Editor: Rahmat Jabaril
Perancang Sampul: Terra Brajaghosa
Kompugrafi: meja malam design
Penerbit: Resist Book
Cetakan: Pertama, Januari 2007
Jumlah. Hal: xxvi + 164 halaman
ISBN: 979-1097-34-8
Sebenarnya persoalan yang menjerat pendidikan
tidak hanya ongkosnya yang kian membumbung, melainkan juga kualitasnya yang
sungguh memprihatinkan. Tidak hanya kurikulum yang acap berganti, melainkan
metode pengajaran yang semata mengandalkan pada penghapalan atau sistem bank.
Alih-alin “membebaskan”, metode pendidikan macam itu malah membodohi murid,
menumpulkan daya kritis dan mengkerdilkan daya kreatif. Menjawab
persoalan-persoalan itu, sebuah metode pendidikan alternatif ditawarkan. Dalam
konsep itu, murid tidak hanya duduk tenang di balik meja dan dicekoki dengan
segala macam pelajaran yang membuat mereka menjadi dalam istilah Romo
Mangunbeo-beo hapalan, tapi langsung dihadapkan pada persoalan-persoalan yang
ada di lingkungan sekitarnya. Buku ini 
merupakan catatan-catatan kritis anak-anak, hasil dari penerapan metode
belajar mengajar yang mengedepankan konsep aksesibilitas tersebut.Persoalan di
lingkungn sekitar mereka yang diangkat adalah Observatorium Bosscha yang saat
ini nasibnya sama dengan para PKL, tengah menghadapi ancaman tergusur oleh
pembangunan yang kapitalistik.
Cara
penanggulangan agar Bosscha tetap ada adalah dengan cara: tidak membangun
gedung-gedung besar misalnya hotel, tidam membangun pabrik-pabrik dan agar
melarang kendaraan-kendaraan besar melintas di area Observatorium Bosscha.
Rahma
(SD Pelesiran II)
…Tidak
mengherankan apabila setingkat itu, anak-anak itu bisa melihat kerusakan
lingkungan yang selama ini ditutup-tutupi oleh Negara
Rahmat
Jabaril (Komunitas Taboo)
***
Ketika bercerita
tentang ilmu, maka sesungguhnya semua orang adalah guru dan semua tempat adalah
sekolah. Usia seseorang yang lebih muda tidak berarti tidak ada apapun yang
bisa kita pelajari darinya. Karena pada dasarnya cara seseorang memandang
sesuatu bisa saja unik. Apatah lagi anak-anak. Mereka memandang sesuatu
berdasarkan rasa ingin tahu dan kepolosan. Belum banyak perasaan skeptis dan
kecewa yang mereka kecap hingga mengkerdilkan optimisme mereka.
Hal inilah yang
akan ditemukan saat membaca buku Selamatkan
Bossha!
ini. Dalam buku ini kita disuguhi tentang bagaimana anak-anak
mengolah informasi yang mereka dapatkan kemudian mencoba mentransfernya menjadi
sebuah tulisan. Dengan gaya bahasa khas kanak-kanak mereka mencoba menceritakan
tentang apa yang mereka dapatkan dalam kunjungan mereka ke Observatorium
Bosscha. Tata bahasa yang berantakan tidak lantas membuat penuturan mereka
sulit dipahami. Sebaliknya menjadi sebuah kelucuan tersendiri.

Sejujurnya ada
rasa kagum yang terbesit. Anak-anak SD ini bisa membuat tulisan yang sebenarnya
cukup serius dan mengandung banyak informasi. Dari tulisannya ada beberapa
anak-anak yang mencari informasi lebih lengkap sehingga tulisannya menjadi
terasa cukup serius. Dengan itu terlihat bahwa ada kesungguhan di sana.
Kesungguhan untuk memberi informasi yang akan bermanfaat bagi yang belum
mengetahui.
Sebagian besar
tulisan menjabarkan tentang apa yang mereka lihat dan pelajari di Bosscha,
seperti tahun pembuatan Obs. Bosscha dan nama dan jenis-jenis teleskop yang ada
di tempat tersebut. Ada pula yang memberi informasi lengkap tentang
planet-planet yang ada di tata surya. Menariknya, Rayhan M siswa kelas V SD
Al-Azhar 24 Bandung menuliskan tentang bintang, nebula, supernova, dan black
hole. Ini jelas berbeda dengan saya saat SD, informasi semacam itu masih sangat
asing untuk saya.
Selain itu,
mencermati gaya penulisan mereka pun menjadi kesenangan tersendiri. Sebagian
besar mencoba membagi informasi tentang Bosscha serta cara menyelamatkan
Bosscha. Beberapa cara tersebut adalah dengan tidak membangun pemukiman atau
gedung-gedung besar di dekat Bosscha, ikut menjaga kelestarian hutan dan pohon
di lingkungan Bosscha. Ada pula ide yang meminta pemerintah agar membuat tour gratis ke Observatorium Bosscha
agar semakin banyak orang yang tahu pentingnya menjaga Bosscha. Ide ini tuliskan
oleh Diasy Fadillah Usman, siswi kelas V dari SD Muhammadiyah 7. Tulisan anak
ini pun cukup manis, ia mendeskripsikan dengan baik perjalanannya ke
Observatorium Bosscha. Ia membuka ceritanya dengan kalimat berikut:
“Shubuh menjelang. Suara adzan yang
terdengar menandakan bahwa sang fajar akan menampakkan dirinya. Hari ini aku
akan pergi mengikuti lomba menulis di Bosscha. Menjelang pagi hari aku pergi
dengan tasku sendiri dengan diantar pamanku. …”
(hal. 76)
Wah, sebuah
deskripsi yang menarik untuk anak seumurnya. Diksi anak-anak SD yang tulisannya
terangkum dalam buku ini memang sangat baik. 
Selain tulisan,
ada juga sejumlah gambar karya anak-anak SD yang mengikuti kunjungan yang sama.
Sayangnya karena berwarna hitam putih, 
gambar tersebut menjadi kurang menarik dilihat. Namun di luar
kekurangannya, saya ingin memberikan apresiasi atas editor dan semua pihak yang
menggagas terbitnya buku ini. Sebab selain menjadi pendorong bagi anak-anak
untuk berani menulis, juga ikut membantu mengkampanyekan upaya menyelamatkan
Bosscha.
Memang, saat ini
dibutuhkan lebih banyak lagi orang-orang yang peduli dan mau melakukan sesuatu
untuk menjaga Observatorium Bosscha. Seharusnya Bosscha menjadi kebanggaan
bangsa Indonesia dan mendapatkan perhatian yang besar. Bosscha tidak hanya
berfungsi sebagai observatorium tempat mengamati benda-benda langit. Di Bosscha
juga kita bisa belajar tentang sejarah Indonesia, ke-filantropi-an seorang KAR Bosscha –pendiri Obs.Bosscha-, serta
belajar tentang alam dengan beragamanya tumbuhan yang tumbuh di sekitar
Bosscha.
Yuk Selamatkan
Bosscha!  (^_^)