Sudah lama
rasanya saya tidak membuat curhatan pribadi di blog ini. Dari niat awal membuat
blog untuk menuliskan resensi buku dan cerita jalan-jalan yang sempat beberapa
kali saya lakukan, blog ini berhasil mencapai usia yang jauh lebih panjang dari
blog-blog lain yang sebelumnya saya buat. Dengan tulisan yang lebih sering di
update tentu saja. Nasib blog-blog lain yang saya buat dengan semangat
menggebu-gebu untuk menuliskan buah pikiran saya kini benar-benar lapuk dimakan
waktu. Seingat saya, blog pertama saya buat saat saya masih duduk di bangku SMA
kelas 1. Berbarengan dengan membuat akun Friendster yang baru booming di
Indonesia saat itu. Sayangnya sekarang saya sudah melupakan URL-nya.
Nasib blog-blog
ini mengingatkan saya pada nasib diary-diary yang saya tulis sejak SD. Semuanya
hanya berhasil terisi maksilam ¼ halaman. Bukan hal yang patut dibanggakan. Tapi
itu bisa menjadi salah satu penanda bagi awal kesukaan saya menulis. Seingat saya,
saat SD saya pernah memenuhi sebuah buku dengan puisi kanak-kanak saya tentang
hal-hal yang saya sukai atau hal-hal yang saya miliki. Sayangnya karena harus
pindah beberapa kali karena pekerjaan orang tua, buku itu pun hilang entah
kemana. Tertinggal di sofa rumah di Palopo, atau dibuang bersama
perkakas-perkakas yang sudah tidak layak untuk disumbang ke ibu-ibu yang sering
membantu mama saya di Palopo dulu.
Maka jika ada
yang bertanya, sejak kapan kamu suka menulis, maka saya mungkin akan menjawab
sejak saya kecil. Sejak saya bisa menulis. Sejak saya gemar merengek pada mama
untuk dibelikan buku tulis dengan sampul yang menawan yang kemudiGan saya
tulisi dengan kalimat pembuka “Dear, diary”.

Selain menulis,
saya pun memang sangat gemar membaca. Semua orang yang mengenal saya akan tahu
tentang kegilaan saya membaca. Seorang Atria itu sangat identik dengan buku.
Ajak dia ke mall maka tempat yang ia tuju adalah Gramedia. Suruh dia menunggu
dengan sebuah buku di tangannya maka kamu akan menemukan dia tidak beranjak
dari sana sama sekali. Dia sangat jarang bergaul, tapi gampang ditemukan. Cari
saja di perpustakaan atau ruang baca terdekat.
Banyak yang
mengira bahwa keluarga sayalah yang menumbuhkan kecintaan saya pada buku.
Sayangnya di rumah saya, hanya saya sendirilah yang sangat suka membaca. Hanya
saya yang rela menghabiskan semua “uang lebaran” yang saya kumpulkan dari
seluruh keluarga untuk membeli buku. Hanya saya yang lebih banyak menghabiskan
waktu berhadapan dengan buku dari pada televisi. Buku-buku yang ada di rumah
(selain buku pelajaran) 80% mungkin adalah milik saya yang saya beli dengan
mengencangkan ikat pinggang (mungkin ini adalah biang kerok kekurusan saya
(^_^)v)
Itulah sebabnya
bacaan saya berbeda dari orang lain. Sejak gemar membaca, saya sendirilah yang
memutuskan buku apa yang saya baca. Jadi jangan heran jika buku tentang Dajjal
dan segitiga bermuda saya baca saat SMP. Buku-buku Enid Blyton?? Saya baru
kenal saat duduk di kelas 1 SMA. Harry Potter sudah lebih dulu saya kenal
karena papa secara acak membelinya di Gramedia Balikpapan, sejak saat itu kami
tingga di kota Tarakan yang tidak memiliki toko buku yang besar. Toko buku di
Tarakan saat itu hanya menyuplai ATK dan buku-buku pelajaran saja.
Kondisi ini
membuat saya benar-benar sangat berbeda dengan anak-anak lain yang mendapat
dorongan membaca dari keluarganya. Sering kali orang-orang yang menemani saya
ke toko buku akan mengeluh, “Kok bacaan kamu berat begitu?” saat melihat saya
memegang sebuah novel dengan genre klasik seperti karangan Louisa May Alcott
atau Lucy M. Montegmary. Padahal kegilaan saya pada buku-buku itu adalah untuk
membayar ketidak tahuan saya pada “Buku-buku yang bagus di baca di usia pra
remaja”. Buku-buku meraka bagi banyak remaja atau sejumlah teman saya yang
sudah tergolong dewasa dianggap berat. Mungkin karena sampulnya, jenis
ceritanya, dan tebal bukunya. Entahlah. Tapi bagi mereka buku-buku itu
tergolong “berat” untuk dibaca. Padahal jika mereka mau membacanya dan
menemukan kesenangan darinya mereka akan menyesal tidak membacanya saat masih
berusia 12 tahun. (^_^)v
Tapi ya itulah
dinamika minat baca di Indonesia. Dulu saat saay SD teman-teman saya tidak
mengerti dengan kebiasaan saya yang setiap istirahat sekolah datang ke
perpustakaan untuk mengembalikan buku dan meminjam buku lain. Bagi mereka itu
sebuah keanehan. Bahkan hingga saya duduk di bangku kuliah pun saya tetap
dianggap aneh karena  kesukaan saya mojok
bersama buku. Entah sudah berapa banyak lingkungan yang saya masuki dan mereka
memberi saya julukan “Autis” (I really hate that’s words. Don’t use it as a
joke. It’s word have a deep meaning for someone else).
Dan kini
kegilaan saya membaca tidak berhenti tapi masuk ke tahap yang lebih parah. Saya
sangat mencintai membaca fiksi. Saya lebih mampu menikmati bacaan fiksi. Namun bukan
jenis fiksi berlabel teenlit (I’m
enough with that) tapi bacaan-bacaan yang menyimpan banyak nilai-nilai tentang
kehidupan seperti karya Mitch Albom atau karya-karya klasik yang sempat saya
sebutkan sebelumnya.
Kegilaan saya
pada buku ini sepertinya butuh penyaluran hingga menemukan sedikit medianya
dalam bentuk blog buku yang kini telah menjadi anggota BBI yakni www.atriadanbuku.blogspot.com
yang baru berusia beberapa bulan. Dan semoga baik blog ini maupun blog buku
tersebut bisa terus konsisten saya isi. Hitung-hitung melatih kebiasaan menulis
saya. (^_^)v
Ah, sekian dulu
nostalgianya. Menyenangkan rasanya memiliki blog. Isi kepala bisa ditumpahkan
dengan bebas selama tidak menyakiti atau menyinggung pihak-pihak tertentu.