“… sometimes,
we need to stop blaming the past and start creating the future.” (hal. 175)
 
sampul buku dan halaman yang ditandatangani oleh Mbak Herlina P Dewi (edited by Fotorus App)

Penulis:
Herlina P Dewi

Editor:
Paul Agus Hariyanto
Proof
reader: Tikah Kumala
Desain
cover: Teguh Santosa
Layout
Isi: Deeje
Penerbit:
Stiletto Book
Cetakan:
I, November 2013
Jumlah
hal.: 242 halaman
ISBN:
978-602-7572-19-5
Sudah, jangan lagi
kamu menghakimiku. Jangan lagi kamu memperolokku. Percuma saja. Aku sudah tak
bisa merasakan apa-apa lagi, kecuali rasa kebas ini. Dan sekarang, biarlah
kehidupan memilihkan jalan untukku. Menjadi pelacur.”

Renata, seorang fashion editor dengan karier cemerlang di kantornya, harus
pasrah pada keadaan. Setelah berpisah dengan Panji, lelaki yang sudah dipacari
selama empat tahun karena perjodohan biadab itu, dia pergi ke semua tempat yang
pernah mereka singgahi untuk menelusuri jejak-jejak kebersamaan. Hidup menjadi
sangat membosankan baginya, karena hari-harinya kini hanya dihabiskan untuk
mengenang Panji. Dia pun lantas memilih menjadi pelacur, karena dengan profesi
barunya itu, dia kembali merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan, dan disanjung.

Namun, ia sadar, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan sebelum dia
benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Lantas, kehidupan
seperti apa yang sebenarnya ingin dijalaninya? Tanpa Panji? Bisakah?

***
Buku ini
bercerita tentang Renata yang karena patah hati, akhirnya hidupnya berantakan.
Saat patah hati, ia pun kehilangan semangat hidup dan berujung dengan
dipecatnya ia dari pekerjaan yang sangat ia cintai yakni sebagai fashion editor. Ia pun merasakan
kekosongan dalam hidupnya.
Selama
proses patah hati ini, Renata kemudian memilih pekerjaan sebagai pelacur.
Seolah ingin memperlihatkan kepada dunia kemarahannya. Tentang ia yang jatuh
dan hancur karena apa yang dilakukan dunia padanya. Dunia merenggut cintanya
dan pekerjaan yang ia cintai. Dan ia merasa bahwa pertemuannya dengan Dion,
membuka pintu untuknya menjadi pelacur. Ia merasa inilah pilihan yang diberikan
dunia. Lantas ia pun memutuskan untuk menjadi “pelacur elit”. Menjadi pelacur
membuatnya merasa dibutuhkan, diinginkan dan dicintai.
Tapi
sampai mana Renata bertahan memendam kemarahan dan sakit hati itu? Berapa lama
ia akan menjadi pelacur? Seumur hidupkah? Apakah dengan menjadi pelacur ia akan
bisa melupakan Panji?

“…. Kalau kita terus-terusan menyalahkan
masa lalu, kita justru akan terus hidup bersamanya, dam semakin sulit
melepaskan diri.” (hal. 175)
***
Aku ingin
melupakan semua kesunyian malam ini.
Itulah sebabnya
aku menulis,
agar aku
bisa mengubah senyuman menjadi rindu,
gelap
menjadi kenangan,
dan beku
menjadi cinta.
(Renata
Kumala – fashion editor novelist)
Kutipan di atas adalah pembuka dari
novel ini. Kalimat yang manis dan membuat saya mencoba meresapinya. Cerita di
dalam novel ini menggunaka sudut pandang orang ketiga. Dengan berpusat pada
kehidupan Renata serta sesekali cerita kehidupan Panji. Dengan menggunakan alur
maju-mundur, kita disuguhkan kisah masa kini yang terjadi karena alasan di masa
lalu.
Cerita
dimulai dengan mengambil suasana Renata yang sedang patah hati. Renata yang
masih belum bisa melepaskan Panji, akhirnya kembali dibayangi oleh cerita masa
lalu saat ia dan Panji menemui orang tua Panji. Setelah itu alur maju-mundur
ini terus dipakai oleh penulis untuk menjelaskan kehidupan cinta Panji dan
Renata di masa lalu.
Panji yang
akhirnya gagal membujuk orang tuanya agar mau menerima Renata ternyata malah
dijodohkan dan tidak bisa menolak hal itu. Renata akhirnya ditinggalkan dengan
hati yang hancur. Renata bahkan sempat datang ke pernikahan Panji dan Ayu.
Sepulang dari sana Renata malah dipecat dari kantor akibat sering mengabaikan
pekerjaannya sejak putus dari Panji.
Setelah
itu kita disuguhi pergelutan batin Renata yang marah terhadap dunia. Hingga akhirnya
bertemu Dion dan sejak itu menjadi pelacur. Ia pun kemudian berteman baik dengan Dion.
Sejujurnya
saya harus mengangkat jempol untuk cara Herlina P Dewi menggambarkan patah hati
Renata. Sangat real dan membuat saya bisa ikut merasakan kesedihan dan
kemarahan-kemarahan Renata. Penulis juga berhasil membangun penokohan yang
bagus. Buktinya, saya berhasil dibuat memendam kesal pada sosok Panji yang
ternyata anak mama. Tidak mampu mempertahankan Renata, dan malah memilih tunduk
pada perjodohan padahal dia adalah LAKI-LAKI DEWASA!! *wuih, huruf kapital
semua*
Cerita
kehidupan Renata menjadi menarik untuk diikuti selain itu menyajikan pemahaman
baru tentang dunia prostitusi. Bahwa yang menjadi pelacur tidak hanya karena
kekurangan materi, namun punya kebutuhan tertentu seperti ingin merasa
dicintai, serta alasan-alasan lain.
Namun,
sayangnya ending ceritanya kurang nendang. Argh..harus ya..harus yaaaaa 
*pengen nimpuk Renata.. ditimpuk balik sama mbak Herlina*
Covernya?
Hm..bagus dan menampilkan “kesenduan” tentang kerinduan dan luka hati Renata.
Sesuai dengan isi novel. Tapi rasanya kok saya agak ragu cover ini akan menarik
mata saat dipajang di toko buku. 
Jika harus
menyematkan bintang untuk buku ini, maka saya memberinya 3,5 bintang untuk alur
cerita yang menarik, karakter tokoh yang kuat, dan patah hati yang menggigit.
(^_^)v
***
Quote
“Buat
Renata, writing is healing.Dia bisa menumpahkan semua perasaanya lewat tulisan,
dan setelah itu, dia berharap semua beban hidupnya bisa terobati” (hal.219)
“…menulis
adalah sebuah aktivitas paling terpencil di dunia” (hal. 235)

***

 Review ini saya ikutkan dalam RC berikut: