“Sepanjang hidupnya–setidaknya,
sepanjang hidup yang bisa dia ingat– yang dia inginkan hanyalah kebebasan. Dan kini,
untuk pertama kalinya, dia mendapatkannya, serapuh apa pun itu. Tidak ada orang
yang mengatur-aturnya. Tidak ada yang menghakimi atau mengkritiknya.” (Hal.
188)


Penulis:
Marissa Meyer
Penerjemah:
Dewi Sunarni
Penyunting:
Selsa Chintya
Proofreader:
Titish A.K
Design
cover: @hanheebin
Penerbit:
Spring
Cetakan:
Pertama, Februari 2016
Jumhal
hal.: 444 halaman
ISBN:
978-602-71505-6-0
Nenek Scarlet Benoit, Michelle Benoit,
menghilang tanpa jejak. Bahkan kepolisian berhenti mencarinya dan menganggap
wanita itu melarikan diri atau bunuh diri.
Marah dengan keputusan dari pihak
kepolisian, Scarlet membulatkan tekad untuk mencari neneknya bersama dengan
seorang pemuda petarung jalanan bernama Wolf, yang kelihatannya menyimpan
informasi tentang hilangnya nenek Scarlet.
Apakah benar Wolf bisa dipercaya?
Rahasia apa yang disimpan Michelle Benoit sampai dia harus menghilang?
Di belahan bumi yang lain, status
Cinder berubah dari mekanik ternama menjadi buronan yang paling diinginkan di
seluruh Persemakmuran Timur. Dapatkah Cinder sekali lagi menyelamatkan Kai dan
bumi dari Levana?
***
Novel Scarlet ini adalah buku kedua dari seri The Lunar Chronicles yang ditulis oleh Marissa Meyer. Sama seperti
novel sebelumnya, Cinder (baca
ulasannya di: ), yang mengambil tema dongeng yang kemudian dikolaborasikan
dengan imajinasi penulis tentang dunia di masa depan, Scarlet sama memikatnya
dengan Cinder.
Jika dalam Cinder, kita mencicipi
“rasa baru” dongeng Cinderella yan melibatkan ibu tiri, dua saudari tiri dan
pangeran; maka di Scarlet kita akan mengidentifikasi kekhasan dongeng Si Tudung
Merah dengan icon berupa gadis
bertudung merah dan serigala (wolf).
Maka jangan heran jika di dalam novel ini berkali-kali kita membaca tentang
tudung merah yang dipakai Scarlet serta Wolf, pendamping Scarlet dalam mencari
neneknya.
Cerita dibuka dengan kekalutan
tokoh Scarlet atas hilangnya sang nenek. Neneknya menghilang dengan
meninggalkan chip identitasnya.
Scarlet yakin sang nenek tidak melarikan diri ataupun bunuh diri. Ia yakin
neneknya diculik. Tapi apa alasannya? Selama ini mereka hidup tenang. Kemudian
kedatangan ayah Scarlet yang tidak membuat gadis itu nyaman sama sekali,
membawa sebuah clue. Membuat Scarlet
mendatangi Wolf, seorang petarung jalanan, yang ia yakini punya hubungan dengan
para penculik neneknya. Namun Wolf meyakinkan Scarlet bahwa ia tidak tahu
apapun. Wolf pun kemudian menawarkan diri untuk menemani Scarlet mencari
neneknya. Tawaran yang akhirnya diterima Scarlet. Namun benarkah pilihan
Scarlet memercayai Wolf?
Di sisi lain ada pula cerita
pelarian Cinder, gadis cyborg yang
ternyata merupakan Putri Selena yang selama ini ditakuti kehadirannya oleh Ratu
Levana. Gadis ini melarikan diri dari penjara dan pelariannya ini mengikut
sertakan Thorne, seorang narapidana yang ternyata sangat bermanfaat bagi
Cinder. Thorne adalah pencuri ulang. Ia mencuri sebuah kapal kargo milik
pemerintah Republik Amerika. Thorne dan pesawatnya pun menjadi pendukung bagi pencarian
Cinder pada masa lalunya.
Bagaimana nasib kedua gadis ini?
Akankah mereka bisa mencapai tujuan masing-masing? Dan kelak jika tadir mereka
beririsan, akan seperti apa?

***
Novel Scarlet ini adalah sebuah
bacaan yang penuh “bonus”. Kenapa? Kita akan mendapatkan dua kisah sekaligus
saat membacanya. Kisah tokoh Scarlet dan kisah Cinder. Meskipun cerita dari
sisi Scarlet cukup banyak, namun kisah Cinder pun tidak kalah menegangkannya.
Membuat pembaca akan terus bertanya-tanya, “setelah ini bagaimana?”
Dan ide penulis tentang sosok Wolf
ini cukup kreatif. Ia adalah tokoh yang berdiri sendiri dan menjadi benang
merah bagi banyak tokoh lainnya. Pun benang merah yang kelak mengikat dan
membuat kehidupan tokoh Scarlet dan tokoh Cinder saling terhubung.
Bagian favorit saya adalah
bab-bab terakhir novel ini. Ketegangan yang ditampilkan membuat saya tidak bisa
melepaskan buku ini hingga selesai. Dan saat novel ini berakhir, rasanya saya
ingin langsung meneror Penerbit Spring agar segera menerbitkan Cress,
buku ketiga novel ini. Sambil berpikir, selanjutnya dongeng apa?
Seri The Lunar Chronicles ini
akan menjadi salah satu seri yang novel fantasi favorit pilihan saya. Padahal
fantasi bukanlah salah satu genre
favorit saya.