“Harta benda dan takhta bisa dicari,  namun sahabat sejati adalah anugerah.” (hal. Xviii)
Penulis: Andari Karina Anom & Tjut Riana Adhani
Editor: Mirna Yulistianti
Copy Editor: Rabiatul Adawiyah
Desain Cover: Suprianto
Setter: Fitri Yuniar
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Pertama, Juni 2014
Jumlah hal.: xviii + 173 halaman
ISBN: 978-602-03-0635-3
Karin dan Cutri, dua sahabat kategori jojoba
(jomblo-jomblo bahagia), sejak belasan tahun yang lalu sudah senang
ber-selfie-ria. Yup, beda tipis dengan Steve Jobs, agaknya mereka mampu
meramalkan teknologi masa depan. Sejak jaman dulu mereka tahu suatu saat selfie
akan menjadi kegiatan wajib bagi kaum narsis di seluruh dunia.

Ada-ada saja cerita mereka sejak SD hingga kini dewasa (baca: masa jompo). Jika
Karin senang, Cutri ikut bahagia, jika Cutri susah, mana mau Karin ikutan
sengsara. Mereka tak pernah saling menghakimi. Paling-paling hanya menjaksai.
Mereka memegang prinsip: best friends don’t judge each other. They judge other
people… together!

Kata Karin, friends are like mirrors. You can see yourself just by looking at
them. Begitupun persahabatan. Dengan banyaknya persamaan Karin dan Cutri,
mereka kadang-kadang merasa seperti “saudara kembar”— meskipun beda bapak, beda
ibu, dan beda saldo ATM. Dengan banyaknya persamaan di antara mereka, tak
berlebihan jika Karin bilang Cutri bukan hanya seorang sahabat. Dia adalah
semacam selfie: sebuah “potret diri” Karin dalam sosok orang lain.

***
“…
saya bilang Cutri bukan hanya seorang sahabat. Dia adalah semacam selfie:
sebuah “potret diri” saya dalam sosok orang lain.” (hal. Xiv)
Membaca  buku ini dari awal sampai akhir membuat
sebuah pikiran terbesit di kepala saya. “Ini saingan buku generasi 90 ya?”
pikir saya. Bagaimana tidak, dalam buku ini diangkat persahabatan dua orang
perempuan yang terjadi sejak mereka SD di tahun 1980. *Tahun itu saja orang tua
saya belum pacaran (>_<)*Tapi bukan berarti karena jadul maka menjadi
membosankan diikuti.
Gaya bahasa yang
dipakai sangat kasual. Cara bercerita mereka lebih terkesan lucu daripada
sekedar mengenang. Cara mereka menyajikan episode masa sekolah mereka,
menjomblo yang lama tidak terasa membosankan diikuti. Pengalaman mereka
bersahabat selama 34 tahun dirangkum dalam buku ini. persahabatan yang dimulai
sejak mereka masih unyu-unyu dengan muka polos (baca: masa SD) hingga kini
setelah jadi emak-emak (usia 40-an).

Cerita-cerita
yang dibagi menjadi empat bab ini, merangkum setiap episode persahabatan mereka
secara lengkap. Meskipun sayangnya kronologi waktunya agak terasa berantakan.
Tapi tidak begitu mempengaruhi kenikmatan membaca.
Membaca buku
ini, pembaca akan diajak menjelajahi trend-trend di masa SD mereka di era
80-an. Rasanya tidak jauh beda deh trend-nya dengan masa kecil generasi 90-an. Seperti
permainan lompat tali, bersepeda ke sekolah, bertukar kaset, serta tentang
jajanan di sekolah yang beragam dan lezat meski tidak ada izin POMnya. Yang beda
adalah tentang Koper President di halaman 16. Wah, udah gak kezaman saya mah.
Tapi kayaknya seru tuh. (>_<) 
Cerita kehidupan
Cutri dan Karin sebagai seorang jojoba (jomblo-jomblo bahagia) juga disajikan
dengan lucu. Mulai dari mengkambing hitamkan Bougenville, sampai merasa anti
untuk menonton film romance.
Tapi dari semua
cerita favorit saya adalah tentang pengalaman mereka dengan teman-teman sekelas
di SD Beji 6. Mulai dari edisi Beji Mencari Bakat, sampai Becakku sayang Becakku
Malang. Dinamika masa SD mereka benar-benar berhasil membuahkan senyuman. Saya
bahkan bertanya-tanya, apa tidak ada teman SD mereka yang komplain karena buku
ini? Atau mereka malah jadi makin heboh membahas masa SD mereka?
Ah, buku ini
benar-benar menghibur untuk dibaca selama menanti waktu berbuka puasa. Tapi
pembaca harus betah menahan tawa saat membacanya di tempat umum. Takut disangka
gila. Tenang saja, potensi untuk membatalkan puasa sangat minim kok.
Paling-paling hanya berujung ke senyum-senyum sendiri yang mudah-mudahan gak
bikin gigi kering (^_^)v