“Semua
orang itu pada dasarnya baik. Kadang, keadanlah yang membuat mereka terlihat
jahat di mata orang lain. Tapi kita bisa tahu bahwa mereka baik jika kita sudah
dekat dengan mereka. Lihat teh ini, siapa sangka air keruh ini bisa membawa
kebaikan untuk tubuh kita? Kalau kita tidak tahu dan kenal bahwa ini adalah
teh, kita tidak akan pernah tahu bahwa ini baik,” (hal. 56)

Penulis: Nicky Rosadi, Dian Agustina, & Rohmadi
Editor: Afrianty P. Padede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: viii + 236 halaman
ISBN: 978-602-02-4144-9
***
Bagi pengunjung
tetap My Little Library ini, mungkin menyadari bahwa di beberapa postingan saya
menyampaikan ketertarikan saya pada buku-buku yang mengandung unsur kafe, kopi,
teh, dan cokelat. Maka wajar jika saya menyimpan rasa penasaran pada buku ini
karena judul dan covernya. Di sampul buku ini terdapat label Elex’s Novelette
Dalam buku ini
ada 3 cerita yang masing-masing akan coba saya buat  reviewnya.

Kiara
Cerita pertama
ini ditulis oleh Nicky Rosadi. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama,
kita diajak menyelami kehidupan Regi yang harus kehilangan kekasihnya yang meninggal
dalam sebuah kecelakaan. Dalam prosesnya ia mengalami kesulitan untuk melupakan
Fara, kekasihnya yang meninggal tersebut. Hingga suatu hari ia bertemu Kiara.
Kiara adalah adik kelasnya yang terkenal sebagai biang onar dan kriminal. Namun
saat mendapat kesempatan mengenal Kiara lebih dekat, Regi malah melihat
kebaikan dan kerapuhan gadis itu.
Hm.. yang kurang
dari cerita ini adalah emosinya. Konflik cerita sudah menarik. Awal cerita pun
sudah terbangun dengan baik. Namun semakin ke belakang, emosi pembaca kurang
dimainkan dalam cerita. Selain itu, perasaan Regi yang berubah dengna cepat
tidak didukung oleh eksplorasi kejadian yang bisa menguatkan emosi Regi pada
Kiara. Selain itu, tokoh Regi bagi saya sangat lembek sebagai laki-laki, tapi
di waktu yang sama kok bisa cepat main tangan dengan menampar Tera ya? Tokoh Regi
ini jadi terasa kurang konsisten dalam pengkarakterannya.
Oiya, karya ini
juga terlalu terkesan ingin berfilosofi, jadi lebih mirip upaya menceramahi. Soalnya
penjabaran tentang filosofi teh di halaman 31-33 terlalu panjang dan malah jadi
membosankan. . (>_<) *maaf karena saya kebanyakan protes*
Anugerah Secangkir Teh
Karya kali ini
ditulis oleh Dian Agustina. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga,
penulis mencoba menceritakan kehidupan tokoh Intan. Tokoh Intan yang suka minum
teh tapi sering menyisakan ¾ tehnya. Tentang tokoh Intan yang marah pada Reza. Tentang
tokoh Intan hubungannya dengan sahabat-sahabatnya.
Tema yang
diangkat sangat sesuai dengan dunia remaja. Sayangnya, cara berceritanya masih
banyak menyebutkan bukan menjabarkan dan menggambarkan. Hubungan keluarganya
hanya disebut harmonis. Hubungan denga temannya disebut tulus, akrab,
menyenangkan, dan lain-lain. Tapi interaksi yang dijabarkan kurang mempengaruhi
emosi pembaca.
Selain itu ada
inkonsistensi dalam sudut pandang. Penulis menggunakan sudut pandang orang
ketiga. Namun ada sebuah narasi yang 
menggunakan kata “aku” seolah penulis menggunakan sudut pandang orang
pertama.
Sebuah Kata di Atas Cinta
Tulisan ini
adalah karya Rohmadi. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, Rohmadi
menyajikan lakon kehidupan seorang murid SMA bernama, “Soleh”. Tentang kegiatan
keorganisasian yang ia ikuti. Diceritakan tentang pengalaman pertama Soleh
menjadi panitia acara sekolah. Ego Soleh membuatnya menghadapi banyak kendala
dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai panitia.
Hm..cerita bagi
saya terkesan datar. Ini seperti membaca curhatan anak SMA yang bingung
mengerjakan tugasnya dalam kesempatan pertamanya menjadi panitia kegiatan. Ada pelajaran
hidup yang menarik untuk dipelajari oleh remaja dalam buku ini, tapi cara
berceritanya masih kurang menggugah emosi pembaca. Oiya, membaca ceritanya dan membaca
kembali judulnya terasa kurang sesuia. Cinta yang dijabarkan di sini pun kurang
jelas apakah kepada alam, Tuhan, Mumu, atau teman?
Secara
keseluruhan ada yang ingin saya kritisi tentang buku ini. Yaitu terlalu banyak
Typo. Ini mengganggu kenikmatan membaca. Saya sampai tergoda membaca cepat buku
ini agar bisa segera selesai (>_<). Oiya, bahasa yang dipakai juga kadang
terlalu indah dan bikin saya merasa cukup lelah membacanya.
Semoga
kedepannya karya-karya penulis bisa lebih baik lagi. Semangat ya (^_^)9
“Percaya,
kalau… Dalam sayang, menyerah itu pantang. Dalam cinta, masalah itu biasa. Dan
rasa sayang sama cinta yang ada di dalam dua hati, bahagia itu pasi…” (hal.
81)