mereka mengetengahkan tentang bagaimana Islam
mengatur tentang pernikahan ini.
Saya jatuh cinta
sejak pertama kali membaca prolognya. Sajak pembukanya saja sudah mempesona.
Afifah Afra menulis:

Suamiku,
Aku mengizinkanmu
untuk menikah
Hingga
empat kali
Pertama
menikahiku
Lalu
menikahiku
Menikahiku
Dan
terakhir, menikahiku

Pembuka yang
manis. Namun juga jelas mewakili perasaan banyak perempuan. Namun di saat yang
sama menyiratkan tentang kesadaran bahwa memang Islam menghalalkan seorang
laki-laki menikahi 4 perempuan.
Salah satu
bahasan yang paling membuat saya terkesan adalah chapter Oh, Mitsaaqon Gholiidzo. Di bagian ini,
Afifah Afra menjabarkan tentang betapa hebatnya “akad nikah”. Bahwa frase Mitsaaqon
Gholiidzo
ini maknanya sangat besar dan sakral. Sebab frase tersebut di
dalam Al-Quran juga dipakai saat menyebutkan tentang sumpah setia dari Bani
Israil yang saat janji mereka diambil, telah siap dihukum oleh Allah dengan
ditimpakan sebuah gunung di atas kepala mereka. Hal ini seperti yang disebutkan
dalam surat An-Nisa ayat 154. Selain itu istilah Mitsaaqon Gholiidzo juga
digunakan saat membahas tentang perjanjian yang diambil dari 5 Rasul. Hal ini
tercantum di surat al-Ahzab ayat 7. Ini membuat saya semakin menyadari tentang
besarnya pernikahan di sisi-Nya.
Ada pula chapter Sepasang Sendal Menuju Surga.
Saya suka bagian ini karena dengan jelas menyampaikan bahwa pasangan
suami-istri itu seharusnya setara. Sama-sama meng-upgrade diri. Sama-sama terus belajar. Sama-sama punya tanggung
jawab dalam membesarkan anak dan mengurus rumah. Bahasa yang dipakai dalam
bagian ini seperti sebuah catatan personal. Sehingga rasanya saya membaca isi
hati yang coba disampaikan penulis kepada pasangannya. 
Bahasan-bahasan
lain dalam buku ini juga menarik diikuti. Kedua penulis menceritakan tentang
betapa indahnya malam pertama dan masa bergelimang madu (honey moon) dengan gaya bahasa yang indah, sopan, dan juga logis. 
Di sisi lain,
penulis juga mencoba berbagi pendapat mereka tentang “pacaran”, tentang
keyakinan bahwa calon suami sudah pasti akan menjadi suami. Mereka mengingatkan
pembaca untuk tidak membiarkan keyakinan semacam itu membesar menjadi
kesombongan. Tetap menyerahkan segala hal pada ketentuan-Nya. Sebab ada kasus
nyata dimana undangan sudah disebar, gedung dan catering sudah dipesan, namun karena kehendak-Nya pernikahan tidak
bisa dilangsungkan.
Penulis juga
mengingatkan kepada pembaca yang sudah melangsungkan pernikahan dan tengah
mengarungi bahtera rumah tangga agar tetap memperhatikan arah bahteranya.
Mengingatkan agar mereka menjaga pergaulan agal tidak jatuh dalam kondisi yang
bisa mengarah perselingkuhan. Mereka juga memberi tips agar pernikahan tidak
mengalami empty love, serta memberi
saran bagaimana sebaiknya kondisi empty
love
ini dihadapi jika sudah terlanjur terjadi.
Buku ini sungguh
paket lengkap. Bisa menjadi bacaan yang mempersiapkan para lajang untuk memilh
pendamping hidup dan juga mempersiapkan diri hingga pernikahan dilangsungkan. Buku
ini juga menjadi pengingat bagi mereka yang sedang mempersiapkan pernikahan. Mengingatkan
bahwa walimah itu hanyalah cover dari
buku tebal pernikahan. Tak perlu megah, seharusnya esensi pernikahannyalah yang
di”megah”kan. Buku ini juga menjadi pegangan yang enak dibaca bagi pasangan suami-istri
agar bisa terus menjaga kelangsungan pernikahan mereka. Agar sakinah mawaddah warahmah benar-benar
melingkupi pernikahan mereka.
Buku ini bisa
jadi bekal bagi pembaca khususnya diri saya pribadi dalam mempersiapkan diri
menjalani kehidupan pernikahan. Baca buku ini tidak bikin galau. Tapi
sajak-sajak Mbak Afifah Afra yang bikin saya melting (>_<)