Bagi mereka yang
percaya bahwa tidak ada hal yang kebetulan di dunia melainkan semua akan
memberi konsekuensi pada hal lainnya, maka sebuah nama tidak mungkin menjadi
sepele. Karena keyakinan ini, bahkan sebuah daun yang jatuh dari pohonnya pun
atas sepengetahuanNya dan pasti akan mempengaruhi hal lainnya. 
Lantas, apakah
sebuah nama yang terlintas di kepala orang tua saat berniat memberi kita nama
adalah sebuah kebetulan yang tanpa arti? Bagiku tidak. Karena aku percaya bahwa
ada sebuah alasan hingga Sang Maha Tahu mengilhamkan hal itu ke benak orang
tua. Keyakinan ini yang membuatku terus mencari arti namaku. Butuh 24 tahun
hingga berhasil menemukan makna nama “Atria Dewi Sartika” yang diberikan oleh
orang tuaku. Nama ini jelas jauh dari kesan islami, namun saat menyadari makna
sesungguhnya nama ini, seketika sebuah beban berat mendadak terpanggul di
pundakku.
Menurut cerita
papa, awalnya namaku hanya Sartika. Terinspirasi oleh tokoh “Dokter Sartika”
yang dulu diperankan oleh Dewi Yul. Film ini cukup disukai saat itu. Lantas
mama ingat bahwa Indonesia punya pahlawan perempuan bernama Dewi Sartika,
akhirnya menambahkan kata Dewi di depannya. 
Menariknya adalah penambahan “Atria” yang ternyata tidak diketahui
maknanya oleh mama. Dari cerita beliau aku mengatahu bahwa dulu ada sandoq’ (sebutan untuk orang pintar
dalam suku Mandar di Sulawesi Barat) bahwa nama ini bagus untuk anak. Namun
mama tidak tahu apa maknanya. Mama lebih tertarik karena ada “tri” dalam kata
“Atria” yang bisa menjadi penanda bahwa aku ini adalah anak ketiga.

Sumber di Sini
Sejak SD aku sering
sedih saat kakak dan adik dipuji dan dido’akan agar menjadi seperti namanya.
Namun saat membicarakan namaku? Orang hanya tersenyum dan mengusap kepalaku
seraya berakata, “Kamu pasti anak ketiga ya?”. Hanya sebatas itu. Tidak ada
cerita bahwa “Wah, orangnya sesuai dengan namanya.”
Hingga akhirnya
saat tinggal di Bandung, aku mendapat hadiah ulang tahun lebih cepat. Sebuah
hadiah yang mengakhiri pencarianku selama 24 tahun. Saat sampai di Bandung, aku
sering dituduh sebagai orang Sunda. Wajahku yang kata orang mirip orang Jawa
serta nama Dewi Sartika yang kusandang membuat banyak orang tidak menyangka
saat aku menjawab,”Mandar,” sebagai sukuku. Ditambah lagi belum banyak yang
tahu tentang suku Mandar yang ada di Sulawesi Barat ini. Jadilah sering kali
aku harus bersabar menghadapi rentetan pertanyaan panjang tentang kenapa wajah
saya malah lebih mirip Jawa? Mandar itu dimana? Dan sebagainya.
Selama di
Bandung, aku berusaha mencari banyak informasi tentang Dewi Sartika. Sayangnya,
tahun pertama belum membuahkan hasil. Mungkin karena belum bertanya pada orang
yang tepat. Hingga akhirnya aku bertemua sebuah komunitas yang menggandrungi
sejarah Bandung. Di moment inilah informasi itu bertubi-tubi datang padaku. Aku
menjadi lebih banyak tahu tentang sosok Dewi Sartika.

Sumber: langitperempuan.com

 Dewi Sartika
adalah pejuang perempuan. Ia sejak usia 16 tahun sudah membuka sekolah di
belakang rumah ibunya. Ia mengajari perempuan pribumi tanpa memandang status
sosial. Ia ikut memerangi prostitusi dan menolak poligami. Ia memperjuangkan
hak-hak perempuan dalam mendapatkan pendidikan serta mendapatkan upah kerja
yang layak. Dewi Sartika adalah perempuan yang teguh pendirian, ulet, dan
pejuang yang konsisten. Ia bahkan berhasil menghadapi tentangan kaum menak (kaum
ningrat) yang menentang sekolahnya. Ini karena Dewi Sartika yang juga keturunan
menak malah mengajarkan keterampilan baca tulis dan tata krama yang saat itu
hanya diajarkan pada kaum menak saja. Padahal gadis-gadis yang bersekolah di
sekolah “Kautamaan Istri” milik Dewi Sartika berasal dari berbagai golongan.
Bahkan anak abdi dalam, orang pasar, serta orang dari daerah lain pun ikut
diajar oleh Dewi Sartika.

Mengetahui sepak
terjang Dewi Sartika, terbersit rasa malu di hati ini. Di usia 16 tahun aku
masihlah remaja yang digalaukan oleh hal-hal sepele. Seperti ketertarikan pada
lawan jenis, pertengkaran dengan sahabat bahkan kebingungan karena ingin beli
buku tapi uang jajan tidak memadai. Sedangkan Dewi Sartika? Ia sudah
menghibahkan dirinya untuk bangsanya. Mengukuhkan tonggak awal perjuangan bagi
pendidikan kaum perempuan.
Sosok ini
kemudian menjadi inspirasi besar bagiku. Ia menjadi contoh perempuan produktif.
Contoh perempuan yang teguh memegang prinsip. Perempuan yang sibuk bergerak
bukan terkungkung oleh keadaan apalagi sibuk berdebat di tataran konsep.
Kemudian pada
bulan Agustus 2013 aku menemukan hal menarik. Seseorang memberiku informasi
bahwa Atria adalah nama bintang paling terang di konstelasi sirkumpolar selatan
yang membentuk rasi Trianguli Austrialis.
Sirkumpolar ini adalah sirkum polar yang ada sepanjang tahun. Menyadarinya, aku
semakin merasa bahwa nama yang diberi orang tuaku adalah nama yang berisi
sebuah do’a hebat.

Aku merasa bahwa
dengan nama ini orang tuaku tanpa sadar mendo’akanku menjadi sosok yang mampu
“menerangi” sekitar. Entah dengan pengetahuanku, akhlakku, ataupun hal lain
yang diberikan Allah padaku. Ditambah lagi dengan kusandangnya nama “Dewi
Sartika” maka aku merasa bahwa orang tua-ku ingin aku melakukan sesuatu untuk
dunia pendidikan serta untuk kaumku, kaum perempuan.
Karena merasa
harus mampu mempertanggungjawabkan nama yang digugahkan Allah pada kedua orang
tuaku, aku pun mencoba menghibahkan diri seperti Dewi Sartika menghibahkan diri
untuk negeri ini. Dewi Sartika tidak pernah sedikit pun resah saat jodohnya
datang terlambat karena kesibukannya merintis sekolah untuk perempuan pribumi.
Dewi Sartika bisa bersikap tegas sekaligus bijak menyikapi keluarganya saat ia
akan dijodohkan. Saat itu Dewi Sartika menyampaikan bahwa sangat penting adanya
rasa cinta atau minimal ketertarikan pada sosok yang akan menjadi suaminya. Ia
tidak ingin menikah demi melanggengkan keningratannya. Ia ingin menikah dengan
laki-laki yang mampu menerima dirinya dengan tulus. Dan beruntungnya Dewi Sartika
karena bisa menikah dengan Raden Agah yang juga peduli pada pendidikan.
Dewi Sartika
mendapat dukungan penuh dari sang suami untuk mengembangkan sekolah yang
dibangunnya. Bahkan tidak jarang, Raden Agah memberikan banyak pendapat dan
saran atas rencana Dewi Sartika dalam mengelola sekolahnya. Raden Agah selalu
mengingatkan Dewi Sartika agar menghindari intervensi asing (Belanda) atas
sekolah pribumi yang ia khususkan untuk perempuan itu.
Dari buku-buku
tentang Dewi Sartika yang saya baca –yang jumlahnya jauh lebih sedikit
dibandingkan jumlah buku yang membahas tentang Kartini- membuatku semakin
bertekad untuk menjadi sosok perempuan yang sehebat Dewi Sartika jika memang
tidak mampu melampauinya. Karenanya aku semakin fokus belajar menulis. Mengapa?
Karena bagiku, cara yang aku mampu dalam membuat perubahan adalah dengan
memperluas pengetahuan serta membaginya. Cara termudah membagi pengetahuan
adalah dengan menuliskannya.
Selain itu, aku
pun menjadi berani untuk melakukan sesuatu. Salah satunya dengan membuat sebuah
rumah baca di kampung halamanku bersama papaku tersayang. Rumah baca itu kami
nama “Sapo Tomanarang” yang artinya rumah orang pintar. Rumah baca ini bagiku
adalah sebuah langkah awal dalam meneladani sosok Dewi Sartika. Rumah baca ini
berisi sumbangan buku-buku milik pribadiku dan ditambah sejumlah sumbangan dari
teman-teman lain. Harapanku, rumah baca ini bisa menjadi sarana untuk
meningkatkan kecintaan anak-anak dan remaja di kampung halamanku pada buku.
Selain itu, aku tengah mengusahakan agar di Sapo Tomanarang akan ada
kelas-kelas reguler yang mengajarkan anak-anak baca-tulis, bahasa inggris,
hingga kemampuan untuk membuat barang dari berbagai bahan yang mudah ditemukan
di Majene.
Idealis? Jelas.
Namun bukankah Dewi Sartika pun melakukan hal yang sangat idealis di zamannya.
Dewi Sartika jelas berfikir dan bertindak melampaui zamannya. Dan semua ia
lakukan dengan penuh keyakinan.
Maka kini di usiaku
yang menjelang 25 tahun, aku terus membenahi diri. Agar kelak aku merasa pantas
menyandang nama ini. Nama yang menjadi do’a agar aku menjadi sosok yang
cemerlang serta bermanfaat bagi sekitar seperti yang telah dilakukan oleh Dewi
Sartika. Sebab aku, Atria Dewi Sartika.